194 Ha Lahan Pelang Hangus

KEBAKARAN: Lokasi kebakaran lahan di Desa Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan 194 hektare ludes. Petugas gabungan diterjunkan ke lokasi. AHMAD SOFI/PONTIANAKPOST

KETAPANG – Kebakaran lahan di Desa Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan, terus meluas. Memasuki hari keempat, lahan yang terbakar di kawasan ini sudah mencapai 194 hektare. Sementara petugas gabungan yang diterjunkan ke lokasi untuk memadamkan api baru mampu memadamkan sekitar 36 hektare.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi Ketapang, Rudi Windra Darisman, mengatakan kebakaran di Sungai Pelang cukup sulit untuk dipadamkan. Untuk mencegah agar kebakaran tidak semakin meluas lagi, ratusan personil gabungan dikerahkan ke lokasi kebakaran.

“Hingga saat ini sebanyak 194 hektare lahan gambut di Desa Pelang yangterbakar. Yang baru dipadamkan baru sekitar 36 hektare,” kata Rudi, kemarin (19/8).

Kawasan yang terbakar tersebut merupakan daerah gambut yang cukup dalam. Api tidak hanya membakar rumput di permukaan tanah, namun api sudah masuk ke dalam tanah, sehingga menyulitkan untuk dipadamkan. Meski baru empat hari terbakar, namun luas lahan yang terbakar sudah mencapai 194 hektare. Luasan lahan yang terbakar tersebut bisa saja bertambah, mengingat kondisi lahan yang kering membuat api mudah menjalar.

Dia merincikan, api pertama kali terlihat pada Kamis (15/8). Di hari pertama, api sudah menghanguskan 36 hektare. Di hari kedua api kembali melahap 45 hektare. Di hari ketiga, 52 hektare lahan kembali terbakar dan di hari keempat seluas 61 hektare lahan kembali terbakar. Hingga saat ini pihaknya masih terus melakukan upaya pemadaman. “Lahan berhasil dipadamkan mencapai 36 hektare. Personil gabungan yang terjun melakukan pemadaman sebanyak 280 orang,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini kendala pihaknya dalam melakukan upaya pemadaman yakni angin yang kencang serta kesulitan sumber air, ditambah kondisi kabut yang pekat akibat dari lahan gambut yang terbakar. “Tadi sempat diguyur hujan, tapi hanya sekitar lima menit, jadi api tidak benar-benar padam,” ungkapnya.

Wakil Bupati Ketapang, Suprapto, menyayangkan kebakaran lahan yang telah terjadi tersebut. Dia meminta agar lahan tidur yang ditumbuhi semak belukar yang menjadi langganan kebakaran agar diolah menjadi lahan produktif. “Tragedi kebakaran di sini sudah menjadi rutinitas setiap tahun. Kepala desa sudah selayaknya berfikir lahan yang luas ini jangan dibiarkan lagi menjadi belukar yang subur. Harusnya ditanami nanas atau apa saja yang bernilai jual sehingga tahun mendatang tidak ada lagi kebakaran,” pesannya.

Suprapto juga meminta kepada pejabat terkait untuk mengeduaksikan kepada masyarakat untuk meminimalisirkan terjadinya kebakaran. “Mari kita berkerjasama dengan baik, begitu juga aparat dan pemerintah yang ada di kecamatan seperti, Camat, Babinkamtibmas, kepolisian dan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta perusahaan perkebunan agar dapat mengedukasi masyarakatnya tentang bahaya karhutla. Sehingga dapat meminimalkan kecil terjadinya angka kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ketapang,” lanjutnya.

Pihaknya juga akan melakukan mobilisasi menggunakan alat berat dengan pembuatan kolam untuk mendapat sumber air. “Yang jadi masalah saat ini yaitu susahnya sumber air untul memadamkan lahan gambut yang terbakar. Selain itu saya juga meminta Dinas Kesehatan untuk menyiapak mobil ambulance dan posko kesehatan untuk mengatisipasi segela kemungkinan yang terjadi saat memadamkan api,” pungkasnya.

Menanggapi kebakaran lahan di Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan, anggota DPRD Ketapang, Antoni Salim, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Pasalnya, hampir setiap tahun di daerah tersebut selalu terjadi kebakaran. Parahnya lagi pembakaran lahan tersebut diduga sengaja dilakukan oleh warga untuk digunakan sebagai lahan pertanian.
“Sebenarnya negara harus bertanggung jawab dengan lahan ini, karena status lahan ini adalah huntan produksi (HP). Kawasan ini juga merupakan kawasan gambut dalam. Sesuai undang-undang tidak boleh dikelola masyarakat,” kata Antoni, kemarin (19/8).

Antoni yang juga aktif di badan pemadam kebakaran swasta ini juga menyayangkan langkah Pemerintah Pusat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalbar, termasuk di Ketapang. Pemerintah Pusat lebih memilih mengalokasikan dana untuk menerjunkan helikopter untuk memadamkan api.

“Pemerintah pusat jangan hanya kirim helikopter buat waterbooming. Coba kirim bantuan untuk pemdam swadaya. Peralatan pemadam lebih murah ongkosnya dari waterbooming,” jelasnya.

Namun demikian, meski tidak mendapatkan bantuan, pemadam swasta tetap berupaya sebisa mungkin memadamkan kebakaran yang terjadi. Dia juga mengaku ikut prihatin dengan polisi dan tentara yg tidak punya apa-apa untuk melaksanakan pemadaman. “Kami siapkan perlatan seadanya yang kami miliki untuk ikut memadamkan api. Kalau kami pemdam swadaya ini tidak turun, apa yang bisa dilakukan oleh polisi dan tentara yang tugasnya bukan pemadam,” tegasnya. (afi)

Read Previous

Janji Bangun Kembali SDN 19 Telayar

Read Next

Di Air Tarap Ada Satu Pria Nikahi Dua Wanita Sekaligus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *