24 Jam Belajar Sunnah Nabi

Assyifa S. Arum & Romy Hernadi // Kreator

Bagi penikmat komik digital di platform Webtoon, nama Assyifa S. Arum dan Romy Hernadi dikenal sebagai kreator Ngopi yuk, Dulu Gwe(n) Pernah, Nyu Generation, Senja terindah dan Bu n Cit. Selain aktif sebagai kreator komik digital, kini keduanya juga menerbitkan buku bertema Islami, yakni 24 Jam Belajar Sunnah Nabi berisikan hadis tentang kehidupan sehari-hari.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Sebelum resmi menjadi buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi, kisah-kisah berisikan hadis sehari-hari ini lebih dulu hadir di akun media sosial Instagram @kata_nabi sejak tahun 2015. Assyifa S. Arum mengatakan waktu itu niatnya supaya ia dan sang suami, Romy Hernadi tidak hanya membuat karya sekadar untuk mencari nafkah. Tetapi, juga untuk mencari amal.

“Tidak tahu bagaimana ceritanya, tiba-tiba yang mengikuti (follow) akun @kata_nabi lumayan banyak,” kata perempuan yang akrab disapa Sifa ini.

Melihat antusias dan respon positif masyarakat di akun @kata_nabi, Sifa dan suami mendapatkan tawaran dari beberapa penerbit yang tertarik menerbitkan kisah-kisah berisikan hadis sehari-hari dalam bentuk buku. Dari beberapa penerbit, Sifa dan Romy menjatuhkan pilihan ke salah satu penerbit yang menurut keduanya paling sesuai dengan @kata_nabi, yaitu penerbit WahyuQolbu.

Buku berjudul 24 Jam Belajar Sunnah Nabi mulai dikerjakan sekitar Maret 2017. Namun, lanjut ibu satu orang putra ini, karena proses pengerjaan buku yang cukup memakan waktu, buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi ini baru resmi diterbitkan sekitar Juni 2018. Saat ini, buku hasil karyanya dan sang suami baru menerbitkan edisi jilid pertama.

Sifa menuturkan buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi ini berisikan hadis yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi. Tidak lupa disertai dengan penjelasan ilmiahnya. Untuk referensi hadis yang ditampilkan di setiap ceritanya, Sifa mendapatkan dari hasil mencari di internet, kitab, dan buku-buku kumpulan hadis lainnya.

Bukan tanpa alasan mengapa Sifa memberikan penjelasan ilmiah dalam setiap cerita di dalam buku ini. Adanya penjelasan ilmiah ini membuat pembaca akan lebih paham maksud cerita yang disampaikan. Misalnya, hadis tentang makan minum tidak sambil berdiri, ternyata ada penjelasan ilmiah yang menyangkut kesehatan. Atau, hadis makan menggunakan tangan.

“Ternyata di jari-jari terdapat enzim yang bermanfaat bagi proses pencernaan makanan,” tutur Sifa.

Sifa mengaku adanya penjelasan ilmiah membuat pengerjaan buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi  menjadi lama diterbitkan. Buku ini menyasar ke semua umur. Namun, gaya gambar dan bahasanya disederhanakan agar lebih mudah dimengerti pembaca.

Sementara itu, di Instagram, baik Sifa maupun Romi tidak punya target audience khusus. Setiap kisah yang diunggah di akun @kata_nabi diniatkan untuk sarana dakwah sekaligus ‘catatan’ alias self reminder keduanya. Karena itu juga, Sifa dan suami sampai saat ini tidak menerima satupun tawaran paid promote di akun @kata_nabi.

“Insya Allah semoga seterusnya,” kata Sifa.

Selain dibuat dalam bentuk buku, kisah-kisah berisikan hadis sehari-hari ini juga diadaptasi dalam bentuk komik digital di platform Ciayo Comics di Bulan Ramadan Tahun 2018, dan kini sudah di re-upload di platform yang sama. Untuk versi komik digital di Ciayo Comics, judulnya menjadi ‘Nyu(-nnah) Generation’. Targetnya disesuaikan dengan audience Ciayo, yakni remaja.

Sebagai kreator, kesulitan yang dialami Sifa lebih pada ketelitian. Tentu ia tidak bisa sembarangan, apalagi kisah-kisah yang diceritakan menyangkut dengan hadis. Terlebih pada penulisan huruf Arab dan Arab latin. Kesulitan lainnya ketika mengangkat tema Islami, biasanya yang bersangkutan dianggap sudah sangat religius dan tinggi ilmunya.

“Padahal masih sama-sama belajar. Awalnya, hal tersebut sempat menjadi beban, tapi Alhamdulilah sekarang sudah tidak terlalu dipikirkan,” jelas Sifa.

Begitu pula sang suami yang juga mengalami kesulitan karena harus menggambar lebih detail. Contohnya, ketika menjelaskan tata cara salat sesuai dengan hadis. Tentu gambar harus pas. Sifa mengaku tidak jarang suaminya mendapat kritik. Misalnya, saat menggambar orang berdzikir dengan tasbih.

“Pernah dikomentari seharusnya menggunakan buku-buku jari karena lebih afdal.  Sering juga dikirimi hadis-hadis tentang haramnya menggambar makhluk hidup,” ujarnya.

Sifa menyatakan cukup banyak perbedaan pengerjaan komik di platform Webtoon dan buku. Buku lebih banyak pada tulisan dan gambar hanya sebagai pelengkap. Belum lagi isi buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi bukan fiktif seperti di Webtoon, sehingga memerlukan lebih banyak riset dan data. Namun, jika disandingkan dengan ‘Nyu(-nnah) Generation’ tidak ada perbedaan.

“Karena pengerjaan ‘Nyu(-nnah) Generation’ sama dengan komik platform Webtoon,” ucap Sifa.

Buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi memang bukan karya pertama Sifa dan Romi yang dicetak dan diterbitkan. Sebelumnya sudah ada beberapa judul komik yang diterbitkan, berjudul Princess Academy, Ghost School Days, Fun Cican, Darko, Gang samad dan Seri Si Juki keroyokan. Serta, komik cetak terbit kerjasama dengan Perpustakaan Provinsi Kalbar berjudul Warkop dan Ibu.

“Kami berharap buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi ini bisa bermanfaat dan jadi pemberat amal di akhirat,” harap Sifa. **

Read Previous

Geliat Hotel Golden Tulip Bertahan di Tengah Pandemi

Read Next

Selaraskan Program Pembangunan via Simda