40 Desa di Kubu Raya Terpapar Narkoba

PEMBICARA: Kepala BNNK Kubu Raya Rudolf Manimbun dan Sekretaris Daerah Kubu Raya Yusran Anizam menjadi pembicara pada Bimtek Penggiat Anti Narkoba. ISTIMEWA

SUNGAI RAYA –– Upaya menelurusi potensi terjadinya penyalahgunaan narkoba di Kubu Raya terus dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kubu Raya.

Kepala BNN Kabupaten Kubu Raya, Rudolf Manimbun menerangkan pada tahun 2018 dan 2019 dirinya sering turun ke desa di Kubu Raya untuk memantu dan mengecek langsung kondisi di lapangan dengan berdialog bersama warga. untuk menanyakan isu keberadaan narkoba di desa.

“Hasil dari pantauan langsung kami di lapangan itu, dari 40 desa yang dikunjungi, semua mengungkapkan adanya warga yang menggunakan narkoba. Bahkan ada yang datang langsung ke saya dan mengaku bahwa dirinya adalah pengguna dan menanyakan bagaimana cara agar bisa berhenti,” katanya, Rabu (8/7), usai menjadi salah satu pemateri pada Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba di Instansi Pemerintah, di Gardenia Resort and Spa Kubu Raya.

Mengenai upaya bersama mencegah narkoba, Rudolf menyatakan pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan semua pihak. Ia menyebut jika program-program pencegahan dapat berjalan, maka pengungkapan kasus juga tidak akan ada.

Sekretaris Daerah Kubu Raya, Yusran Anizam yang turut menghadiri bimtek tersebut sepakat jika semua pihak bersatu memerangi dan mencegah penyebaran penyalahgunaan narkoba termasuk di Kubu Raya. Terlebih, lanjutnya, saat ini kasus penyalahgunaan narkoba masih cukup tinggi dan sebagian besar terjadi di kalangan remaja.

Mengacu pada survei yang dilakukan BNNK Kubu Raya, kata Yusran, saat ini terdapat 40 desa di Kubu Raya yang ditemukan kasus penyalahgunaan narkoba. “Terletak di kawasan strategis juga membuat Kubu Raya sangat rentan terjadi kasus penyalahgunaan narkoba, makanya, mari sama-sama kita harus berupaya keras untuk terus melakukan perang melawan narkoba,” ucapnya.

Yursan menilai, upaya pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kalangan generasi muda membutuhkan upaya terintegrasi. Tidak semata menjadi tanggung jawab pemerintah dan Badan Narkotika Nasional. Seluruh elemen masyarakat menurutnya harus terlibat dalam pemberantasan narkoba. “Jelas narkoba musuh bersama, mulai dari sekarang kita perangi,” imbaunya.

Menurutnya, kondisi geografis Indonesia yang strategis turut berdampak pada maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Termasuk Kubu Raya yang menjadi pintu gerbang Kalimantan Barat baik melalui air, darat, dan udara. Sehingga rentan dengan masuknya narkoba.

“Dengan jumlah penduduk dan tingkat penghasilan penduduk Kubu Raya yang pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata nasional dan provinsi, mengakibatkan kabupaten ini menjadi market yang menjanjikan bagi para pengedar,” ungkapnya.

Karenanya, kata Yusran, instansi-instansi yang ada dapat merancang program tentang pemberantasan narkoba khususnya di Kabupaten Kubu Raya. Namun hal itu harus melibatkan BNNK. Koordinasi juga harus dilakukan dengan aparat penegak hukum.

“SKPD yang punya rencana aksi, tapi tetap harus melibatkan BNNK. Terkait dengan program yang dilakukan, perlu disusun betul. Kita harus petakan juga sasarannya. Kita juga perlu koordinasi dengan kepolisian dan TNI yang kompeten dan punya data dengan hal tersebut,” jelasnya.

Upaya pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, tegas Yusran, merupakan tanggung jawab bersama. Termasuk bagaimana bersama-sama menggerakkan masyarakat untuk berperang melawan narkoba.

“Dari hasil bimtek ini juga diharapkan bisa disepakati bersama siapa berbuat apa, agar kita bisa bersama-sama menanggulangi peredaran narkoba di Kubu Raya. Diharapkan dengan semangat kepung bakul atau gotong royong, permasalahan narkoba ini bisa kita lawan bersama,” pungkasnya. (ash)

loading...