40 Persen Salahi Aturan

SASAR PASAR: Petugas dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja Mempawah saat melakukan uji tera.ISTIMEWA

Uji Tera Timbangan Pedagang Sungai Pinyuh

MEMPAWAH – Mempersiapkan pencanangan Pasar Tertib Ukur di Kabupaten Mempawah, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja (Perindagnaker) melakukan uji tera alat timbangan milik pedagang di Pasar Sungai Pinyuh, Selasa (10/9). Hasilnya, 40 persen dari total 122 timbangan yang diperiksa menyalahi aturan.

Kepala Seksi Meteorologi, Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Disperindagnaker Kabupaten Mempawah, Hendri yang memimpin kegiatan uji tera tersebut mengatakan, ada dua lokasi pasar yang menjadi sasaran kegiatan uji tera. Yakni Pasar Sungai Pinyuh dan Pasar Jongkat.

“Uji tera di Pasar Sungai Pinyuh dilaksanakan sejak tanggal 9-11 September. Sedangkan di Pasar Jongkat akan kami laksanakan pada tanggal 12-14 September,” ungkapnya.

Dipilihnya dua lokasi pasar itu, Hendri menjelaskan, berkaitan dengan persiapan pencanangan Pasar Tertib Ukur di Kabupaten Mempawah. Pasar Sungai Pinyuh dan Pasar Jongkat terpilih dalam kegiatan pencanangan tersebut. “Jika sudah ditetapkan menjadi pasar tertib ukur, maka kepercayaan masyarakat konsumen secara otomatis akan meningkat. Dampaknya, transaksi jual beli pastinya akan semakin berkembang di dua lokasi pasar ini,” pendapatnya.

Menurut Hendri, Pasar Sungai Pinyuh memiliki peranan strategis dalam mendukung perekonomian daerah. Sebab, Pasar Sungai Pinyuh menjadi sentra terbesar transaksi perdagangan di Kabupaten Mempawah. Begitu pun dengan Pasar Jongkat yang memiliki aktivitas perdagangan cukup baik.

“Tera ulang ini menjadi kewajiban, karena untuk menjamin kepuasan pelayanan konsumen. Semua pedagang yang menggunakan alat timbangan dalam proses transaksi maka harus dilakukan tera ulang,” tegas Hendri.

Ditanya hasil pemeriksaan di Pasar Sungai Pinyuh, Hendri menuturkan dalam dua hari kegiatan tersebut telah dilakukan pengecekan terhadap 122 alat timbangan. Dari jumlah itu, 40% alat timbangan pedagang menyalahi aturan dan tidak sesuai ketentuan yang berlaku dalam UU Meterologi Nomor 2 tahun 1991 dan UU Nomor 8 tentang perlindungan konsumen.

“Memang ada sejumlah temuan, namun kami meyakini bukan disebabkan unsur kesengajaan pedagang. Melainkan faktor ketidaktahuan pedagang dalam penggunaan alat timbangan yang baik dan benar. Misalnya ada pedagang yang memutus segel timbangan, tindakan itu menyalahi aturan. Kami sudah lakukan pembinaan dan penyuluhan kepada pedagang,” ujarnya.

Ditanya prosedur pemeriksaan, Hendri menerangkan, tindakan pertama yakni melakukan pengujian terhadap alat timbang. Jika teridentifikasi adanya permasalahan, pihaknya pun menindaklanjuti dengan melakukan perbaikan. Misalnya, ditemukan kerusakan alat maka petugas akan melakukan penggantian alat.

“Tetapi kebanyakan alat timbangan yang rusak ini hanya perlu dibersihkan saja. Karena, faktor debu dan kotoran juga dapat menyebabkan alat timbangan tidak berfungsi dengan normal. Setiap perbaikan alat memakan waktu sekitar 20-30 menit,” tukasnya. (wah)

Read Previous

Program KIAT Guru Diperluas

Read Next

Mantan Bos Petral Terjerat Korupsi

Tinggalkan Balasan

Most Popular