ABK Bagi Guru

Nurhayati, S.Pd

Oleh: Nurhayati, S.Pd*

ABK (Anak berkebutuhan Khusus) adalah anak yang memiliki perbedaan dengan anak-anak secara umum lainnya. Anak ini dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang atau bahkan lebih dalam dirinya. ABK adalah anak yang memerlukan penanganan khusus sehubungan dengan gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak. Mereka yang digolongkan pada anak yang berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan berdasarkan gangguan atau kelainan pada aspek fisik/motorik, kognitif, bahasan & bicara, pendengaran, pengelihatan, serta sosial dan emosi (Ratnasari : 2013).

Menurut (Sabra : 2010) dalam (Ratnasari:2013) pada umumnya anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang berbeda dengan anak- anak normal lainnya. Layanan yang diberikan untuk anak berkebutuhan khusus adalah layanan yang telah diterapkan oleh pemerintah. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 tahun 2009, pemerintah mencetuskan pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal lainnya di sekolah yang sama (Widiastuti : 2010).

Jadi dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ABK adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan dan kelainan yang harus memerlukan pelayanan pendidikan yang berbeda dengan anak normal lainnya. Bahwa ABK dengan karakteristik khusus yang berbeda pada anak umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidak mampuan mental, emosi, atau fisik. ABK (special needs children) dapat diartikan secara simple sebagai anak yang lambat (slow) atau mengalami gangguan (retarded) yang sangat sukar untuk berhasil disekolah sebagai mana anak-anak pada umumnya.

Saat ini sudah banyak lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan inklusif,mengingat cukup banyaknya jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Menurut Dirjen Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad, jumlah total ABK di Indonesia pada November 2015 mencapai 1,6 juta anak. Akan tetapi masih sedikit anak berkebutuhan khusus yang mau menempuh pendidikan, hanya sekitar 10-11 persen ABK yang mendapatkan layanan pendidikan. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor, di antaranya anak yang  tidak ingin bersekolah, orang tua yang kurang mendukung pendidikan untuk anaknya, serta akses sekolah yang cukup jauh dari tempat tinggal ABK.

Ketika anak berkebutuhan khusus sekolah di sekolah biasa sebagian guru mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi karena, cara belajar mereka berbeda dengan anak-anak normal. Penanganan anak berkebutuhan khusus, memerlukan keterpihakan kultural  dan struktural dari berbagai pihak baik orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah.

Masalah anak berkebutuhan khusus merupakan masalah yang cukup kompleks secara kuantitas maupun kualitas. Mengingat berbagai jenis anak berkebutuhan khusus mengalami masalah berbeda-beda maka dibutuhkan penanganan khusus. Anak yang memiliki kebutuhan khusus (ABK) belajar di kelas sekolah normal seperti terkucilkan dari anak-anak yang normal. Mereka cendrung lebih aktif sendiri atau pendiam. Sebagai guru seharusnya menyampaikan materi berbeda dengan yang lain.

Seharusnya ABK menurut saya harus mendapatkan layanan pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB). Banyak orang tua yang merasa malu untuk menyekolahkan anaknya yang memiliki kekurangan ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Adanya pendidikan inklusif dapat menjadi alternatif bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya yang memiliki kekurangan ke sekolah-sekolah reguler. Akan tetapi tidak semua sekolah reguler dapat menerima siswa ABK, karena pendidikan inklusif hanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah yang ditunjuk pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.

Namun, penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah regular belum sepenuhnya merata, akibatnya guru mengalami kendala dalam memberikan pemahaman dan penjelasan ke anak ABK.

ABK sulit menangkap materi pembelajaran dari guru sehingga, anak tersebut tertinggal dari anak-anak yang normal disekelilingnya. Mengerjakan tugas tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh guru sedangkan kurikukum sekarang semua anak diharuskan naik kelas. Ini akan sangat berdampak kepada teman-teman dikelasnya. Karena, akan timbul pertanyaan kepada wali  kelasnya, “Kenapa anak tersebut bisa naik kelas? Sedangkan dia sulit menerima pembelajaran bahkan tidak bisa menulis dan membaca.”

Selain itu, anak berkebutuhan khusus rentan mendapatkan kekerasan dan perlakuan salah. Dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus, para pendamping memerlukan pengetahuan tentang anak-anak tersebut, keterampilan mengasuh, mendidik dan melayaninya. Anak berkebutuhan khusus perlu mendapatkan dorongan, tuntunan, dan praktik langsung secara bertahap. Potensi yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus akan tumbuh berkembang seiring dengan keberhasilan peran pendamping dalam memahami dan memupuk potensi anak-anak tersebut.

Oleh karena itu solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan mengadakan workshop atau pelatihan Pendidikan Inklusif tentang penanganan ABK yang berada di sekolah reguler. Dari worksop tersebut guru mendapatkan kemampuan teknis dan menstimulasi untuk perkembangan ABK. Selain disekolah diharapkan kepada orang tua untuk membantu guru dalam menangani ABK dengan cara membawa anak ke puskesmas atau ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa ke tenaga medis,  menindaklanjuti hasil dari tenaga medis dengan mengikuti petunjuk dan saran yang diberikan, dan memasukkan anak ke sekolah yang sesuai dan kembangkan potensi yang dimiliki oleh anak. Selain itu, orang tua, keluarga membantu anak di rumah dalam mengerjakan tugas sekolah yang diberikan atau mengulang pelajaran yang diterima.**

*Penulis adalah guru SDN 42 Kubu, Kabupaten Kubu Raya.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!