Ada Doa dan Trik Khusus Supaya Sapi Kurban Tak Beringas

PENYEMBELIHAN: Prosesi penyembelihan hewan kurban di Pesantren Haruniyah Pontianak, kemarin. ARIS/PONTIANAKPOST

Kisah Penjagal dan Penyelenggaraan Kurban di Pesantren Haruniyah Pontianak

Pisau besar buatan pandai besi dari Gang Sampang, Jalan Tanjung Raya 1, Pontianak Timur mengilap diterpa cahaya matahari. Itulah senjata Iswansyah Mohan (46) saat menjagal sapi dan kambing kurban di Yayasan Pesantren Haruniyah, Jumat (31/7).

—-

MENGIKUTI panggilan jiwa menjalankan sunah Nabi Ibrahim adalah sebuah kenikmatan menurut Iswansyah. “Kita tidak mampu berkurban sebanyak-banyaknya seperti Nabi Ibrahim, jadi kita ikutlah memfasilitasi pelaksanaan kurban ini,” kata tukang jagal hewan kurban sekaligus sekretaris panitia kurban di Yayasan Pesantren Haruniyah ini, Jumat (31/1).

Ia mulai menjadi tukang jagal sapi kurban sejak berumur 30 tahun. Teori dan praktik dipelajarinya dalam satu waktu, tepatnya 16 tahun lalu. Pada masa itu, sesepuhnya dalam urusan jagal yang bernama Abdullah Umar sudah uzur.

Lalu diturunkanlah ilmu jagal ini kepada Iswansyah dan teman-temannya. “Langsung dikasih pisau, suruh potong,” katanya. Ia ingat masa itu diajari cara menjinakkan sapi-sapi kurban agar tidak beringas dan memberontak. “Ada doa dan trik khususnya itu,” katanya.

Tahun ini, Iswansyah bersama sejumlah rekannya kembali bertugas. Ia mengenakan baju kaos biru laut yang tampak mencolok. Itulah seragam yang digunakan panitia kurban sekaligus pembeda dengan orang-orang yang sekadar hadir menonton penjagalan. Ia bercerita tentang keikhlasan panitia menyumbangkan uang untuk membeli seragam. “Ada panitia yang nyumbang 200 kita ambil. Seratus kita ambil. Lima puluh ribu, kita ambil. Kita belikan baju ini,” katanya.

Tentu Iswansyah tak bekerja sendiri. Ada panitia lain yang ikut membantu mengikat dan merebahkan sapi hingga siap dijagal oleh Iswansyah. Panitia kurban di Yayasan Pesantren Haruniyah tidak hanya lelaki seumuran Iswansyah. Banyak juga anak muda yang terlibat. Pemuda-pemuda itu menawarkan diri secara sukarela untuk membantu panitia kurban. “Untuk regenerasi,” kata bapak bertubuh tambun yang masih memiliki pertalian darah dengan pendiri Yayasan Pesantren Haruniyah ini, Yunus Mohan.

Panitia kurban lain, Saifullah (58) juga mengambil peran serupa Iswansyah. Iswansyah memegang satu titik penjagalan sementara Saifullah di sisi lainnya. Sambil istirahat menunggu sapi selanjutnya siap dijagal, Saifullah bercerita bagaimana pisau yang baik untuk menjagal hewan kurban.

“Kami ada tempat khusus untuk membuat pisau ini. Supaya sepuhnya lebih bagus, tajam dan mata pisaunya tidak lemah,” katanya sembari menunjuk ke arah Gang Sampang.

Ia punya kriteria sendiri untuk pisau yang digunakannya. Harus tajam dan mengilap. “Kalau pisaunya tumpul, terasa saat kita memotong leher sapi. Lama dan kadang melekat. Kalau sudah begitu kasihan sapinya,” pungkas Saifullah.

Iswansyah ingat kurban pertama tahun 2006 di Yayasan Pesantren Haruniyah yang hanya dua ekor. Lalu mereka mencari cara agar orang ramai-ramai berkurban tanpa merasa terbebani. Digunakanlah sistem tabungan dan angsuran per bulan yang harus dilunasi dalam satu tahun. Cara itu mulai diterapkan sejak 10 tahun lalu sampai sekarang. Hasilnya, jumlah hewan kurban meningkat pesat. Bisa mencapai puluhan ekor sapi dan kambing setiap tahun.

Yayasan Pesantren Haruniyah berlokasi di Jalan Haji Abu Naim, Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak. Di sanalah kurban dilaksanakan. Dua lubang tempat mengalirkan darah hewan kurban, dilengkapi dengan tiang penahan untuk mengikat sapi dan papan yang disusun di bawahnya sebagai alas.

Kurban Terbanyak

Di tahun ini, meski sedang dalam masa pandemi Covid-19, Yayasan Pesantren Haruniyah berhasil mengumpulkan 18 ekor sapi dan lima ekor kambing untuk dikurbankan. Peserta kurban di Yayasan Pesantren Haruniyah berasal dari berbagai kalangan yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga berasal dari luar negeri.

Kurban adalah agenda rutin yang dilaksanakan oleh Yayasan Pesantren Haruniyah. “Kurban di yayasan ini sudah berjalan belasan tahun. Sejak tahun 2006,” sebut Farhan M. Fahmi (46) selaku  ketua panitia kurban Yayasan Pesantren Haruniyah, Jumat (31/7).

Farhan mengatakan bahwa Yayasan Pesantren Haruniyah menerapkan sistem tabungan yang diurus oleh panitia untuk memudahkan orang-orang dalam berkurban. Sistem tabungan itu mengharuskan peserta menyetor uang setiap bulan dan harus dilunasi dalam satu tahun. “Kami tidak bisa memastikan untuk tahun depan berapa setoran per bulan, karena tergantung harga sapi,” katanya.

Namun di luar itu, mereka juga memfasilitasi kurban dari individu-individu. “Sapi kurban yang menggunakan sistem tabungan ada 14 ekor. Sedangkan individu perorang ada 4 ekor,” katanya, Jumat (31/1).

Farhan mengakui bahwa pandemi Covid-19 berpengaruh kepada jumlah sapi yang dikurbankan. Ia mengatakan, tahun sebelumnya sebelum Covid-19, jumlah sapi yang dikurbankan sampai 23 ekor. “Karena sekarang masa pandemi Covid-19, penabung-penabung yang rutin mungkin kekurangan dana. Makanya jadi berkurang sapi kita. Tapi kita tetap bersyukur masih ada yang mau berkurban,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan bahwa peserta yang mengikuti kurban ini tidak hanya berasal dari Pontianak. Namun juga dari luar daerah seperti Ketapang, bahkan Amerika Serikat dan mereka menggunakan sistemnya transfer. Peserta kurban dari Amerika, tambah Farhan, dulu pernah tinggal di sekitar Yayasan Pesantren Haruniyah. “Mereka sekarang kerja di Amerika. Istilahnya, mereka ini penabung tetap,” katanya.

Ahmad Yani (50) menjadi salah satu peserta kurban di Yayasan Pesantren Haruniyah mengaku sudah empat kali berkurban di sini. “Harga kurban di sini lebih murah. Tempat ini juga paling bagus dan nyaman untuk berkurban,” katanya.

Karena kekurangan tenaga, Yayasan Pesantren Haruniyah hanya memotong 15 ekor sapi dan 5 ekor kambing pada hari pertama Iduladha dan sisanya di hari kedua. Yayasan Pesantren Haruniyah sangat menerima jika ada pihak-pihak yang ingin berkurban melalui mereka. Panitia selalu melakukan sosialisasi ajakan untuk berkurban di Yayasan Pesantren Haruniyah, baik secara langsung maupun lewat media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Yayasan Pesantren Haruniyah didirikan oleh almarhum Yunus Mohan pada tahun 1982 yang tujuan awalnya untuk mendidik siswa-siswa yang berasal dari daerah sekitar Pontianak Timur. Atas bantuan pemerintah Kota Pontianak, Haruniyah sekarang semakin berkembang. (aris munandar)

 

loading...