Ada PMI di Balik Pandemi

Kasus Covid-19 meningkat pada Juni dan Juli lalu. Bahkan, Kota Pontianak dinyatakan sebagai zona merah. Sejak awal ditemukannya kasus covid hingga pertengahan Juli 2021, tercatat 3.499 kasus. Kebutuhan darah dan oksigen pun bertambah. Dan, PMI Kota Pontianak bersama relawan berupaya memenuhinya.

Oleh: Chairunnisya

Sudah lebih dua jam Nanda Wahyudhi duduk di ruang tunggu Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak. Berulang kali melihat telepon genggamnya. Ketika nada dering berbunyi, pria berusia 39 tahun ini segera mengangkatnya. Saat panggilan terputus, dia pun menuju pintu keluar dan menunggu di teras, sambil memperhatikan setiap orang yang datang ke sana.

“Saya menunggu pendonor darah untuk ayah mertua saya. Perlu empat kantong,” ujar Nanda, yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Pemprov Kalbar.

Nanda menuturkan ayah mertuanya dirawat di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Kota Pontianak karena positif Covid-19. Awalnya sang ayah menjalani isolasi mandiri di rumah. Namun, pada hari kelima, tiba-tiba mengalami sesak napas dan tak sadarkan diri. “Langsung kami bawa ke rumah sakit. Selang dua hari di rumah sakit, dinyatakan harus cuci darah,” kata Nanda.

Cuci darah pertama gagal dilakukan atau tak tuntas. Dikarenakan Hemoglobin (Hb) sangat rendah. Perlu transfusi darah untuk menaikkan Hb tersebut.

“Jika sudah naik, baru bisa cuci darah kembali,” jelas Nanda.

Menurutnya, tak hanya ayah mertuanya yang positif Covid-19. Tetapi anggota keluarga lainnya juga sakit. Ibu mertuanya dan adik-adik iparnya juga dinyatakan postif. “Tante dari istri saya dan keluarganya, bahkan istri saya dan anak saya usia sembilan bulan juga positif covid. Alhamdulillah, setelah swab pcr, saya negatif,” ungkapnya.

Nanda mengungkapkan istrinya juga sudah memasukkan informasi permintaan darah melalui media sosial. “Di masa pandemi ini, banyak yang perlu darah. Saya lihat status media sosial, hampir setiap hari ada pengumuman mencari donor darah. Banyak yang terpapar Covid,” tuturnya.

Nanda bersyukur tak perlu sepanjang hari menunggu pendonor di PMI. Petugas di sana memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi. Dia bisa kapan saja mengonfirmasi mengenainya ada tidaknya pendonor atau cukup tidaknya darah untuk sang ayah. Dan, berdasarkan penjelasan dari petugas PMI, darah dari pendonor tidak bisa langsung dibawa ke rumah sakit. Baru bisa digunakan lima jam kemudian.

“Harus diperiksa dulu oleh petugas,” tukasnya.

Adalah Nurzakiati, salah satu petugas PMI yang bertugas memeriksa darah. Perempuan yang sudah bertugas selama 7 tahun ini menjelaskan pemeriksaan Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) satu kantong darah memerlukan waktu satu jam dari persiapan sampai hasil keluar, jika tanpa pengulangan. Pemeriksaan crossmatching memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sedangkan pembuatan komponen satu kantong darah memerlukan waktu satu sampai dua jam, tergantung komponen yang dibuat.

Walau bekerja selama berjam-jam, Nurzakiati merasa senang. “Sebab bisa menolong orang lain,” ujar perempuan berusia 29 tahun ini kepada Pontianak Post, Kamis (12/8).

Namun, terkadang dia juga mendapat kendala. “Selain takut tertular penyakit, saya sering dimarahi keluarga pasien karena tidak ada darah,” kata Nurzakiati.

Hal senada dikatakan Maria Heni (26), rekan satu tim Nurzakiati. Dia juga pernah dimarahi keluarga pasien ketika stok darah yang dicari tidak ada. Begitu pula ketika hasil darah tidak cocok, ada keluarga pasien yang memarahinya. “Tapi saya senang bekerja di sini (PMI). Sebab, bisa menolong orang lain. Hanya saja, kami rentan tertular berbagai macam penyakit,” ujar Maria.

Maria menambahkan dia bersama rekan-rekannya bekerja dalam tiga sif. Yakni, jika masuk pagi bekerja dari pukul 07.00 hingga 14.00. Jika masuk siang, bekerja dari pukul 14.00 hingga 21.00. “Kalau masuk malam, dari pukul 21.00 hingga 07.00,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris PMI Kota Pontianak, Lusi Nuryanti menuturkan cukup banyak permintaan darah untuk pasien Covid-19. Pada tahun 2021, dari Januari hingga Juli, sebanyak 172 pasien Covid-19 mengajukan permintaan darah ke PMI Kota Pontianak dengan jumlah kebutuhan sebanyak 654 kantong darah.

“Pada 2019, jumlah permintaan darah sebanyak 36.544 kantong, tahun 2020 sebanyak 36.870 kantong, dan 2021 hingga Juni sebanyak 19.905 kantong,” jelas Lusi.

Namun, lanjut Lusi, banyaknya permintaan darah itu tak diikuti dengan stok yang mencukupi. Berdasarkan data PMI Kota Pontianak, pemenuhan permintaan darah tahun 2021 hingga Juni sebanyak 17.951 kantong. Pada 2020, pemenuhannya sebanyak 34.340 kantong, dan 2019 sebanyak 33.736 kantong.

Kekurangan stok darah ini disebabkan pendonor sukarela masih kurang, terutama di masa pandemi ini, sedangkan permintaan darah meningkat. Selain itu, sulitnya menyeimbangkan antara ketersediaan dan kebutuhan. Misalnya, perbedaan golongan darah maupun jenis komponen darah yang tersedia dengan yang dibutuhkan.

“Namun, kami melakukan upaya untuk mempermudah masyarakat mendapatkan transfusi darah,” tutur Lusi.

Lusi bersama timnya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain mengimbau masyarakat untuk menaati protokol kesehatan dalam segala aktivitas, juga menawarkan sistem jemput bola kepada pihak-pihak yang akan mengadakan donor darah. Dari sisi manajemen, perbaikan juga terus dilakukan sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik. PMI Kota Pontianak juga melakukan transparansi data melalui layar monitor maupun website.

“Harapannya tidak ada lagi calo darah dan lain-lain, sehingga muncul kepercayaan bahwa darah tidak hanya untuk orang tertentu, melainkan untuk siapa yang membutuhkan,” tegas Lusi.

Lusi menjelaskan tugas PMI bukan hanya mencari dan melestarikan donor darah, tetapi juga kesiapsiagaan bencana dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sejak pandemi ada, lanjut Lusi, PMI juga sudah berpartisipasi.
“Kami menjahit masker dan mendistribusikannya. Pengadaan masker medis, disinfektasi ke fasilitas umum seperti sekolah, kantor, maupun rumah ibadah,” ungkap Lusi.

Pada 2021, saat jumlah pasien covid yang melakukan isolasi mandiri (isoman) meningkat, PMI Kota Pontianak mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Pontianak sebanyak lima ton beras. Diperoleh juga bantuan berupa ratusan paket obat-obatan dari Dinas Kesehatan. Semua bantuan tersebut didistribusikan kepada pasien isolasi mandiri. Begitu pula bantuan sembako, diberikan kepada warga yang memiliki hasil swab positif ataupun berkontak erat dengan pasien covid.

“Terdata ribuan pasien isoman. Kami hubungi satu persatu dan bertanya apakah mau bantuan. Ternyata banyak juga yang menolak dan akhirnya kami bagikan kepada yang lebih membutuhkan,” jelas Lusi.

Pada Juli lalu, saat pasokan oksigen terbatas, PMI Kota Pontianak mendapat bantuan berupa 30 tabung oksigen. Selain itu, juga mendapat bantuan tabung dari pihak lainnya sehingga total ada 50 tabung yang disiapkan untuk membantu pasien covid. “Kami siapkan nomor telepon. Jadi yang memerlukan bisa menelepon, nanti kami lakukan pengantaran maupun penukaran oksigen,” kata Lusi.

Lusi menambahkan pada Juli lalu saat kasus covid meningkat, posko di Markas PMI buka hingga 24 jam. Sebab, banyak warga yang memerlukan oksigen pada tengah malam. Ada relawan PMI yang bergantian sif untuk siaga melayani masyarakat.

“Relawan ini tak digaji. Hanya kami sediakan biaya transportasi dan makan alakadarnya. Namun, tak sebanding dengan yang mereka lakukan. Belum lagi risiko mereka terpapar,” pungkasnya.

Lulu Reza Suhendra merupakan salah satu relawan PMI Kota Pontianak. Pria berusia 22 tahun ini menjadi relawan sejak tahun 2018.

“Walau tidak digaji, saya senang bisa menjadi relawan PMI. Karena bisa membantu orang lain dan bertemu rekan-rekan sepemikiran,” ungkap Lulu.

Lulusan D3 jurusan akuntansi keuangan ini sejak SMA sudah bergabung dalam organisasi Palang Merah Remaja. Ketika itu belum bisa terjun langsung ke masyarakat. Namun, dia sudah memiliki gambaran tentang relawan PMI nantinya.

“Begitu lulus SMA, saya langsung bergabung menjadi relawan PMI,” jelas Lulu.

Sebelum masa pandemi Covid-19, aktivitas Lulu sebagai relawan cukup padat. Dia turut membantu siaga kebencanaan seperti memadamkan kebakaran lahan. Di masa pandemi ini, dia ikut membagikan bahan pokok kepada pasien isolasi mandiri. Selain itu, juga menyalurkan tabung oksigen kepada pasien isoman yang memerlukan.

“Tetapi ada perbedaan saat pandemi dan sebelum pandemi,” tukas Lulu.

Di masa pandemi ini dia harus menggunakan protokol kesehatan secara ketat agar tidak tertular. Menurut Lulu, pihak PMI Kota Pontianak memperhatikan protokol kesehatan relawannya. Setiap bulan mereka diberi madu dan vitamin. Saat menemui pasien covid, mereka menggunakan alat pelindung diri (APD).

“Kebutuhan APD kami juga diperhatikan. Jangan sampai kami menolong orang sakit, malah kami yang sakit,” katanya.

Lulu menambahkan di masa pandemi ini, dia bersama relawan PMI lainnya harus siaga 24 jam. Mereka harus siap sewaktu-waktu dipanggil bertugas, walaupun tengah malam.

“Tidak berkumpul di markas PMI, tetapi handphone siaga. Kalau ada tugas kapan pun, kami turun,” pungkasnya.

Sementara itu, pada pertengahan Juli lalu, Sekertaris Dinas Kesehatan Kota Pontianak Trisnawati mengakui kasus covid pada Juni dan Juli 2021 cukup tinggi. Dari peta sebaran Covid-19, total kasus covid di Kota Pontianak hingga 12 Juli mencapai 3.499 kasus positif. Dari angka itu, 2505 orang sembuh, 823 orang perawatan isolasi dan 171 orang meninggal.

“Angka 3.499 kasus itu merupakan data total sejak kasus covid 19 masuk di Pontianak,” ujar Trisnawati, belum lama ini.

Berdasarkan data dari website Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, hingga 13 Agustus 2021, tercatat 30.878 kasus konfirmasi covid di Kalbar. Dari jumlah tersebut, konfirmasi covid di Kota Pontianak sebanyak 6.954 kasus. *

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!