Aditya Galih Mastika, Perempuan Pejuang ASI Kalbar

Pentingnya air susu ibu (ASI) bagi generasi penerus bangsa terus dikampanyekan oleh Aditya Galih Mastika. Tak hanya di provinsi ini, ia yang juga Ketua AIMI Kalbar itu sempat turun membantu ibu-ibu korban gempa bumi dan tsunami di Sulteng. Bagaimana kisahnya?

oleh Idil Aqsa Akbary

Semua berawal dari pengalaman pribadinya di tahun 2012. Saat itu Aditya Galih Mastika atau yang akrab disapa Ditya, mengalami susah melahirkan hingga bermasalah dalam menyusui karena nipple flat (puting datar).

Hal itu terjadi akibat kurangnya informasi dan akses ke konselor menyusui. Ibu satu anak itu hanya mengandalkan internet, sampai akhirnya ia menemukan akun twitter Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Di sana ia banyak bertanya dan sering membaca berbagai informasi melalui website resmi AIMI. Sampai akhirnya ia pun mengerti bahwa nipple flat bukan halangan bagi seorang ibu untuk menyusui. Ia sendiri berhasil menyusui karena dukungan dan informasi dari AIMI.

Dari sanalah sarjana Ekonomi Untan itu merasa perlu untuk berjuang agar masyarakat luas juga mengerti tentang pentingnya ASI. Khususnya bagi para ibu-ibu, agar bisa memberikan ASI eksklusif enam bulan dan dilanjutkan hingga minimal dua tahun.

Dan kebetulan di tahun itu pula, akun twitter AIMI mencoba mengumpulkan ibu-ibu sesama yang sedang menyusui. Termasuk di daerah Kalbar, caraya dengan menautkan beberapa akun twitter yang biasa aktif bertanya. Sampai akhirnya terkumpulah beberapa orang. “Kami mengadakan kopi darat pada Januari 2012 dan kemudian berlanjut membentuk komunitas Kalbar Peduli ASI,” ungkap Ditya kepada Pontianak Post, Minggu (10/11).

Aditya Galih Mastika saat mengabdikan dirinya kepada korban gempa dan tsunami di tenda pengungsian di Sulteng.

Berjalannya waktu, setahun komunitas Kalbar peduli ASI berhasil bertransformasi menjadi AIMI cabang Kalbar. Tepatnya pada Maret 2013 setelah melalui berbagai proses dan persyaratan.

Aditya Galih Mastika saat mengabdikan dirinya kepada korban gempa dan tsunami di tenda pengungsian di Sulteng.
“Sukses menyusui saja rasanya tak cukup, saya ingin bisa juga membantu ibu-ibu lain yang mengalami masalah menyusui, menjadi sukses menyusui. Karena itulah, kemudian saya mengikuti pelatihan konselor menyusui pada 2012,” katanya.

Sampai Ditya kemudian didaulat menjadi kepala divisi konseling di AIMI Kalbar. Dimana kerjanya adalah melakukan kunjungan ke rumah-rumah serta menerima konseling dari ibu-ibu yang bermasalah dalam menyusui.

Berjalannya waktu sejak saat itu, kiprah AIMI Kalbar semakin berkibar. Misinya sejalan dengan kondisi di Kalbar, yang posisinya masuk dalam lima besar sebagai provinsi dengan angka stunting tertinggi. Sebab masalah stunting berkaitan erat dengan ASI.

Menurutnya banyak masalah yang ditemukan terkait ASI ini. Seperti ibu-ibu yang merasa asinya kurang. Lalu membantu ibu-ibu yang mau kembali bekerja, namun tetap bisa menyusui secara eksklusif. Dan masalah-masalah lain seperti payudara bengkak, nipple flat dan lain sebaginya.

Dari semua itu, satu kasus yang menurutnya paling membekas adalah ketika ada ibu yang merasa tidak didukung oleh keluarga untuk menyusui. Apa yang dihadapi membuat ibu itu merasa stres sampai produksi asinya ikut-ikutan menurun. “Kami memberi semangat, dukungan dan informasi bukan hanya pada ibu, tapi juga pada ayah hingga ibu dan mertua, untuk mendukung ibu tersebut menyusui,” tegasnya.

Selain melakukan bimbingan secara langsung, tak jarang Ditya juga menerima curhatan ibu-ibu terkait ASI melalui telepon. Untuk memperluas jangkuan, pihaknya lantas berkerjasama dengan dinas terkait, NGO serta berbagai mitra. Yakni dengan mengadakan seminar, sosialisasi dan konseling gratis. Sekaligus mengusahakan terbentuknya cabang AIMI di kabupaten/kota di wilayah Kalbar.

Seperti diketahui, beberapa daerah yang sedang dalam tahap pembentukan cabang antara lain Kota Singkawang, Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu. Dengan harapan terus menyebar ke daerah lainnya.

Dari perjalanan menjadi pejuang ASI di Kalbar, tahun 2018 menjadi tahun yang paling bersejarah bagi Ditya. Wanita yang hobi memasak itu merasa banyak pelajaran dan pengalaman baru ia dapatkan.

April 2018 ia dipercaya menjadi Ketua AIMI Kalbar hingga 2023 mendatang. Tak sampai di situ, perjuangannya menjadi seorang aktivis harus diuji di medan yang berbeda. Akhir September 2018, ketika tsunami dan gempa bumi menerjang Sulteng, mewakili AIMI Ditya ikut berkolaborasi bersama UNICEF dan sentra laktasi Indonesia. Untuk menjalankan program bernama Infant Feeding in Emergency.

Berbekal izin dari suami serta dukungan teman-teman AIMI di Kalbar, pasca bencana itu Ditya akhirnya terbang ke Kabupaten Sigi, Sulteng. Ia menjadi salah satu relawan yang terjun ke dalam program tersebut, bergabung dengan relawan lainnya.

Di sana tugasnya adalah membantu ibu-ibu yang mengalami masalah menyusui. Juga mengedukasi mengenai pemberian makan bayi serta anak di sekitar kamp pengungsian. Ia mengaku banyak hal baru yang dipelajari di sana.

“Betapa menyusui dan memberikan makanan rumahan adalah salah satu cara paling tepat, teraman untuk mempertahankan kebutuhan bayi dan balita yang selamat dari gempa dan tsunami,” paparnya.

Selain itu banyak pula ibu yang merasa asinya seret setelah mengalami luka-luka akibat bencana. Sehingga mereka-mereka ini sangat butuh dukungan moril serta semangat untuk kembali bisa menyusui anaknya.

Kembalinya dari Sulteng, Ditya dengan segudang pengalamannya merasa perlu mengaplikasikan apa yang dipelajari di sana untuk masyarakat Kalbar. Masyarakat Kalbar, diakuinya rata-rata sudah sadar terkait manfaat menyusui. Masyarakat juga sudah semakin paham serta kritis bertanya melalui sosial media AIMI termasuk saat konseling.

Ke depan AIMI Kalbar akan selalu terbuka bagi ibu-ibu yang mengalami masalah menyusui. Akses ke konselor juga akan semakin dipermudah. Bahwa ASI menurutnya penting bagi generasi penerus bangsa. Ampuh melawan bakteri penyebab penyakit dan dapat menjaga daya tahan tubuh bayi agar kebal terhadap berbagai penyakit berbahaya.
“Berdasarkan Riskesdes 2018, jika melihat proporsi pemberian ASI di kelompok umur nol hingga lima bulan, cakupan pemberian ASI dengan sistem recall 24 jam terakhir mencapai 80,61 persen,” pungkasnya.**

Read Previous

Sintang Kembangkan Teh di Dataran Rendah

Read Next

Ambulans Masjid An Nur Diembat Maling

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *