Air Menjadi Kunci, Petani Andalkan Mesin Alkon dan Sumur Buatan

MESIN ALKON : Rifka Sanda, salah satu petani Desa Sidera yang menerima bantuan mesin alkon dari para pembaca Pontianak Post, Yayasan Bhakti Suci dan Dompet Ummat. Rifka bersama rekannya mencoba mesin dan menyiramkan ke lahan yang kering. RADAR SULTENG

Bantuan Pembaca Pontianak Post untuk Korban Gempa Sulawesi Tengah

Musibah gempa bumi melanda Palu, Sigi dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sudah lebih dari setahun berlalu. Bantuan datang dari berbagai pihak termasuk dari pembaca Pontianak Post, Yayasan Bhakti Suci dan Dompet Ummat di Kalimantan Barat. Bantuan disalurkan dalam bentuk sumur buatan dan mesin alkon.

BANYAKNYA bantuan dari pemerintah pusat tidak membuat masyarakat Sigi khususnya para petani berpangku tangan. Para petani yang semula tinggal di hunian sementara (Huntara) mengaku tidak betah lagi dan sebagian memilih kembali ke bekas rumah masing-masing. Ada yang bertahan hidup dengan berjualan makanan. Ada juga yang mencari sewaan lahan pertanian.

‘’Menunggu bantuan tidak ada kejelasan. Lebih baik cari solusi hidup mandiri. Kuncinya asal ada air, kami para petani bisa bertahan hidup dengan bercocok tanam. Mesin alkon dan sumur buatan masih jadi andalan petani,’’ kata Sumirin warga Lolu kepada Radar Sulteng (jaringan Pontianak Post).

Akibat gempa bumi 28 September 2018 lalu, jaringan irigasi Gumbasa yang mengaliri ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Sigi dan sebagian Kota Palu, rusak berat. Sejak itu, sebagian besar lahan pertanian banyak menganggur karena kekeringan.

Setelah mendapat bantuan pembuatan sumur dan mesin alkon, petani dapat kembali mengolah lahan.  ”Sebelum gempa. Lahan ini semua untuk sawah. Air melimpah dan tidak pernah kering. Sekarang berubah menjadi lahan kering. Solusinya harus membuat sumur agar bisa tanam sayur-mayur,” kata Rifka Sanda , warga Sidera yang ditemui terpisah.

Rifka Sanda alias Sance -demikian anggotanya memanggil, ditunjuk sebagai ketua kelompok untuk menerima bantuan mesin alkon dari pembaca Pontianak Post, Yayasan Bhakti Suci dan Dompet Ummat di Kalbar. Dia juga merupakan motivator para petani di desanya. Katanya, untuk bisa bertahan hidup masyarakat harus diberikan semangat untuk berbuat yang positif. Salah satunya diajak mengolah kembali lahan yang kering untuk ditanami palawija atau sayur-mayur.

”Semula anggota terbiasa tanam padi. Sekarang belajar tanam sayur-mayur. Harga di pasar lumayan bagus. Biasa tengkulak yang datang langsung ke para petani,” kata Sance seraya mengucapkan terima kasih kepada donatur.

Tantangan lain, katanya, pasca gempa banyak hewan sapi yang berkeliaran. Para petani di wilayah Sidera dan sekitarnya harus membuat pagar untuk mengamankan tanaman. Kalau tidak ada pagar, tanaman sayur-mayur dalam sekejap ludes dimakan sapi.

”Petani sudah sering mengadu ke aparatur desa. Belum ada langkah konkret penertiban hewan sapi. Solusinya petani sendiri yang harus buat pagar,” keluhnya sambil menggelengkan kepala.

Hal senada diungkapkan Papang yang juga menerima manfaat bantuan mesin alkon. Tanaman cabe yang semula hanya menggantungkan musim hujan mulai kering akibat wilayah Sigi sudah lama tidak hujan. Beruntung ada bantuan mesin alkon dan dibuatkan sumur yang dalam. Akhirnya tanaman cabenya mulai berbuah kembali.

Selain cabe, Papang bersama anggotanya juga akan menanam beraneka jenis sayur-mayur. Tanaman tersebut dinilai lebih mudah dijual dan cepat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Penerima bantuan dari para pembaca Pontianak Post bukan hanya Sance dan Papang. Sebelumnya, bantuan serupa juga sudah disampaikan ke beberapa kelompok petani lain di beberapa tempat. Penyaluran bantuan memang disalurkan secara bertahap.

Khairul Rahman, perwakilan manajemen Pontianak Post yang datang langsung ke lokasi bencana mengatakan, bantuan pembuatan sumur pompa (alkon) diberikan setelah pihaknya melakukan survei langsung ke Kabupaten Sigi.

Pasca musibah gempa bumi, lahan pertanian di daerah ini banyak yang menjadi lahan tidur akibat kekeringan. Satu-satunya sumber air dari Irigasi Gumbasa tidak bisa lagi berfungsi akibat rusak berat. Sepanjang jaringan irigasi terbelah-belah dan membutuhkan waktu lama untuk perbaikan.

”Atas usul dan masukan para petani akhirnya pembuatan sumur pompa dilakukan agar para petani bisa menggarap kembali lahan miliknya,” ungkap Khairul saat ditemui di Palu. (mch)

error: Content is protected !!