Ajarkan Anak Cara Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

KEJAHATAN seksual pada anak dapat terjadi dan bahkan meningkat setiap tahunnya. Mencegah anak mengalami kekerasan seksual, akan lebih baik jika si kecil diajarkan untuk bisa melindungi dirinya sendiri. Memberikan pemahaman bisa menjadi langkah awal yang dilakukan orang tua.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Psikolog di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (1DPP-PA) Provinsi Kalbar, Sarah, M.Psi mengatakan secara umum jika dilihat dari pemberitaan di televisi dan media, baik massa maupun daring, kasus kekerasan seksual semakin sering diberitakan.

“Tentu saja dapat diamsusikan bahwa kasus kekerasan seksual pada anak semakin meningkat,” katanya.

Sebagai orang dewasa, terutama orang tua perlu memberi anak pemahaman untuk mengenali situasi yang membahayakan anak. Tidak lupa juga memberikan keyakinan kepada anak agar terbuka melapor ke ibu atau ayah jika ada orang yang akan, atau telah berbuat tidak pantas kepadanya.

Dalam memberikan pemahaman terhadap anak, orang tua bisa menyesuaikan dengan perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak. Rata-rata anak berusia dua atau tiga tahun sudah dapat berkomunikasi, walaupun masih belum cukup jelas.

Oleh karena disesuaikan dengan kondisi anak atau fase tumbuh kembang anak, maka untuk memberikan pemahaman dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui bercerita, menceritakan gambar atau bernyanyi.

“Sebaiknya memang disertai dengan contoh,” ujar Sarah.

Sarah menuturkan salah satu contohnya, yakni menyanyikan lirik edukasi, yakni ‘Sentuhan sayang pada bagian kepala, tangan, kaki. Sentuhan tidak boleh yang tertutup baju dalam. Katakan tidak boleh dan bilang pada ibu atau ayah’.

“Lirik edukasi ini sesuai untuk anak usia dua atau tiga tahun,” tambahnya.

Sarah berpendapat semakin besar usia anak, memberikan pemahaman bisa melalui diskusi antara orang tua dan anak. Untuk usia anak yang duduk di bangku SD sudah bisa, tetapi dengan gaya bahasa dan cara penyampaian yang berbeda.

Intinya, orang tua diharapkan menyediakan dirinya untuk anak sejak kecil. Sehingga, akan timbul rasa percaya pada anak terhadap orang tua. ketika sudah terbentuk rasa percaya tersebut orang tua akan lebih mudah memberikan pemahaman tentang konsep apapun terhadap anak.

Tetapi, tidak bisa dipungkiri jika masih ada orang tua yang tabu memberikan pemahaman tentang kekerasan seksual pada anak secara rinci. Hal ini diamini oleh Sarah. Menurut Sarah, memang tidak ada orang tua yang memiliki pikiran dan perkiraan anaknya akan menjadi korban kekerasan seksual.

Sehingga, bisa jadi infomarsi yang diberikan ke anak masih minim atau sedikit (hanya bilang tidak boleh). Atau, orang tua masih menyangkal dengan mengatakan tidak mungkin, karena (misalnya) keluarganya atau tetangga sekitarnya baik semua.

Namun, orang tua harus ingat, orang yang menjadi pelaku kekerasan seksual tidak dapat diduga. Ibu satu anak ini menambahkan bisa saja pelaku kekerasan seksual adalah orang yang dikenal baik dan orang dengan latar belakang baik.

Dampak buruk bisa saja terjadi jika orang tua memilih untuk memberikan pemahaman tanpa menjelaskan secara spesifik. Tentu saja anak tidak memiliki informasi dari orang terdekatnya tentang situasi yang berbahaya.

Apakah dalam pemberian pemahaman perlu bantuan dari psikolog? Sarah menjawab untuk memberikan pemahaman dapat dilakukan oleh orang tua sendiri. Orang tua bisa memanfaatkan teknologi dengan mencari tahu cara edukasi pada anak agar terhindar dari kekerasan seksual.

“Atau, bisa juga melalui seminar-seminar yang berkaitan dengan parenting,” pesan Sarah.**

 

error: Content is protected !!