Akhir Tahun, Ekonomi Kalbar Kian Membaik

PEKERJA SAWIT: Pekerja saat memindahkan tandan buah segar kelapa sawit ke kendaraan pengangkut. DOK-ILUSTRASI

PONTIANAK – Pada triwulan terakhir tahun ini, ekonomi Kalimantan Barat diperkirakan akan terus membaik. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar menyebut hal ini dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang meningkat. Terlebih komoditas andalan provinsi ini, seperti CPO dan bauksit, sedang menanjak harganya di tingkat internasional. Selain itu sejumlah bantuan sosial dan insentif dari pemerintah dalam rangka mendongkrak konsumsi masyarakat pun mulai terlihat dampaknya.

Inflasi menjadi salah satu tanda membaiknya daya beli masyarakat Kalbar. Pada September lalu misalnya Kalbar mengalami inflasi sebesar 0,02%. Angka ini lebih tinggi dari pada nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,05%. Sedangkan secara tahunan, Kalbar mengalami inflasi sebesar 1,74% lebih tinggi dari pada inflasi nasional sebesar 1,42%. “Artinya daya beli masyarakat Kalbar lebih baik dari rata-rata nasional. Ini menandakan adanya gairah konsumsi. Namun angka ini tergolong aman juga karena masih di bawah proyeksi kita yaitu sekitar tiga persen,” kata dia.

Begitu juga pada sisi pertumbuhan ekonomi, dimana ekonomi nasional pada triwulan II tercatat minus 5,32 persen. Sedangkan Kalbar hanya minus 3,40 persen. Adapun pada triwulan III ini diperkirakan akan jauh lebih baik. “Perkembangan menunjukan konsumsi pemerintah dan masyarakat meningkat. Didorong stimulus fiskal pemerintah kepada masyarakat terdampak dan UMKM. Ini sangat penting untuk mengangga pemulihan ekonomi di tengah konsumsi ruah tangga yang terbatas. sedangkan penjualan eceran dan online, job vacancy serta pendapatan masyarakat ada peningkatan juga,” ungkap dia.

Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman menyebut peran komponen ekspor juga berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Kalbar. “Hampir semua indikator ekonomi dan sektor usaha minus pertumbuhannya. Tetapi ekspor kita malah meningkat, terutama komoditas perkebunan dan pertambangan. Ini yang cukup mampu menopang pertumbuhan ekonomi kita,” sebutnya.

Namun, untuk soal kapan berakhirnya krisis ekonomi, Eddy menyebut, hal ini tergantung pada kapan berakhirnya pandemi. Artinya, keberhasilan vaksin akan menjadi penentu. “Ekonomi dunia tidak berjalan karena jauh menurunnya aktivitas akibat pembatasan-pembatasan sosial dan ekonomi. Untuk menghambat penularan Covid-19. Kalau pandemi tidak berakhir segera, maka mungkin tahun depan kita bisa masuk ke era depresi. Dimana masalah-masalah sosial akan mulai muncul,” jelasnya.

Hanya saja dia mewanti-wanti untuk tahun depan. Pasalnya hampir dipastikan pendapatan asli daerah maupun pajak nasional tidak akan mencapai target. Bahkan akan mengalami penurunan yang cukup dalam dibanding tahun lalu. Mau tidak mau pemerintah harus melakukan rasionalisasi APBN dan APBD untuk tahun 2021. “Caranya bisa dengan mencari sumber pendapatan lain dan memprioritaskan belanja untuk hal-hal yang benar-benar prioritas,” pungkas Eddy. (ars)

 

error: Content is protected !!