Akibat Korupsi Berjamaah

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: Gustianti, S.Pd.

OPERASI Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK yang menyeret nama bupati Bengkayang menjadi topic trending. Betapa tidak, inilah kali pertama OTT yang terjadi di Kalimantan Barat dengan orang yang dikenal hidup sederhana dan merakyat yang berinisial SG bersama kepala dinas PUPR dan sejumlah pihak swasta. Inilah salah satu bentuk perilaku korupsi berjamaah.

Korupsi berjamaah adalah orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi bersama rekanan kerja atau sama-sama pejabat. Namun, ada juga yang melibatkan keluarga dekat, kolega dan sahabat atau karib kerabat. Jum’at (6/9) Pontianak Post memberitakan jika bupati Bengkayang dan kepala dinas PUPR beserta sejumlah pihak swasta lainnya ditetapkan sebagai tersangka setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

Dalam pemberitaan disebutkan bahwa pelaku korupsi tidak sendirian, melainkan melibatkan sejumlah pihak lain, termasuk swasta. Fenomena seperti inilah yang dikenal dengan istilah korupsi berjamaah. Menurut KBBI (2008), korupsi adalah perbuatan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri seperti menggelapkan uang atau menerima uang sogok. Dan seperti itulah yang dilakukan oleh para pejabat kita di negeri ini.

Republik Indonesia di usianya yang ke-74 ini kok justru semakin banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi. Berapa sih gaji para pejabat yang ikut menikmati duit rakyat yang dikorupsi itu? Apakah masih kurang dari gaji yang diterima setiap bulan plus tunjangan lainnya? Semakin besarkah kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh para koruptor? Apakah memang ada celah untuk melakukan korupsi dengan mengadakan proyek dan laporan fiktif? Atau apakah pejabat kita memang sengaja berniat agar lembaga anti rasuah sekelas KPK untuk dibuat sibuk? Itulah barangkali sederet pertanyaan yang terbesit di benak kita ketika mendengar dan membaca hal ihwal korupsi di tanah air.

KPK sebagai lembaga independen memang harus tegas dalam melakukan kerjanya tanpa pandang bulu. Siapapun dia, apapun jabatan dan profesi orang itu harus ditindak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pelaku korupsi dalam sejarah perjalanan negeri ini yang sudah berusia 74 tahun sudah sangat banyak. Jika kita membaca koran atau menonton berita di TV pasti ada saja kasus tentang korupsi yang terjadi dalam birokrasi di negeri ini. Seakan-akan tidak ada pernah habisnya pemberitaan tentang perilaku korup para birokrat baik itu di tingkat lokal maupun di tingkat pusat. Dan itu dilakukan secara berjamaah.

Menurut Widhi Setyo Putro (2012), jika ditelaah dari perspektif skala dan motif pelakunya, korupsi dapat dibedakan menjadi dua kategori: pertama, korupsi skala kecil. Pelaku korupsi kategori ini adalah pegawai pemerintah tingkat rendahan yang merasa tidak mendapat kesejahteraan karena gaji yang terlalu kecil. Modusnya yaitu dengan mengambil/menjual aset-aset dan uang kantor. Pelaku korupsi pada kategori pertama tampaknya tidak mendapat perhatian khusus dari media maupun aparat penegak hukum, mungkin dikarenakan tidak begitu besar jumlah yang dikorupsi (atau mungkin hampir semua orang pernah melakukannya, jadi sudah menjadi kebiasaan).

Kedua, yaitu korupsi dengan motif memperkaya diri. Pelakunya adalah pejabat tinggi yang mempunyai kewenangan dan kesempatan luas untuk menyelewengkan jabatannya. Hal ini biasa dilakukan di berbagai lembaga pemerintahan di pusat karena adanya sentralisasi kekuasaan. Pelaku korupsi kategori kedua yang sering menjadi sorotan publik karena biasanya orang yang melakukannya mempunyai posisi penting dalam struktur birokrasi. Dan tersangka SG masuk dalam kategori kedua ini, yaitu Bupati Bengkayang.

Semua orang sepakat bahwa praktik korupsi adalah suatu perbuatan yang diharamkan oleh agama dan negara. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT. berfirman: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)

Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Imriil Qais bin ‘Abis dan ‘Abdan bin Asyma’ al-Hadlrami yang bertengkar dalam soal tanah. Imriil Qais berusaha untuk mendapatkan tanah itu menjadi miliknya dengan bersumpah di depan Hakim. Ayat ini sebagai peringatan kepada orang-orang yang merampas hak orang dengan jalan bathil. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.)
Praktik korupsi yang selama ini terjadi ialah berkaitan dengan pemerintahan sebuah negara. Sebab esensi korupsi merupakan perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di pemerintahan yang terletak pada penggunaan kekuasaan dan wewenang yang terkadung dalam suatu jabatan di satu pihak dan di pihak lain terdapat unsur perolehan atau keuntungan, baik berupa uang atau lainnya.

Korupsi laksana dunia hantu dalam kehidupan manusia. Mengapa dunia hantu, sebab dunia hantu merupakan dunia yang tidak tampak wujudnya, akan tetapi hanya dapat dirasakan dampaknya. Dunia hantu merupakan sebuah ilusi-fantasi yang mengimplikasikan terhadap dunia ketidakjujuran, kebohongan, dan hilangnya sebuah kepercayaan.

Dalil QS. Al-Baqarah ayat 188 di atas juga memberikan gambaran secara jelas kepada kita semua bahwa fakta di lapangan ada beberapa tersangka yang telah terbukti melakukan korupsi, tapi masih saja membela diri agar bisa lolos dari jeratan hukum kendatipun kasusnya sudah diperkarakan melalui majelis hakim di persidangan. Apalagi melakukannya secara berjamaah, ia tidak mau dijebloskan ke penjara sendiri melainkan juga ingin orang-orang yang ikut menikmati uang hasil korupsinya itu ikut diseret ke bui. Itulah akibat korupsi yang dilakukan secara berjamaah. Na’udzubillaahi min dzaalik. Semoga kasus yang menjerat bupati Bengkayang adalah OTT yang pertama dan terakhir di bumi Khatulistiwa ini. Semoga. (*)

Penulis: Guru SMP Negeri 3 Jawai, Kabupaten Sambas

Read Previous

Mengelola Pendapatan Setelah Berhenti Kerja

Read Next

Kekuatan Gotong Royong Kampung KB Pagal Baru

Tinggalkan Balasan

Most Popular