Aksi Massa di PT SRM, Spontanitas

BERI KETERANGAN : Empat kepala desa yang warganya ikut dalam aksi demo di PT. SRM, memberikan keterangan pers, kemarin (20/9). ISTIMEWA

KETAPANG – Aksi demo yang berujung keributan di lokasi PT. Sultan Rafli Mandiri (SRM) di Dusun Muatan Batu Desa Nanga Kelampai Kecamatan Tumbang Titi pada Kamis (17/9) lalu, merupakan aksi spontanitas warga yang kecewa akibat ulah pihak perusahaan. Aksi demo tersebut bukan hanya terjadi kali ini saja, namun sudah sering terjadi sebelumnya.

Sebelumnya, di bulan Agustus 2020 masyarakat juga melakukan demo di lokasi PT. SRM. Bahkan, demo tersebut juga berujung keributan. Massa yang kecewa dengan sikap manajemen PT. SRM, merangsek masuk ke dalam perusahaan. Sempat terjadi keribukan, bahkan beberapa WNA sempat menjadi bulan-bulanan massa yang emosi.

Aksi demo yang berujung keributan tersebut akibat sikap manajemen PT. SRM yang dianggap tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan sengketa lahan dan ganti rugi. Bahkan, perusahaan dianggap mengabaikan kesepakatan yang dibuat bersama antara perusahaan dan masyarakat.

Menanggapi aksi demo di PT. SRM, empat kepala desa yang warganya ikut berdemo angkat bicara. Mereka mengaku, aksi masyarakat yang mendatangi lokasi perusahaan penambangan emas tersebut bukan karena dimobilisasi oleh pihak desa, melainkan karena spontanitas warga. Keempat kepala desa tersebut yakni Kepala Desa Kelampai, Jungkal, Pemuatan Jaya, dan Desa Segar Wangi.

Kepala Desa Kelampai, Radius Tasius, mengatakan tidak pernah menyuruh masyarakat untuk melakukan demo di PT. SRM. “Kami atas nama pemerintahan desa Kelampai maupun Desa Jungkal, Pemuatan Jaya, dan Segar Wangi tidak pernah menyuruh atau memerintahkan warga untuk ikut serta dalam kegiatan aksi demo di perusahaan tersebut,” ujarnya, kemarim (20/9).

“Untuk hal ini kita mengklarifikasi meluruskan, karena persoalan demo kemarin di perusahaan PT SRM berakhir anarkis hingga terjadi pengusiran terhadap para Tenaga Kerja Asing di sana, dan viral di media massa maupun media sosial,” lanjut Radius, yang juga dibenarkan Kades Jungkal diwakili Sekdes, Jauhari, Kades Segar Wangi, Thamrin, dan Kades Pemuatan Jaya, Syahbudin.

Mereka mengaku tidak mengetahui terkait adanya spanduk yang bertuliskan dukungan terhadap pelaksanaan oprasional kembali PT. SRM terpasang tepat di pintu gerbang perusahaan, sehingga menjadi pemicu kemarahan warga. “Terus terang, kami selaku kades tidak mengetahui adanya spanduk tersebut yang membawa-bawa mengatasnamakan warga kami,” tegas Kades Pemuatan Jaya, Syahbudin.

Seperti diketahui sebelumnya ribuan warga dari empat desa tersebut, mendatangi lokasi perusahaan PT, SRM hingga berakhir ricuh dan pengusiran terhadap ratusan WNA asal Tiongkok, pada Kamis (17/9). Kedatangan ribuan warga ini lantaran kesal terhadap adanya spanduk bertuliskan adanya dukungan dari warga empt desa untuk beroperasionalnya kembali perusahaan setelah sempat terhenti usai didemo akhir Agustus kemarin.

Sementara itu, kuasa hukum PT. SRM, Restanto, masih enggan memberikan komentar. Saat dihubungi Pontianak Post, dia mengaku jika pihak perusahaan belum mau memberikan komentar terkait aksi demo yang berujung ricuh tersebut. “Belum, mas. Nanti saya kabari ya,” singkatnya melalui pesan Whats App, kemarin (20/9). (afi)

 

 

error: Content is protected !!