Aku Berpikir, Aku Menulis

Aswandi

Oleh: Aswandi

STEPHEN Hawking (2010) dalam bukunya ”The Grand Design” mengatakan bahwa ”Tiada konsep realitas yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita”. Pendapat senada disampaikan John Kehoe (2012) dalam bukunya ‘Mind Power’ bahwa pikiran menciptakan realitas.

Fakta lain membuktikan literasi menulis di dunia Islam berkembang pesat (baca khazanah Islam). Pada saat alat-alat tulis dan referensi masih sangat terbatas, ilmu pengetahuan dan teknologi diberbagai bidang, diantaranya matematika, astronomi, kedokteran dan filsafat ditulis oleh para ilmuan Muslim jauh mendahului zamannya. Kitab-kitab yang mereka tulis berkualitas tinggi dan menjadi rujukan utama (main reference) bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agama dan seni hingga saat ini.

Namun sangat disayangkan, di saat teknologi alat tulis dan referensi berlimpah dan dengan sentuhan jari seseorang bisa menulis justru literasi menulis dari waktu ke waktu mengalami kemunduran. Penulis sendiri merasa kesulitan mencari referensi yang akan digunakan sebagai rujukan ketika menulis.

Kondisi menurunnya literasi menulis masyarakat tersebut baik dalam jumlah maupun kualitas segera dicegah sebelum terlambat karena sebuah karya tulis bermutu berfungsi sebagai pintu pembuka dunia. Riset membuktikan, “Maju mundurnya suatu bangsa sangat dipengaruhi kualitas karya tulis (buku) yang dibaca masyarakatnya”, dikutip dari Quraish Syihab (2000) dalam bukunya “Lentera Hati”.

Rene Descartes seorang filosof mengatakan, ”Aku ada karena aku berpikir”.

Asumsi tersebut mengingatkan penulis pada nasihat Ali bin Abi Thalib ra seorang khalifah Ar-Rasyidin dimana ia mengatakan, ‘Ikatlah pikiranmu dengan menuliskannya’. Nasihat yang sama disampaikan Mahatma Gandhi seorang pemimpin sejati dari India, ‘Perhatikan pikiranmu karena ia akan menjadi kata-katamu’.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas, maka disimpulkan bahwa apa yang dituliskan sesungguhnya sama halnya dengan apa yang dipikirkan.

Menjadi sangat beralasan, jika Aristoteles seorang filosof mengatakan ‘Sampaikan (tuliskan) sebuah kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh tanggung jawab’.

Dalam berbagai kasus, apa yang dipikirkan seringkali dalam sekejab lupa dan sulit mengingatnya kembali. Agar apa yang dipikirkan tersebut tidak mudah lupa, maka sebaiknya pikiran tersebut ditulis. Selain itu tidak sedikit orang mengalami kesulitas menuliskan apa-apa saja yang dipikirkannya. Mereka bertanya kepada penulis, apakah ada kiat-kiat tertentu untuk memudahkan menuliskan pikiran?. Penulis menjawab, tentu saja ada pengetahuan tentang menulis tersebut, meskipun tidak seluas taxonomi pengetahuan bidang lainnya.

Pengetahuan teknis bersifat simantik memang diperlukan dalam menulis, namun seseorang tidak harus menulis setelah mengetahuai dan mendalami tuntunan simantik tersebut, biarlah pengetahuan simantik tentang tulis menulis tersebut berkembang sejalan dengan aktivitas menulis. Sebuah nasehat, “Belajar Menulis dengan Menulis” dilakukan secara terus menerus sebagaimana halnya kita belajar berenang dengan berenang. Dan belajarlah menulis kepada penulis. Menulis sebagai sebuah kebiasaan atau menulis secara terus menerus adalah penting agar ketrampilan menulis berkembang dengan baik. Seorang penulis karena alasan sesuatu dan lain hal berhenti sementara dari aktivitas menulisnya, maka ia akan mengalami kesulitan ketika kembali menulis. Apalagi mereka bukan seorang penulis, tentu lebih sulit lagi memulainya jika ketgiatan menulisnya terputus-putus: hari ini menulis, besok tidak, dan seterusnya.

Belajar dari pengalaman, bahwa ketrampilan menulis adalah milik mereka yang selalu berpikir. Apa yang mereka tulis sesungguhnya adalah apa yang mereka pikirkan, baik bersumber dari apa yang dilihat atau dibacanya, apa yang didengarnya maupun apa yang dirasakannya. Dalam banyak kesempatan, penulis mengatakan bahwa menulis berteman akrab dengan berpikir, membaca (melihat) dan mendengar. Sebaliknya, mereka yang sulit menulis disebabkan banyak faktor, antara lain: belum terbiasa menulis, selain pengaruh budaya bertutur yang mendominasi perilaku masyarakat kita, juga akibat dari menulis bukan menjadi sebuah kebutuhan dimana mereka merasa tenang-tenang saja meskipun tidak menulis, jika merekapun menulis hanya sebatas untuk memperoleh angka kumulatif yang akan digunakan untuk kenaikan pangkat dengan harapan gaji meningkat.

Fenomena menulis untuk mendapatkan angka komulatif tersebut sedang menggurita di kalangan para pendidik (guru dan dosen) akhir-akhir ini, semoga saja tidak melalaikan tugas utamanya “Mengajar”.

Penulis tidak yakin terhadap mereka yang motivasi menulisnya untuk naik pangkat semata akan menjadi penulis sejati, sekali lagi penulis tidak yakin dan tidak percaya. Fakta membuktikan, sudah ribuan peserta mengikuti pelatihan menulis dimana penulis terlibat dalam kegiatan pelatihan menulis tersebut, sampai hari ini hanya beberapa orang saja yang menjadi penulis.

Jika ditemui banyak pendidik (guru dan/atau dosen) tidak menulis. Pertanyaannya.”Apa yang ada dalam pikiran mereka?” sulit diketahui atau pikiran mereka menjadi misterus.

Sementara buku best seller (laris terjual), baik skala nasional maupun internasional adalah buku yang ditulis oleh para jurnalistik, pekerja sosial yang sangat serius ketika mempersiapkan sebuah karya bukunya seperti Don Brown penulis buku “Leonardo De Vinci” dan JK. Rawling penulis buku “Herry Forter” yang menulis buku setelah melakukan riset mendalam terhadap buku yang akan ditulisnya dan buku yang ditulis oleh mantan pemimpin dunia seperti Nelson Mandela, Bill Clinton, Jimmy Carter, Barack Obama dimana buku karya mereka menceritakan pengalamannya ketika menjadi seorang pemimpin bukan buku yang ditulis oleh para akademisi semata. Terhadap fenomena dunia perbukuan saat ini, mestinya para akademisi (guru dan/atau dosen) bertanya atau memetik pelajaran, “Apa sesungguhnya yang sedang dicari oleh para pembaca dari buku yang dibeli dan bacanya?”.

Faktor lainnya, mereka yang mengalami kesulitan menulis adalah tidak terbiasa merekonstruksi pengetahuan atau informasi yang diterimanya dengan menuliskannya sebagai akibat dari pengalaman belajar behavioristik yang mendominasi praktek pembelajaran yang dialaminya dari sejak dini.

Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa ketrampilan menulis adalah satu indikator penting dari keprofesionalan berkelanjutan seorang pendidik, baik guru maupun dosen. Pendapat tersebut dibangun atas dasar sebuah asumsi bahwa menulis berteman akrab dengan berpikir kritis, membaca, mengamati, mengeksprimentasi, dan mendengar. Dari sana mereka memperoleh dan mengolah informasi yang sangat bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah, khusus masalah dalam tugas pokoknya sebagai pendidik. Semakin banyak informasi dan pengalaman yang diperoleh, direkonstruksi dan dipublikasikannya, maka informasi dan pengalaman tersebut menjadi sumber pengetahuan bermakna bagi dirinya dan bagi orang lain. Pengembangan keprofesionalan berkelanjutan melalui menulis ini cendrung dilakukan secara mandiri sehingga lebih efektif (tepat sasaran) dan efisien (murah) dalam pengembangan keprofesionalan (professional development) pendidik dan tenaga kependidikan.

Jika kesimpulan tersebut di atas adalah benar, penulis sarankan agar kegiatan menulis guru dan dosen lebih diefektikan. Pemerintah dan institusi terkait harus siap memberikan penghargaan kepada para penulis dan penghargaan terhadap karya tulisnya yang selama ini terabaikan (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!