Alasan Penahanan Djoko Tjandra di Bareskrim untuk Permudah Proses Pemeriksaan Lanjutan

DITAHAN: Djoko Tjandra (baju orange) dikawal petugas kepolisian saat tiba d ibandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (30/7). HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

JAKARTA – Terpidana kasus hak tagih Bank Bali, Djoko Tjandra telah mendekam di rumah tahanan (Rutan) Salemba cabang Mabes Polri sejak Jumat (31/8). Penahanan terhadap Djoko Tjandra dilakukan untuk memudahkan proses pemeriksaan.

“Di tempatkan di Rutan Bareskrim Polri agar mempermudah pemeriksaan yang bersangkutan terkait kasus surat jalan palsu,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono dalam keterangannya, Senin (3/8).

Terlebih, Polri telah menetapkan Brigjen Pol Prasetijo Utomo sebagai tersangka terkait dugaan pemalsuan surat jalan. Sehingga Polri membutuhkan keterangan Djoko Tjandra. “Termasuk adanya aliran dana dalam kasus Djoko Tjandra tersebut. Sehingga, pada intinya ini adalah untuk mempermudah mendekat ke penyidik,” cetus Awi.

Diberitakan sebelumnya, Polri menetapkan mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Pol Prasetijo Utomo sebagai tersangka dalam kasus penerbitan surat jalan dan bebas Covid-19 palsu untuk buronan kasus korupsi Djoko Tjandra.

Polri juga telah memeriksa sebanyak 21 saksi dalam kasus tersebut. Bahkan, Polri tengah mendalami adanya dugaan aliran dana yang dikeluarkan Djoko Tjandra selama melakukan pelarian di Indonesia. “Direktorat Tindak Pidana Korupsi Polri saat ini telah membuka penyelidikan terkait kemungkinan adanya aliran dana pada pusaran kasus Djoko S Tjandra tersebut,” pungkas Awi.

Sementara itu, pengacara Otto Hasibuan mengaku bakal menemui terpidana kasus hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra, yang mendekam di rumah tahanan (Rutan) Salemba cabang Mabes Polri. Pertemuannya dengan Djoko Tjandra akan membahas terkait prosedur penahanannya. “Tentu kita tanya apa yang diinginkan, apa yang bisa kita bantu. Itu hal-hal penting,” kata Otto dikonfirmasi, Senin (3/8).

Otto menyatakan, putusan terhadap Djoko Tjandra tidak ada perintah untuk melakukan penahanan. Dia pun menyebut penahanan terhadap kliennya terkesan janggal. “Amar putusan, tidak ada kata-kata ‘memerintahkan terdakwa untuk ditahan. Kalau sudah batal, penahanan yang dilakukan tidak sesuai, tidak sah karena tidak ada dasar hukumnya,” tegas Otto.

Kejaksaan Agung (Kejagung) telah resmi menerima terpidana kasus cessie Bank Bali, Djoko Tjandra dari Bareskrim Mabes Polri. Djoko Tjandra diterima langsung oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung, Ali Mukartono, Jumat (31/7).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Reinhard Silitonga mengatakan, Penempatan Djoko Tjandra di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri, untuk kepentingan pemeriksaan lanjutan dan protokol kesehatan.

“Djoko Tjandra menjadi narapidana dan menjadi warga binaan Pemasyarakatan. Yang bersangkutan ditahan di Rutan Salemba, cabang Mabes Polri,” pungkas Reinhard.

Untuk diketahui, Djoko Tjandra ditangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis (30/7) malam. Dia dijemput langsung Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo. (jpc)

error: Content is protected !!