Aldebaran-Andin dan Psikosomatik

opini pontianak post
Oleh Tommy Priyatna

Oleh: Andry Fitriyanto*

Dada Andin terasa sesak dan nyeri, jantungnya berdebar hebat, kepala pusing, sesekali pandangannya kabur, dan sempat tak sadarkan diri. Ia pun menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari EKG, USG, hingga tes darah di laboratorium. Namun, oleh dokter ia dinyatakan tak mengalami penyakit serius, kondisi fisiknya baik-baik saja. Andin tetap ngotot berusaha menyangkal diagnosis yang diberikan karena merasa ada suatu yang salah dalam tubuhnya. Meski kemudian menjalani pemeriksaan di rumah sakit yang berbeda, tapi hasilnya tetap sama dan tak memuaskan Andin. Ia dipersilahkan pulang, dengan saran untuk berkonsultasi ke psikiater. Memang sepertinya ada keanehan dengan kondisi wanita cantik ini. Dalam perjalanan pulang ia berhalusinasi dan meracau. Bahkan, di beberapa waktu mengalami panic attack.

Itulah penggalan scene dalam sinetron yang happening saat ini. Tentu, bagi mania nya akan langsung dapat mengidentifikasi episode dan waktu adegan tersebut ditayangkan. Chemistry pasangan karakter Aldebaran dan Andin mampu mencolok mata dan hati setiap penyaksinya. Lagu Tanpa Batas Waktu pengiringnya, bahkan menjadi sering berkumandang di mana-mana. Mendengarnya mampu menghadirkan romansa percintaan Ikatan Cinta dalam benak penyimaknya.

Saya pribadi sebetulnya “peduli setan” dengan tontonan televisi bergenre sinetron. Meski hampir setiap malam, sang istri selalu nampak khusu’ menginternalisasi diri dengan kisah cinta yang diperankan Arya Saloka dan Amanda Manopo itu. Melalui ritual harian inilah, beberapa malam yang lalu, secara tak sengaja, cuplikan drama di awal tulisan menyita perhatian saya. Bukan karena ketampanan dan kecantikan artisnya, atau alur ceritanya. Melainkan jenis gangguan kesehatan yang dipilih sutradara sebagai bumbu penyedap dalam hidangan telenovela ala nusantara ini.

Betapa tidak, hal serupa yang pernah pula saya lalui dalam jangka waktu yang cukup panjang beberapa tahun belakangan.Dunia kedokteran mengenalnya dengan istilah gangguan psikosomatik (“psyche” jiwa dan “soma” badan). Yaitu, keluhan fisik yang sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan (pikiran dan emosi) yang sedang tertekan, stres, trauma, dan lainnya. Di mana penderitanya akan mengalami gejala fisik di atas, kecemasan, ketakutan dan kepanikan yang tidak normal, hingga tetiba menjadi “hobi bersilaturahmi” dengan dokter di UGD (doctor shopping). Padahal, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi entah mengapa, analisis tersebut sangat susah diterima oleh pasiennya karena memiliki rasa dan keyakinan yang berbeda.

Tentu bermacam gejala tersebut sempat sangat menghambat aktivitas dan produktivitas keseharian saya.Setelah akhirnya menjalani pengobatan dan konsultasi  dengan beberapa dokter dan (bahkan beberapa) psikiater, saya didiagnosis mengalami gejala gangguan psikosomatik dan divonis mengalami anxiety disorder (gangguan cemas). Jenis gangguan kejiwaan inilah yang membuat masalah pada lambung saya tak kunjung mereda meski sudah mendapatkan perawatan yang cukup intensif.

Syukurlah semua gejala pun perlahan mereda dan menghilang setelah disiplin menenggak obat-obatan dari dokter spesialis kejiwaan. Tentu hal ini dibarengi dengan pengobatan nonmedis (psikoterapi) yang juga saya jalani baik secara mandiri maupun dengan bantuan profesional. Sekarang kondisi saya jauh lebih baik, meski saya (dan kita semua semestinya) harus lebih rajin memperhatikan situasi mental keseharian. Hingga saya dan istri akhirnya bisa tersenyum di depan layar televisi melihat drama psikosomatik yang disajikan sinetron itu.

Sadar bahwa saya bukan dokter, psikiater bahkan psikolog, beberapa pemaparan dalam tulisan ini hanya menggunakan tinjauan dari sudut pandang pasien awam saja. Berbagi pandangan dan pengalaman yang mungkin saja dapat bermanfaat bagi mereka yang sedang berjuang membenahi gangguang mental serupa, juga bagi para keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Pertam, saya pribadi angkat topi pada sinetron ini yang secara tidak langsung telah memberikan semacam sosialisasi dan bahkan edukasi kepada masyarkat terkait beberapa jenis gangguan mental, latar belakangnya dan cara penanganannya. Hal ini menjadi sangat penting di tengah jarangnya penyakit unkonvensionil ini diangkat dalam bagian cerita di genre serupa. Tentu pihak produsen harus menjaga kehati-hatian dan memiliki pemahaman yang valid seputar dunia kesehatan jiwa ini agar tidak terjadi misleading perception pada penonton.

Kemelaratan dan kegalatan informasi seputar hal tersebut membuat banyak masyarakat yang tak menyadari dan memahaminya. Hingga tak sedikit orang memandang sebelah mata jenis penyakit ini dan memberi label negatif (lebay, cengeng, lemah) kepada penderitanya. Tentu perlakuan semacam ini dapat memperparah kondisi dan sangat menyakitkan. Padahal, untuk bangkit dari titik nadir, sang pasien sangat membutuhkan support moril yang besar dan pemahaman akan sesuatu yang sedang menimpanya dari orang-orang terdekat.

Kedua, pengobatan yang tepat tentu akan sangat membantu kepulihan mental pasien. Masalahnya adalah masih banyak stereotipe negatif yang berkembang seputar pengobatan gangguan kejiwaan ini. Seolah-olah ketika seseorang harus menjalani pengobatan bersama psikiater berarti ia sudah “gila”. Hal ini menyebabkan banyak orang mengurungkan niatnya dan enggan menempuh jalur pengobatan psikiatri. Kekhawatiran untuk dipredikasikan “gila” oleh masyarakat luas menjadi batu sandungan penderita dan orang-orang terdekatnya. Sebagaimana perdebatan Mama Sarah dan Papa Surya ketika membincangkan solusi dari masalah mental yang dialami Andin.

Perlu di ketahui bahwa gila memang merupakan penyakit kejiwaan. Namun, penyakit kejiwaan bukan hanya gila, ada puluhan varian jenisnya. Yang bisa saja semua pembaca pernah mengalaminya dalam level tertentu. Menyamakan semua pasien psikiatri sebagai pengidap gila merupakan sebuah sesat pikir akut yang seharusnya diluruskan.

Untungnya Andin masih memiliki Aldebaran (meski sedang berkonflik) yang sudah berpengalaman menemani ibunya yang juga pernah mengalami gangguan kejiwaan sejenis depresi. Ia bertindak cepat dan tepat dengan meyakinkan Andin untuk menjalani pengobatan ke dokter jiwa. Jika semua gejala gangguan tersebut diabaikan tentu akan berdampak tidak baik bagi kondisi mental dan fisik sang kekasih. Di sinilah ketidakpuasan Andin terhadap kondisinya dapat dilegakan. Ia menjadi lebih paham tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya dan mengetahui bagaimana harus bertindak.

Ketiga. Dengan sangat jelas sinetron itu menampilkan ragam masalah yang datang bertubi-tubi dalam hidup Andin. Menyebabkan ia terpuruk dan tersiksa secara batin. Mulai dari tuduhan dan hukuman atas hal yang tak ia lakukan, perceraian, konflik keluarga, masalah asmara, hingga dugaan pengkhianatan. Menjadi beban mental yang menumpuk dan meledak memakan fisiknya. Menunjukkan bahwa pengobatan akan gejala tersebut haruslah diiringi dengan pendekatan psikis. Bisa dibantu oleh psikolog atau pendekatan personal orang terdekatnya. Hal ini berguna untuk membantu pasien mengatasi mengurai masalah hidupnya. Selain itu, keberhasilan pengobatan juga akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pasien beradaptasi dengan kondisi kejiwaannya. Beberapa tips untuk melalui masa sulit gangguan mental tersebut mudah-mudahan bisa saya bagikan di tulisan berikutnya. Salam sehat jiwa! Wallahu a’lam bishawab.**

*Penulis adalah Dosen Filsafat IAIN Pontianak.

error: Content is protected !!