Alexius Akim Beberkan Cerita Pemberhentian dari PDIP

CURHAT: Mantan calon anggota legislatif dari PDIP, Alexius Akim berbicara di depan puluhan wartawan di Pontianak, Senin (13/1). Akim membeberkan kronologi pemecatan dirinya dari partai beberapa waktu lalu. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Enggan Mundur, Langsung Dipecat

PONTIANAK – Mantan calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Alexius Akim membeberkan kronologi pemecatan dirinya dari PDIP. Ia merasa pemecatan dirinya dilakukan tanpa dasar yang jelas sehingga ia tidak jadi duduk sebagai anggota DPR RI.

Menurut Akim, sehari sebelum KPU penetapan anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024, Jumat 30 Agustus 2019, ia sudah berada di Jakarta. Hari itu, ia selaku caleg PDIP diundang rapat konsolidasi partai. Sebagai peraih suara terbanyak kedua di Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Barat (Kalbar) I, Akim siap ditetapkan sebagai anggota DPR RI terpilih. Dari dapil tersebut, PDIP memang berhasil memperoleh dua kursi, yang mana suara terbanyak pertama diraih Cornelis.

Sekitar pukul 13.00 WIB, Akim datang memenuhi undangan rapat konsolidasi partai di Sekretariat DPP PDIP. Saat itu ia bertemu dengan empat pengurus DPP, yakni Ketua Dewan Kehormatan PDIP Komarudin Watubun, Djarot Saiful Hidayat, Yasonna Hamonangan Laoly, dan Arif Wibowo.

Akim tidak sendirian. Caleg Dapil Kalbar I peraih suara terbanyak ketiga Michael Jeno juga diundang dan hadir di ruangan yang sama. “Begitu saya datang rupanya mau memecat saya. Mereka (para pengurus DPP) sampaikan, berdasarkan rapat DPP, kami berdua harus mundur, begitu isinya (pertemuan),” ungkap Akim di hadapan awak media, Senin (13/1).

Akim mengaku bingung mengapa dirinya diminta mundur. Sementara ia melihat Michael Jeno langsung menandatangani surat pengunduran diri dan keluar meninggalkan ruangan. Tinggallah ia sendiri bersama empat pengurus DPP tersebut. “Aku sendiri ditanya, ‘Pak Akim bagaimana?’ Aku bingung aku bilang,” tutur Akim. Ia lalu minta penjelasan. Pengurus menyebutkan bahwa hal ini merupakan perintah partai. “Kami melaksanakan perintah partai,” begitu jawaban Djarot Saiful Hidayat.

Read Previous

Penduduk Miskin Turun Satu Persen

Read Next

Pembunuhan Hakim PN Medan Dirancang di Kafe

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *