Aman Menyusui dalam Masa Pandemi

Oleh: dr. Rizki Marfira

SEJAK awal kemunculannya di bulan Desember 2019, Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 atau yang lebih dikenal dengan virus corona menimbulkan banyak kekhawatiran. Selain karena gejalanya yang bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga mengakibatkan kematian, virus ini juga sangat mudah menular melalui percikan ludah orang yang terinfeksi dan dapat menempel di permukaan benda.

Bahkan baru-baruini WHO, organisasi kesehatan dunia sedang mengumpulkan bukti terbaru bahwa virus ini dapat ditularkan melalui udara (airborne) pada ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. Sebelumnya, diketahui bahwa virus ini dapat menular melalui udara hanya pada kondisi khusus yang menghasilkan aerosol, seperti pemasangan selang napas dan penggunaan ventilator.

Protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak minimal 1 meter dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir mulai diterapkan untuk mencegah penularan. Namun bagaimana dengan ibu menyusui? Apakah aman untuk menyusui dalam masa pandemic seperti saat ini? Perludi ketahui bahwa ASI adalah nutrisi paling baik untuk bayi baru lahir sampai dengan usia 6 bulan.

Penelitian yang masih sangat terbatas jumlahnya belum menemukan bukti bahwa ASI dapat mengandung virus corona. Sehingga, menyusui secara langsung sangat dianjurkan untuk bayi baru lahir, tentunya dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta status ibu jelas bukan penderita Covid-19. Ibu dianjurkan untuk mencuci tangan selama minimal 20 detik dan membersihkan payudara dengan sabun sebelum menyusui. Untuk ibu yang menggunakan pompa ASI, diharuskan untuk membersihkan peralatan pompa dan botol sesuai ketentuan pabrik.

Bagi ibu yang merupakan terduga atau terkonfirmasi Covid-19, keputusan untuk memberikan ASI merupakan keputusan bersama antaraibu, petugas kesehatan dan keluarga. Pemberian nutrisi untuk bayi baru lahir dari ibu terduga atau terkonfirmasi Covid-19 bergantung pada berat ringannya gejala yang dialami ibu, memadai atau tidaknya fasilitas kesehatan setempat, dengan mempertimbangkan keinginan ibu, keluarga serta bahaya penularan Covid-19.

Masih terdapat risiko penularan meskipun belum diketahui secarapasti. Bila ibu diperbolehkan untuktetap menyusui, ibu harus tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan, membersihkan payudara sebelum dan sesudah menyusui atau memompa ASI, menggunakan masker bedah selama menyusui, serta bila memungkinkan menjaga jarak 2 meter dari bayi saat sedang tidak menyusui.

Ibu juga harus menerapkan etika batuk yang benar, yaitu dengan menutupi mulut dan hidung dengan siku saat batuk atau bersin, bukan dengan telapak tangan. Bagaimanapun, pada ibu dengan gejala maupun terkonfirmasi Covid-19, keputusan pemberian ASI harus mengedepankan keamanan bayi dan memperkecil risiko penularan serta sesuai anjuran dari petugas kesehatan setempat.

Selain menjaga kebersihan sebelum, selama dan sesudah menyusui, hal penting lainnya yang harus ibu ketahui adalah memantau kecukupan ASI yang diberikan. Merujuk kepada Ikatan Dokter Anak Indonesia, tanda ASI yang diberikan cukup adalah berat bayi tidak turun lebih dari 10% dari berat lahir. Berat badan bayi dapat turun di hari–hari pertama kelahiran dan kembali ke berat badan lahir di minggu pertama.

Kenaikan berat badan minimal pada usia 0 – 3 bulan adalah 750 gram per bulannya, bila kurang dari itu, orang tua harus memeriksakan ke dokter spesialis anak untuk memastikan apakah benar berat tidak naik dan mencari penyebabnya. Tanda lain cukupnya ASI adalah dengan melihat frekuensi buang air kecil bayi, bayi baru lahir buang air kecil pertama kali pada usia 24 – 48 jam, frekuensi buang air kecil yang normal adalah minimal 6 kali per hari.

Ibu dapat mengetahuinya dengan memeriksa apakah popok basah setiap kali diganti. Selain itu, warna tinja bayi yang mendapatkan ASI yang cukup akan berwarna kuning pada  usia 5 hari. Bila usia 5 hari warna tinja bayi masih berwarna kehitaman, hal ini dapat menjadi pertanda bahwa ASI yang diberikan kurang. Bila terdapat tanda-tanda kekurangan ASI, ibu dapat menghubungi dokter spesialis anak atau konselor laktasi untuk mendapatkan bantuan dan edukasi terkait ASI.**

 

*Penulis adalah Praktisi Kesehatan

 

loading...