Anak-anak Panti Asuhan Filipi Sekadau Produksi Masker

PRODUKSI MASKER: Salah seorang anak Panti Asuhan Filipi Sekadau memproduksi masker di tengah wabah Covid-19. SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

Perhari Hasilkan 40 Helai, Disalurkan untuk yang Membutuhkan

Pandemi Covid-19 di Indonesia sangat mempengaruhi ketersediaan berbagai kebutuhan, terutama alat pelindung diri (APD) seperti masker. Tak dapat dipungkiri, masker sendiri saat ini menjadi benda yang paling dicari oleh semua lapisan masyarakat untuk melindungi diri dari penyebaran virus korona.

SIGIT ADRIYANTO, Sekadau

KEBUTUHAN yang besar, berbanding terbalik dengan ketersediaan masker yang minim saat ini, menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat. Salah satunya mengenai keamanan agar tak terpapar virus yang diketahui bermula dari negeri tirai bambu tersebut. Hal tersebut juga yang menjadi dasar bagi anak-anak di Panti Asuhan Filipi Sekadau untuk menciptakan masker berbahan  kain, dalam rangka untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Dalam proses pembuatannya, panti asuhan yang terletak di Jalan Merdeka Barat tersebut hanya mengandalkan kepiawaian anak-anak yang diasuh di panti tersebut. Mereka pun hanya mengandalkan bahan dan alat jahit seadanya saja.

Saat dijumpai ketika sedang sibuk dengan proses pengerjaan, pengasuh Panti Asuhan Filipi Sekadau, Elizabeth Bale Lay, menceritakan awal mula ide pembuatan masker ini adalah ketika Covid-19 mulai mewabah. Wabah tersebut akhirnya menimbulkan kekhawatiran mereka, warga Panti Asuhan Filipi Sekadau. Di saat yang bersamaan, masker yang menjadi kebutuhan juga sulit dicari, sehingga anak-anak asuh di panti tersebut berinisiatif untuk membuat masker yang dijahit sendiri. Bahkan, masker-masker hasil karya mereka tersebut kemudian juga dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Dia juga mengatakan bahwa pengerjaan pembuatannya sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.

“Ide ini ada karena di tengah wabah virus korona, (di mana) anak-anak sulit dapat masker, jadi kita inisiatif buat sendiri. Kebetulan di sini ada anak asuh yang sekolah di jurusan Tata Busana dan kebetulan pernah dapat tugas membuat masker di sekolah. Dari situ kami tergerak untuk membuat masker,” jelasnya saat dijumpai, Rabu (15/4).

Dia melanjutkan untuk pengerjaan sehari-hari, sembilan anak yang turut andil dalam pembuatan masker tersebut. Dalam proses pembuatan masker, ia selalu menekankan kepada anak-anak asuhnya untuk membuat sesuai dengan standar kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

“Meski hanya dibuat dari bahan dan pola yang sederhana, yang penting harus sesuai dengan standar kesehatan yang dikeluarkan pemerintah,” ujarnya.

Dalam sehari anak-anak asuhnya tersebut bisa membuat 30 sampai dengan 40 helai masker. Masker-masker itu kemudian mereka salurkan bagi yang membutuhkan.

“Kami usahakan untuk membuat masker sebanyak mungkin, yang kemudian kami bagikan ke orang yang memerlukan, seperti buruh bangunan, pedagang, jemaat, dan lainnya. Karena setiap harinya stok masker yang dibuat selalu habis,” lanjutnya.

Sampai dengan saat ini, anak-anak asuhnya tersebut setidaknya sudah membuat ratusan masker yang sudah disalurkan untuk mereka yang membutuhkan. Di samping itu tentu saja dipergunakan mereka untuk kebutuhan warga panti.

Di sisi lain, ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilakoni anak-anak asuhnya tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Bahkan beberapa di antaranya ada yang menyalurkan bantuan berupa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi masker.

“Puji Tuhan sampai saat ini banyak yang dukung. Seperti dari jemaat ada yang antarkan bahan, seperti kain dan juga karet untuk membuat masker. Intinya sejauh ini banyak yang menanggapi positif apa yang anak-anak lakukan,” pungkasnya. (*)

error: Content is protected !!