Anak Cengeng, Karakter atau Kebiasaan?

for her

Orang tua pasti merasa bingung dan kesal saat buah hati kerap menangis (cengeng). Apalagi jika tangisan itu terjadi sepanjang hari dan tanpa sebab. Menangis wajar terjadi pada anak. Namun, jika terus berlanjut saat remaja dan dewasa. Apakah ini karakter ataukah kebiasaan yang sulit dihilangkan?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Anak kerap menangis (cengeng) adalah hal wajar. Terlebih jika usia buah hati dibawah tiga tahun atau lima tahun. Pada usia tersebut sikap cengeng belum bisa dikategorikan sebagai karakter.

“Karena yang namanya karakter adalah sesuatu yang sudah ada di dalam diri dan tidak bisa diubah. banyak faktor yang membuat buah hati (berusia batita dan balita) kerap berlaku cengeng,” psikolog Yeni Sukarini.

Salah satunya karena anak merasa tangisan yang dikeluarkannya adalah senjata ampuh yang ditunjukkan pada orang tua. Senjata ini mampu membuat orang tua luluh untuk mengabulkan permintaan anak. Ini hanya sebatas kebiasaan. Tetapi, tangisan juga bisa dikarenakan buah hati tidak memiliki rasa percaya diri. Dia cenderung takut (emosi belum siap menghadapi perkembangan yang ada).

“Kemudian, bisa juga karena pola asuh yang dihadirkan orang tuanya. Sehingga, saat anak mengalami rangkaian peristiwa apapun, ia harus mengeluarkan kebiasaan cengengnya itu,” ujarnya.

Jika anak terus dibiarkan cengeng, bisa berdampak buruk. Sebab, anak tidak akan memiliki rasa mandiri. Segala sesuatu yang diinginkan akan membuat anak tidak kreatif, termasuk saat ia beranjak remaja. Anak juga menjadi tidak memiliki kesiapan emosi, yakni tidak mampu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan secara baik.

“Anak jadi tidak memiliki kepercayaan diri dalam setiap tugas yang ada. Selain adaptasi dan rasa percaya diri yang kurang, anak akan menjadi orang yang introvert atau penakut,” tutur Yeni.

Selain itu, lanjut Yeni, anak tidak akan bisa meng-eksplore maupun fighting dengan keadaan yang ada. Jika ini terjadi, orang tua harus mengoreksi pola asuhnya.

“Bisa saja dalam memberikan pola asuh, baik ayah maupun ibu terlalu memanjakan buah hati tercintanya. Setiap apa yang menjadi keinginan anak selalu dituruti keduanya. Karena orang tua menganggap buah hatinya adalah sosok kesayangan,” ungkap Yeni.

Dampak buruk lainnya anak dibiarkan terus cengeng adalah orang tua terlalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu masalah. Anak memiliki masalah sedikit seperti jatuh, orang tua langsung menyelesaikan dengan cepat tanpa memberikan suatu pelajaran.

“Kadang kala orang tua berkata ‘tidak boleh’. Tetapi, di satu sisi salah satu atau kedua orang tua justru mengiyakan hal yang sebenarnya ‘tidak boleh’ tersebut,” kata Yeni.

Yeni menuturkan orang tua bisa memberi perhatian untuk mengatasi sikap cengeng anak. Lebih konsisten, terutama dalam menerapkan pola asuh. Ketika anak meminta sesuatu, berusaha memberi sesuai dengan tahapan. Misalnya, anak kecil meminta mainan. Berikan pemahaman dan penjelasan tentang kondisi orang tua.

“Orang tua bisa mengatakan ‘ayah dan ibu bisa saja membelikan mainan, tetapi tunggu uangnya terkumpul lebih dulu’,” jelas Yeni.

Dari penjelasan dan pemahaman itu anak menjadi paham bahwa tidak setiap permintaan yang diajukannya bisa terkabul saat itu juga. Selain itu, berikan anak pemahaman tentang kesiapan emosi. Ada saatnya orang tua membantu dan melepaskan anak. Tetapi, tetap dalam pantauan orang tua.

“Ajak anak bersosialisasi dengan teman lainnya. Saat bersosialisasi dan memiliki teman, anak bisa berbagi. Tidak ada rasa ketakutan dalam dirinya berada di lingkungan yang baru. Tidak selalu bersama ayah maupun ibunya,” tutup Yeni.**

Read Previous

Pelatihan Teknis Administrasi Berbasis IT

Read Next

Harapan di Tangan Figuran

Tinggalkan Balasan

Most Popular