Anak Lelaki Sering Sentuh Alat Kelaminnya

Orang tua pasti merasa khawatir ketika anak lelakinya terlihat memainkan alat kelaminnya. Apalagi cukup sering dilakukan. Apakah wajar ketika anak kerap menyentuh alat kelaminnya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Rima (32) merasa bingung saat melihat buah hatinya yang berusia lima tahun kerap memainkan kemaluannya. Baik saat berbicara hingga menonton televisi. Dia yakin anaknya belum paham tentang seks. Semakin mengkhawatirkan ketika dilarang, sang anak akan menangis.

Ibu rumah tangga ini pun mencoba mencari kasus serupa di laman Internet.

“Beberapa artikel menyebutkan perilaku memainkan kemaluan ini di usia tiga sampai enam tahun adalah sesuatu yang wajar, karena perkembangan alat genitalnya kian matang, serta didorong rasa ingin tahunya,” kata Rima.

Dia menambahkan artikel yang dibacanya juga menyebutkan perilaku ini normal dan tidak dapat dikatakan sebagai masturbasi, karena tidak disertai fantasi seksual.

“Meski normal dan wajar terjadi, tetap saja saya merasa khawatir kebiasaan ini akan berlanjut hingga buah hati saya dewasa. Apakah memainkan kemaluan ini termasuk kelainan?,” tanya Rima.

Tak hanya Rima, Yuni juga bingung ketika melihat keponakannya kerap meremas-remas alat kelaminnya. Remaja berusia 17 tahun ini melakukannya saat berbicara dengan orang lain, menonton televisi, maupun saat sedang bengong.

“Saya juga bingung, apakah dia sadar atau tidak melakukannya. Sebab sudah dikasi tau beberapa kali bahwa itu tidak bagus, tapi masih juga dilakukan,” kata Yuni.

Psikolog Klinis Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., CHt menjelaskan sejatinya anak kecil memegang alat kelaminnya merupakan bagian dari eksplorasi. Perilaku ini sama halnya seperti memegang bagian tubuh lainnya, misalnya memegang hidung, telinga dan lainnya. Namun, tentu saja ada kekhawatiran pada orang tua saat melihatnya.

“Orang tua, baik ayah dan ibu bisa melihat anak memainkan kemaluannya seperti apa,” katanya.

Memegang kemaluan di usia buah hati yang masih anak-anak pastinya bukan ke arah masturbasi, melainkan faktor kenyamanan dan kebiasaan saja. Semakin bertambahnya usia, memainkan alat kelamin mulai berbeda tujuannya.

“Semakin dewasa, seiring tumbuhnya dorongan seksual, memainkan kemaluan menjadi penyaluran dorongan,” kata Maria.

Maria tidak menampik memegang alat kelamin kerap dianggap tidak wajar untuk dilakukan. Namun, lanjut Maria, wajar atau tidaknya bergantung dengan kapan, dimana, dengan siapa dan intensitas waktu seberapa sering anak melakukannya. Jika anak mengelus di depan umum atau di sekolah tentu tidak wajar.

“Tetapi, jika anak mengelus di kamarnya untuk mendapat kenyamanan, hal itu wajar,” tutur Maria.

Sebagian besar masyarakat memiliki anggapan, seringnya memegang kemaluan pertanda anak terserang autisme atau gangguan lainnya. Psikolog di RS Anugerah Bunda Khatulistiwa Pontianak ini menyatakan dengan tegas kalau hanya sekadar memainkan bahkan onani, tidak ada hubungannya dengan autisme dan gangguan kejiwaan.

Kendati tergolong wajar dilakukan anak-anak, orang tua perlu waspada (aware) sedini mungkin. Caranya dengan memperhatikan bagaimana cara anak menyentuh atau memainkannya.

“Apakah perilaku memainkan kemaluan ini masih tergolong wajar atau sudah di luar batas kewajaran,” ungkap Maria.

Orang tua tak perlu panik atau langsung marah ketika tanpa sengaja mendapati anak menyentuh atau memainkan alat kelaminnya. Tetaplah bersikap tenang dan melakukan pendekatan kepada anak.

“Bisa bertanya secara langsung pada anak maupun tidak. Apabila memilih secara langsung, tanyakan apa alasan anak, lalu berikan edukasi,” tuturnya.

Apabila memilih tak bertanya secara langsung, bisa menggunakan perumpamaan orang lain. Gunakan buku atau bahan di internet. Video atau penjelasan kalimat, bila anak sudah bisa membaca.

“Orang tua harus tenang. Apabila rasa cemas sudah berlebih, orang tua bisa konsultasi kepada psikolog,” saran Hipnoterapis dari The Indonesian Board or Hypnotherapy dan psikolog di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak ini. **

 

Read Previous

Sutarmidji Raker di Singkawang dan Sambas

Read Next

Dinas PUPR Pontianak Normalisasi Parit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *