Anak Sering Meminta Bekal Teman

for her

Meminta memang hal yang wajar dilakukan. Namun, jika terus dilakukan tentu akan membuat orang lain merasa risih. Termasuk anak, jika setiap hari dia meminta milik teman seperti makanan dan mainan, pasti membuat sang teman keberatan. Bagaimana mengatasinya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Seringkali, Ninda, pegawai di salah satu kantor swasta memperhatikan seorang teman buah hatinya di sekolah yang kerap meminta makanan teman-teman sekelasnya. Awalnya, Ninda memaklumi perilaku yang dilakukan teman buah hatinya tersebut.

Namun, pemakluman ini berubah, ketika buah hati tercinta dan beberapa teman sekelasnya mengeluh dan tak terima bekal makanan diambil dalam jumlah banyak oleh teman tersebut. Bahkan, kasus ini sampai diadukan pada wali kelas.

Tetap saja, tak ada perubahan dari anak yang bersangkutan. Dirinya tetap saja meminta makanan dalam jumlah banyak. “Ternyata setelah ditanya, teman anak saya itu tak pernah diberi bekal sama orang tuanya,” kata Ninda.

Psikolog Dr. Hj. Fitri Sukmawati, M.Psi mengatakan setiap orang butuh sesuatu yang diinginkan, apalagi seorang anak. Selama meminta hal yang masih termasuk kebutuhan dasar anak seperti meminta makan dan mainan, tentu ada aturan main serta sopan santun, termasuk hal yang biasa. Namun, jika perilaku meminta anak ini sudah melewati batas, perlu pendampingan orang tua. “Artinya, meminta yang bukan haknya, bukan punya anak ada batasannya. Dan, orang tua perlu melakukan pendekatan. Mungkin orang tua bisa menjelaskan memberi lebih baik,” ungkap Fitri.

Terkadang ada anak yang kerap meminta bekal teman sekelasnya dalam intesitas waktu yang sering dan jumlah yang banyak. Hingga kerap menimbulkan masalah bagi anak di sekolah.

“Disinilah orang tua harus peka untuk membekali anaknya, sehingga dia tak meminta punya orang lain,” kata Fitri.

Kalaupun anak mau meminta, anak harus tahu batasannya, yakni sesuai yang diberikan. Fitri menyarankan orang tua untuk membiasakan anak bahwa memberi itu jauh lebih baik dibandingkan meminta punya orang lain.

Ketua HIMPSI Wilayah Kalbar ini menuturkan perilaku meminta yang dilakukan anak ini bisa jadi disebabkan karena merasa kekurangan. Artinya, anak merasa tidak terpenuhi kebutuhan makannya. Atau, anak tak pernah mendapatkan makanan seperti itu.

“Menyebabkan anak ingin makan apa yang dimiliki temannya,” ujarnya.

Terkadang anak memang cenderung lebih senang meminta dengan teman dibandingkan langsung berbicara pada orang tuanya. Hal ini bisa saja disebabkan karena orang tuanya tak memberi atau marah ketika anak menyampaikan apa yang diinginkannya.

Menurut Fitri, anak memang harus diajarkan aturan main khususnya etika meminta. Orang tua harus bisa memberikan informasi kapan anak boleh dan tak boleh meminta.

“Untuk bekal tak boleh meminta, karena sudah dibekali orang tua masing-masing. Justru akan lebih baik jika melebihkan bekal makanan anak, sehingga anak bisa berbagi dengan temannya. Disinilah mengajarkan tentang berbagi,” tutur Fitri.

Ketua Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak ini menjelaskan proses pendidikan memang tidak mudah. Perlu kesabaran, ketelatenan dan contoh dalam menghadapi persoalan anak kerap berlaku meminta secara terus-menerus, meski orang tua sudah memberi pemahaman.

“Mungkin saja anak berlaku demikian karena orang tuanya juga memiliki sifat seperti itu. Sehingga, anak meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Orang tua perlu memberikan contoh yang baik, misalnya memberi kepada orang lain, baik di lingkungan sekitar maupun keluarga,” tutur Fitri.

Selain memberikan contoh, orang tua juga bisa bercerita (berdongeng) sebelum anak tidur. Tujuannya untuk memberikan nilai-nilai positif yang bisa menjadi suatu efektivitas dalam pembelajaran.

“Dengan begitu, anak akan mengubah dirinya untuk tak lagi meminta hak orang lain. Mengubah kebiasaan jadi lebih positif untuk memberi kepada orang lain,” jelasnya.

Berikan anak waktu untuk berubah. Karena proses dalam psikologi atau dalam sikap orang, khususnya anak-anak tak bisa berjalan secara instant. “Perilaku perlu kontrol, selalu diingatkan dan dikondisikan, sehingga anak terbiasa dengan perilaku yang diinginkan orang tuanya,” saran Fitri.

Jika orang tua yang menganggap ‘meminta’ adalah hal biasa dan memilih untuk membiarkannya, anak akan menjadi orang yang egois. Bahkan, bisa saja akan merampas hak orang lain. Perilaku ini akan terbawa hingga anak dewasa,karena telah menjadi kebiasaan dan tak pernah dikoreksi orang tuanya. **

loading...