Andalkan Kepiting, Jalan Menuju Desa Mandiri

BUDIDAYA: Proses pemanenan kepiting di lokasi budidaya dan penggemukan kepiting Bentang Pesisir Padang Tikar.

Berawal dari pelatihan penggemukan dan pembesaran kepiting di Bali 2017, perwakilan masyarakat di delapan desa Bentang Pesisir Padang Tikar mulai menuai hasil. Jumlah panen kepiting yang melimpah meningkatkan ekonomi menuju desa lebih mandiri.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

IDE pembudidayaan kepiting sudah dilakukan sejak 2017. Dasarnya, dengan melihat sumber daya alam hutan bukan kayu di Bentang Pesisir Padang Tikar, Kubu Raya, salah satu komoditinya, kepiting bila dikembangkan benar-benar, ke depan akan mampu menjadi pendongkrak ekonomi setempat.

“Ini merupakan dasar kami melakukan pendampingan budidaya dan penggemukan kepiting,” ungkap Aktivis Sampan Kalimantan, Beni kepada Pontianak Post.

Dari dasar ini, lanjut dia, pihak Sampan mengirim utusan dari delapan desa di Bentang Pesisir Padang Tikar untuk mengikuti pelatihan penggemukan dan pembesaran kepiting bersama Kelompok Tani Pembudidaya Kepiting Bakau, di Ekowisata Mangrove, Provinsi Bali, 2017. Perwakilan delapan desa itu adalah Desa Nipah Panjang, Tanjung Harapan, Seruat II, Dabung, Sungai Nibung, Batu Ampar dan Desa Tasik Malaya.

Usai ilmu budidaya dan penggemukan kepiting didapat. Di 2019 dilakukan tindak lanjut, dengan mempelajari spesifik cara pembenihan kepiting bakau menggunakan hatchery. Dalam percobaan upaya pembenihan ini kata Beny, sempat mengalami kegagalan dua kali. Namun kawan-kawan desa tak patah arang karena kegagalan itu dianggap sebagai tahap pembelajaran untuk mencapai keberhasilan.

Untuk dana pembudidayaan dan penggemukan kepiting, lanjut dia, kawan-kawan desa mendapat pasokan pinjaman dari BLU P3H di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan skema perhutanan sosial. Untuk benih didapat dari Pembenihan Kepiting Kabupaten Jepara.

Sejak tebar bibit kepiting Mei 2019 di tambak kelompok usaha pembudidaya kepiting Bentang Pesisir Padang Tikar, sudah dilakukan pemanenan berjangka disetiap kelompok pembudidaya kepiting. Dari data pemanenan berjangka hingga Oktober 2019, sebanayak 300 kilogram berasal dari 3 lokasi, yaitu dua di Batu Ampar dan satu di Desa Seruat II.

Dia memperkirakan, panen raya seluruh kelompok jatuh di Desember dengan perkiraan hasil mencapai empat ton lebih. Adanya hasil kepiting, diyakini ke depan akan meningkatkan perekonomian warga desa. Muaranya, desa tersebut akan menjadi desa mandiri melalui pengembangan sektor kekayaan alam bukan kayu.

“Tujuan panen raya dilakukan juga ingin memperkuat kerja sama pasar lokal maupun internasional. Khususnya dalam pendistribusian kepiting hasil budidaya,” katanya.

Dari apa yang sudah dilakukan ini, harapannya, terjadi kesepakatan kerja sama jual beli kepiting hasil budidaya. Kemudian warga desa tersebut mendapat dukungan oleh instansi terkait dalam aspek pembinaan kelompok bantuan secara internal.(*)