Anemia Tak Bisa Dianggap Sepele

Saat terserang anemia tubuh akan kekurangan sel darah merah sehat, atau sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah. Walau terlihat tak berbahaya, penyakit ini tak bisa dianggap sepele.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Anemia dapat didefinisikan sebagai berkurangnya sel darah merah (RBC). Sel darah merah memiliki fungsi sebagai pengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh yang lain, dan dari jaringan tersebut dibawa karbon dioksida yang diantarkan kembali ke paru-paru. Sel darah merah dapat mengikat senyawa tersebut dikarenakan adanya hemoglobin (Hb).

Dokter Umum RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Pontianak, Welda Alfiansyah mengatakan pada kondisi anemia jumlah sel darah merah yang menurun menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara pertukaran gas dalam tubuh dan  media transportnya. Menurunnya sel darah merah tersebut dapat disebabkan darah yang keluar sehingga terjadinya blood loss.

“Meningkatnya penghancuran dari sel darah merah. Atau, penurunan dari produksi sel darah merah tersebut,” ujarnya.

Anemia tidak dapat dianggap sepele. Dikarekana terjadinya ketidakmampuan tubuh untuk menyalurkan oksigen yang dibutuhkan tubuh dan mengeluarkan karbondioksida yang harus dikeluarkan dari tubuh. Jika tidak mendapat penanganan lebih lanjut, dapat menyebabkan komplikasi yang serius.

“Bahkan bisa menyebabkan kematian,” tutur Welda.

Dokter di RS Promedika Pontianak ini menuturkan penyebab anemia secara umum dapat dibedakan menjadi lima, yakni kelainan genetik, kurangnya nutrisi, trauma, penyakit kronis dan keganasan, serta infeksi. Namun, dari kelimanya genetik menjadi faktor terbesar yang dapat menyebabkan anemia.

Pola hidup, pekerjaan, dan insidensi juga tidak kalah besar faktor risikonya untuk menyebabkan anemia. Menurut Welda, setiap orang memiliki probabilitas yang sama untuk mengidap anemia dan probabilitas tersebut dapat meningkat dengan faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan anemia.

Ketua Ikatan Alumni FK Untan ini menyatakan pada umumnya gejala anemia yang dialami seseorang bersifat ringan. Biasanya berupa pusing, rasa mengambang, lemah, tidak bertenaga, berdebar, tremor, pucat. Namun, pada anemia berat dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga shock.

Pengobatan dilakukan berdasarkan jenis anemia yang diderita.

“Apakah penderita mengidap anemia jenis normositik, mikrositik atau megaloblastik? Tentu saja penanganan setiap jenis anemia berbeda. Alangkah lebih baik dikonsultasikan terlebih dulu kepada dokter,” kata Welda.

Komplikasi paling yang terjadi pada anemia dapat berupa terganggunya aktivitas sehari-hari pada pasien. Namun,  apabila sudah ke taraf lanjut dapat mengganggu dari fungsi organ-organ seperti jantung, paru, hepar, lien, ginjal, otak, atau bahkan jika sudah sangat parah dapat menuju ke arah shock bahkan kematian.

Welda menyarankan untuk menjaga pola hidup yang baik dan menjauhkan diri dari faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kondisi anemia.
“Namun, apabila faktor genetika itu sudah ada maka segeralah konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik untuk anemia yang diderita,” pungkasnya. **

 

Read Previous

Sawit Jadikan Neraca Perdagangan Indonesia Lebih Baik

Read Next

Sita 250 Ton Rotan Sulawesi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *