Antara Penguasa Kota dan Kesempurnaan Zizou

JEDDAH— Selama ini, derbi Madrileno selalu dicap sebagai derbi kelas dua di Eropa karena timpangnya persaingan antara Real Madrid dan Atletico Madrid. Tetapi, asumsi itu perlahan memudar sejak Diego Simeone melatih Atleti pada 2011-2012.

Sebab, Cholo–julukan Simeone–membuat derbi Madrileno menjadi derbi pertama di Eropa yang rivalitasnya sudah menyentuh semua ajang. Selain tiga ajang domestik La Liga, Copa del Rey, dan Supercopa de Espana, Real kontra Atleti juga tersaji di final Liga Champions dan Piala Super Eropa.

Memang, jika tolok ukurnya adalah prestasi di dua major event La Liga dan Liga Champions, Real masih mendominasi. Hanya, jika topik diperluas menjadi semua ajang yang mempertemukan keduanya untuk trofi, maka Los Colchoneros–julukan Atleti–boleh jemawa.

Ya, tim asuhan Diego Simeone itu memberi “perlawanan” terhadap dengan membalasnya di tiga ajang lainnya (lihat grafis). Dominasi itu bisa semakin kentara jika dini hari nanti Atleti mampu memenangi derbi Madrileno edisi ke-223 pada final Supercopa de Espana. Sebab, laga yang akan dihelat di stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, itu adalah Supercopa de Espana kedua setelah pada edisi 2014 juga dimenangkan Atleti.

Modal Atleti menuju final juga tidak sembarangan. Mereka mengalahkan FC Barcelona yang berstatus kampiun La Liga (10/1). Kemenangan atas Blaugrana membuat Supercopa de Espana tahun ini kali pertama tanpa juara La Liga dan Copa del Rey semusim sebelumnya.

Satu-satunya handicap Atleti pada laga nanti hanyalah absennya gelandang sekaligus kapten utama, Koke. Jebolan akademi Atleti itu cedera hamstring kanan saat melawan Barca dan harus istirahat setidaknya hingga tiga pekan ke depan.

”Saat semifinal, saya mengira Barca yang akan menang. Tetapi, perlawanan Atleti sangat baik. Hingga menit terakhir, segala kemungkinan bisa terjadi,” ucap entrenador Real Zinedine Zidane seperti dilansir AS.

Pelatih asal Prancis itu sadar bahwa tiempo Cholismo yang menjadi ciri khas Atleti musim ini bisa mengancam timnya. Ya, mayoritas gol Atleti memang terjadi pada paro kedua. Lebih tepatnya, 25 dari 33 gol di semua ajang.

Tetapi, Zizou–sapaan Zidane–juga layak pede karena laga dini hari nanti adalah final kesembilannya dengan status pelatih Real. Dan, Zidane belum pernah merasakan kekalahan. Rinciannya, 3 Liga Champions, 2 Piala Super Eropa, 2 Piala Dunia Antarklub, 1 La Liga, dan 1 Supercopa de Espana.

Uniknya, Zidane tidak pernah melawan tim yang sama dalam delapan final sebelumnya. Nah, salah satu lawan yang dikalahkan Zidane adalah Atleti pada final Liga Champions 2015-2016. Artinya, laga nanti bisa jadi ajang tepat bagi pelatih 47 tahun itu untuk meneruskan rekor sempurna di laga puncak sebagai pelatih Real sekaligus menyamai Atleti di Supercopa de Espana untuk derbi Madrileno.

Modal Real menuju final juga tidak main-main. Mereka yang tidak membawa trio BBH (Gareth Bale-Karim Benzema-        Eden Hazard) karena cedera justru tampil hebat dengan strategi pohon cemara dengan menumpuk lima gelandang saat melawan Valencia (9/1). Sangat mungkin Zidane akan menerapkan strategi serupa dini hari nanti untuk mengimbangi empat gelandang milik Atleti.

”Kami tahu (karakter permainan, Red) Real dengan baik dan mereka memiliki pelatih dengan mental juara. (Selain strategi lima gelandang, Red) Mereka juga punya dua wide attacker Rodrygo Goes dan Vinicius Junior di bench yang bisa menyulitkan kami,” ujar Simeone. (io)

loading...