Antisipasi Lonjakan Harga Ayam, Kurangi 800 Ribu Telur Fertil

ayam
KEMBALI NORMAL : Harga ayam di Pasar Flamboyan kembali normal, setelah sebelumnya sempat anjlok di bawah harga eceran tertinggi. SITI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Harga ayam mulai beranjak normal setelah sebelumnya sempat jatuh di bawah Rp 20 ribu per kg. Kenaikan harga secara perlahan mulai dirasakan sepekan terakhir. Kendati demikian, kenaikan harga tersebut mesti diwaspadai oleh dinas terkait, agar tidak terlampau melambung.

Kepala Dinas Pangan, Peternakan, dan kesehatan Hewan Kalbar, M Munsif, menuturkan, anjloknya harga ayam baru-baru ini dikarenakan produksinya yang lebih tinggi dari pada permintaannya. Kondisi yang terjadi secara nasional ini, kata dia, akhirnya diatasi oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH)  yang mengeluarkan imbauan dalam edaran 095009/SE/PK.010/F/09/2019 tertanggal 2 September 2019 lalu.

“Kebijakan ini memerintahkan sebanyak 45 perusahaan boiler untuk mengurangi secara bertahap di setiap minggunya dengan total 10 juta telur fertil, umur sebelum dua hari menetas,” kata dia, kemarin.
Kebijakan ini, lanjut dia, tak lain adalah untuk mempercepat berkurangnya produksi DOC (day old chick) dengan harapan peternak dapat menikmati harga penjualan yang stabil di atas harga eceran tertinggi ayam. Di Kalimantan Barat, dia menyebut ada lima perusahaan yang menerapkan kebijakan tersebut dengan mengurangi produksi telur fertil.

“Total produksi kita diperkirakan di tahun ini sebanyak 55 juta DOC, atau per bulan rata-rata 4,7 juta per bulan. Sementara saat ini menurut analisis kami, kebutuhan DOC bulan ini hanya sekitar 3,6 juta. Itu berarti ada kelebihan stok,” kata dia.

Karena kelebihan stok itulah, kata dia, diperlukan pengurangan telur fertil sekitar satu juta telur. Saat ini, hingga tanggal 14 September 2019, ada sekitar 800 ribu telur fertil yang dikurangi, dari total target sekitar satu juta lebih telur. Sisanya, dia belum bisa memastikan untuk mengurangi sesuai target atau justru menghentikan upaya pengurangan tersebut. “Kita terus lakukan evaluasi, apakah kita akan lanjutkan atau stop (pengurangan telur fertile),” kata dia.

Langkah untuk menghentikan pengurangan telur fertil tersebut dapat dilakukan bila hasil analisa menunjukkan pengurangan tersebut akan mengakibatkan stok lebih kecil dari permintaan yang membuat harganya menjadi naik. “Harga ayam saat ini sudah mulai naik. Tentu akan kami evaluasi lagi penerapan kebijakan ini,” pungkas dia.

Sementara itu, harga ayam di sejumlah pasar di Kota Pontianak beranjak naik sepekan terakhir, setelah sebelumnya anjlok. “Saat ini harganya Rp25 ribu per kg, naik dari hari sebelumnya,” ungkap salah satu pedagang ayam di Pasar Flamboyan, Ali Chandra (25), Selasa (17/9).

Dia mengatakan, sepekan yang lalu, harga daging ayam sempat anjlok dengan harga Rp18 ribu per kg. Anjloknya harga daging ayam pada saat itu, dikatakan dia, lantaran stoknya membeludak, sementara pembelinya sedikit. Kondisi tersebut mulai berubah, saat pasokan mulai berkurang. Dalam sepekan terakhir, kata dia, setiap hari harga ayam naik Rp1000-2000 per kg.

Dia menilai saat ini, harga ayam sudah kembali normal. Hanya saja, bila stok ayam semakin berkurang, bukan tidak mungkin justru harga ayam akan melambung. “Kalau besok kemungkinan harga ayam naik lagi,” pungkas dia. (sti)

error: Content is protected !!