Ardi Marwan Profesor Bahasa Inggris Pertama di Kalbar

guru besar bahasa inggris
PENGUKUHAN: Ardi Marwan bersama Toasin Asha disela pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang ilmu Bahasa Bahasa Inggris di Hotel Ibis Pontianak, belum lama ini. IST

Polnep Hapus Stigma Tak Bisa Hasilkan Guru Besar

Stigma, Politeknik Negeri Pontianak tak bisa menghasilkan Guru Besar telah dipatahkan oleh Ardi Marwan. Berbekal kegigihan, konsistensi, dan dukungan penuh lembaga, Ardi berhasil menjadi Profesor Bidang Ilmu Bahasa Inggris. Ia menjadi yang pertama meraih itu di tingkat politeknik se-Indonesia, juga di Kalimantan Barat.

Wajah kegembiraan terpancar dari Prof Dr H Ardi Marwan SPd MEd, saat ditemui usai pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Bahasa Inggris di Hotel Ibis Pontianak, Selasa sore (29/9). Ia bercerita, banyak dosen di Indonesia terkendala dalam proses pengusulan gelar profesor. Terlebih persyaratan dari Dikti semakin sulit setiap tahunnya.

Kualifikasi pendidikan minimal S3 dan harus linear dengan bidang tugas mengajarnya, seperti bidang bahasa inggris harus mengajar mata kuliah bahasa inggris. Ardi mengajar bahasa inggris di Jurusan Teknik Elektro, Polnep. Lalu yang menjadi dilema, persyaratan publikasi artikel di jurnal internasional bereputasi dari penerbit ternama, seperti Springer, Roadlake, Sign Direct, dan Emerald.

Minimal ada satu jurnal internasional bereputasi, baru dapat mengajukan gelar profesor ke Dikti. Artikel Ardi diterbitkan pada Jurnal Asia Pasifik Organization Researcher di Singapura oleh penerbit Springer. “Saya perlu waktu satu tahun lebih dari proses submit artikel, review, dan diterbitkan,” ujarnya.

Tambah Ardi, “Meski cuma satu, untuk bisa tembus jurnal internasional perjuangannya luar biasa sulit. Jika artikel kita diterima, masuk tahap pertama review internal. Prosesnya biasa dalam dua minggu sampai satu bulan, kadang bisa lebih lama.”

Jika lolos, masuk tahap kedua, review eksternal minimal dua editor. Mereka tidak tahu siapa yang direview, pemilik artikel pun tidak tahu siapa yang mereview. Hasil review disampaikan via email untuk proses revisi, biasaya revisi major. “Sampai tahap ini sudah luar biasa, karena bisa saja reviewer eksternal anggap artikel kita tidak layak dipublikasikan. Proses ini paling cepat empat bulan, normalnya enam bulan sampai satu tahun. Syukur penulisan artikel ini dibimbing mantan pembimbing waktu saya S3,” katanya.

Ardi pun mendapat dukungan luar biasa dari Polnep. Ia tak menemukan kendala sedikitpun, dalam prosesnya ia sangat difasilitasi lembaga. “Banyak terima kasih kepada lembaga tempat saya bernaung. Alhamdulillah, dukungan lembaga sangat positif semua,” ujarnya.

Bagi Ardi, profesor bukan sekedar gelar kebanggaan, tetapi juga jabatan akademik yang menjadi peluang semua dosen. Gelar profesor bukan untuk kemewahan semata, tetapi lebih menunjukkan upaya meningkatkan kompetensi sebagai pendidik bangsa. “Ini menjadi upaya strategis yang ditunjukkan lembaga unutk semakin profesional di bidang pendidikan. Rekan dosen S3 semoga bisa segera urus gelar profesornya, jangan terlalu asik mengajar, luangkan waktu untuk publikasi jurnal juga,” katanya.

Ditemui di ruangannya, Ir HM Toasin Asha MSi, Direktur Polnep menyampaikan, civitas akademika berbahagia, untuk pertama kalinya Polnep mengukuhkan Guru Besar. Pada 10-20 tahun lalu, dosen di Polnep beranggapan menjadi Guru Besar mustahiil. Ini karena terbentur aturan, dosen Polnep paling mentok di Lektor Kepala dengan golongan 4C.

“Saya dan Prof Ardi sering berdiskusi tentang karir dosen di Polnep. Saya bahkan sampaikan, jika nanti tidak bisa jadi Guru Besar di Polnep, pak Ardi bisa cari unversitas lain demi raih gelar itu. Tapi semua itu tidak terjadi, Alhamdulillah, pak Ardi sampai hari ini masih dosen Polnep dan telah dikukuhkan sebagai Guru Besar. Beliau sudah mengapuskan stigma di Polnep selama ini,” ujar Toasin.

Menurutnya, baru ada tujuh dari 43 politeknik di Indonesia yang memiliki guru besar, Ardi Marwan merupakan profesor ke-10 di politeknik se-Indonesia. Ia berharap, setelah Ardi bisa menyusul dosen lain menjadi guru besar di Polnep. Saat ini ada dua dosen yang masih proses pengusulan menjadi guru besar, yaitu Dr Purnamawati dan Dr Ir Hj Nurmala MM. “Semoga prosesnya berjalan lancar dan mendapat persetujuan,” katanya.

Ia menegaskan, menjadi guru besar bukan akhir pencapaian karir seorang dosen, tetapi justru menjadi spirit yang senantiasa membangkitkan inspirasi baru. “Melahirkan karya-karya yang lebih brilian dan bermanfaat bagi khalayak umum,” tutupnya. (mde)

error: Content is protected !!