Asosiasi Warkop Minta Kegiatan Usahanya Dibuka Kembali

WARKOP: Asosiasi warung kopi Pontianak saat audiensi dengan DPRD Kota Pontianak untuk meminta aktivitas usahanya normal kembali, dengan pemberlakukan protokol kesehatan. ARISTONO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Para pelaku warung kopi dan kafe di Pontianak mengeluh sudah tak mampu lagi bertahan sejak dilakukannya pembatasan operasional atas usaha mereka pada 20 Maret lalu. Mereka berharap kenormalan baru juga menyentuh sektor warung kopi yang banyak menyerap tenaga kerja dan pendapatan bagi Kota Pontianak. Sekretaris Asosiasi Warung Kopi Pontianak (Awakpon), Yudi Lie mengatakan sudah saatnya aktivitas warung kopi dibuka kembali.

“Kami menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Tidak boleh menerima konsumen di dalam warung. Kalau hanya beli bawa pulang, orang lebih memilih bikin kopi sendiri di rumah. Omzet kami hampir tidak ada selama beberapa bulan ini atau bisa dibilang nol rupiah. Sebagian memilih tutup sekalian dan merumahkan karyawan,” ungkapnya saat audiensi Awakpon dengan Ketua Fraksi Amanat Keadilan Bangsa DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar, kemarin (2/6).

Soal kenormalan baru atau new normal, pihaknya sangat setuju dengan hal tersebut. Mereka lebih ingin ada protokal kesehatan ketat di dalam warung daripada tidak ada operasional sama sekali. “Kami siap untuk mewajibkan pengunjung pakai masker. Mungkin posisi duduk juga bisa diatur. Daripada kita tidak buka sama sekali. Karena biaya sewa tempat, cicilan kredit, dan pengeluaran kami jalan terus. Sementara pemasukkan tidak ada. Kami siap diawasi,” papar dia.

Di Pontianak saja, berdasarkan data Pemkot. Pajak Restoran dimana usaha kafe dan warung kopi masuk di dalam kategori itu, ditargetkan menyumbang lebih dari Rp70 miliar per tahun. Atau sekira Rp5,83 miliar per bulan. Pajak Restoran dikenakan 10 persen dari transaksi. Artinya setiap bulan, omzetnya tembus Rp58 miliar, atau Rp4,85 miliar per hari. Dengan catatan, angka itu hanya didapat dari usaha yang sudah menjadi Wajib Pajak. Pasalnya banyak warung kopi dan rumah makan yang tidak tercatat.

Sementara itu, Zulfydar Zaidar meminta warung kopi dapat segera beroperasi. Termasuk sektor usaha UMKM lainnya. Menurutnya ekonomi di bawah harus digerakkan. Karena daya beli masyarakat sudah rendah sekali. “Roda ekonomi harus segera diputar kembali. Orang butuh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ungkap dia.

Namun dia berharap new normal yang berlaku tidak mengecilkan pemutusan mata rantai Covid-19. “Protokol Covid-19 tetap harus dijalankan oleh pemilik warkop, karyawan dan konsumen. Sediakan jarak antar meja. Juga mungkin bisa menyiapkan tempat cuci tangan. Atau konsumen bisa membawa hand sanitizer sendiri. Dan pemerintah bisa mengawasi setiap warkop,” papar dia.

Menurut Zulfydar warung kopi, kendati bisnis kecil namun sangat menghidupkan usaha lainnya. “Warung kopi adalah tempat hidup bagi banyak sektor lain. Misalnya para tukang parkir, pengamen, penjual camilan, hingga penyuplai bahan baku dan produk-produk lainnya. Tutupnya warung kopi sama dengan hilangnya pendapatan mereka,” kata dia.

Warung kopi juga adalah ruang publik dan tempat berbisnis. Nongkrong di warung kopi seolah menjadi agenda wajib saban hari bagi sebagian masyarakat. Warung kopi sudah menjadi habitat sesaat bagi mereka. Selain itu, fungsi kedai kopi yang sering dijadikan tempat istirahat atau melepas lelah setelah pulang kerja, tempat bersantai, tempat diskusi pekerjaan, tempat bernegosiasi, tempat transaksi bisnis, serta seringkali dijadikan tempat meeting atau yang lain sebagainya. (ars)

error: Content is protected !!