Awas Terjebak Scrolling Medsos

Ghulbuddin Himamy // Psikolog

SCROLLING medsos adalah salah satu kegiatan yang mudah dan digandrungi kawula muda saat ini. Sebagian berpendapat aktivitas ini banyak manfaat. Tetapi, lupa bahwa aktivitas ini dapat menimbulkan mudharat.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Memang benar update informasi jadi salah satu manfaat, namun akan menjadi buruk ketika lupa waktu sehingga menunda pekerjaan yang seharusnya dikerjakan. Parahnya lagi aktivitas ini bisa dilakukan sampai seharian.

Bukan hanya lalai mengerjakan tugas dan kewajiban, aktivitas scrolling medsos ini juga dapat menurunkan produktivitas. Yang seharusnya bisa menghasilkan kreativitas, jadi hanya duduk menatap layar smartphone.

Psikolog Ghulbuddin Himamy, M.Psi mengatakan anak muda adalah masa di mana seseorang sudah bukan anak-anak, tapi juga belum dewasa sepenuhnya. Tak heran masa ini paling membingungkan. Bisa dikatakan masa ini kawula muda sedang mencari jati diri, panutan dan tujuan hidupnya. Oleh karena itu, anak muda sangat lah cocok dengan media sosial (medsos). Hal ini dikarenakan media tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan anak muda.

Hanya dengan scrolling medsos seperti melihat foto, menonton video, browsing atau bahkan bermain game online, anak muda dengan mudah mencontoh orang lain yang menurutnya keren untuk dijadikan panutannya baik dalam hal berpenampilan, tutur kata dan ber-attitude.

Anak muda beranggapan melalui medsos, mereka dapat berkembang dan mengekplorasi diri untuk menunjukkan kepada orang lain siapa mereka dan apa kemampuan mereka dengan bebas.

“Hal ini yg menyebabkan anak muda lebih rentan kecanduan scrolling medsos,” kata Imam.

Imam menyebutkan ada beberapa tahap seseorang bisa dikatakan kecanduan medsos. Tanda awal adalah ia ingin menjadi pusat perhatian di medsos dengan cara mengunggah foto selfie yang sempurna dan mendapat banyak likes dan comment dari pengguna medsos lain.

Saat ia ingin tampil sempurna di dunia maya, ia akan mengedit foto-foto yang bertujuan membuat iri hati orang lain, inilah tanda awal seseorang kecanduan medsos. Ia mulai menghabiskan waktu untuk menghasilkan foto, video, quote atau caption yang sempurna menurutnya. Melihat seberapa banyak likes dan followers.

“Ia tenggelam dalam dunia maya untuk menampilkan sisi sempurnanya di medsos pada orang lain,” sambungnya.

Tahap selanjutnya selalu memeriksa medsos saat bangun tidur. Rutinitas pagi harinya diawali dengan browsing medsos (Instagram, Facebook, Tiktok dan lainnya), karena takut terlewatkan hal-hal viral yang terjadi selama tidur.

Saat bangun tidur, smartphone adalah barang penting dan selalu dicari, begitu pula saat akan tidur. Tanpa disadari smartphone membuatnya lupa waktu dan terjaga karena scrolling medsos.

Tahap ketiga adalah tahap di mana ia selalu online di mana dan kapanpun, bahkan saat bekerja, saat di jalan raya, waktu tidur, atau bahkan di kamar mandi sekalipun. Tahap terakhir adalah saat merasa tak bisa hidup tanpa internet. Ada istilah mengenai gangguan akan takut ketinggalan berita (kudet) atau dikenal dengan istilah ‘Fear of Missing Out’ atau FOMO.

“Saat tak ada internet, ia akan merasa sangat gelisah, kesal, hampa karena baginya, internet adalah segalanya,” ucap Imam.

Psikolog di Unit Pelayanan Disabilitas dan Asesment Center Pontianak ini menuturkan jika kecanduan medsos ini terjadi, tentu saja berdampak pada psikologis seseorang.  Tak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia medsos, orang lain akan menunjukkan kelebihan yang dimiliki, seperti tampang yang cantik dan tampan, hidup yang glamour, jabatan yang bagus di dalam masyarakat. Walaupun bisa saja ada beberapa hal yang direkayasa (fake).

Terlepas dari nyata atau tidaknya, tetap saja hal ini bisa menyebabkan seseorang merasa mudah iri dengan pencapaian orang lain, rasa rendah diri pun muncul karena ia mulai membanding-bandingkan kehidupan atau tampang dirinya dengan orang lain.

“Dengan begitu ia akan merasa hidup orang lain lebih baik daripada diri sendiri,” tuturnya.

Ia pun akan menjadi pribadi yang rendah diri dan rasa tak percaya diri dalam menghadapi dunia nyata. Ia merasa bahwa dunia maya lebih baik dan nyaman dibanding saat berada di dunia nyata.

Ketika hal ini telah terjadi, rasa empati di lingkungan sosial kehidupan nyata lama-kelamaan akan hilang. Ia tak terlalu peduli dengan keadaan di rumah, tempat kerja, atau sekolah karena sudah tenggelam di dunia maya. Di samping itu, pola tidur juga akan kacau. Ia akan lupa waktu dan menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk scrolling medsos, sehingga menurunkan daya konsentrasi dan produktivitas dalam beraktivitas sehari-hari.

Imam menyatakan dampak terburuknya tentu saja akan mengalami stres dikarenakan kacaunya keseimbangan aktivitas dan kesehatan tubuhnya dalam menjalani hidup.

“Namun, keadaan ini tentu saja dapat diatasi jika ia memang memiliki niat kuat untuk sembuh dari kecanduan medsos,” ujar Imam.

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah jauhkan dan matikan smartphone saat melakukan aktivitas bersama, baik belajar, makan dan tidur. Kemudian, hapus akun medsos yang membuat kecanduan. Habiskan waktu luang dengan obrolan berkualitas dengan orang tua atau hangout dengan teman-teman dekat.

Ingatlah bahwa semua yang ada di medsos hanya salah satu sisi orang lain yang ingin diperlihatkan. Tak selamanya yang terlihat indah akan selalu indah. Bisa saja senyum mereka di media sosial adalah cara mereka untuk lari dari kerasnya dunia nyata yang sedang mereka hadapi. Imam mengungkapkan tentu saja banyak dampak negatif yang didapat jika kecanduan scrolling medsos tak segera diatasi, terutama dalam hal kesehatan, baik  fisik dan mental.

Seperti di jelaskan sebelumnya, saat lupa waktu dikarenakan sibuk scrolling medsos, jam tidur akan terganggu. Kurangnya jam tidur atau bahkan tidur yang tak berkualitas jelas-jelas mengganggu kesehatan, dan akhirnya akan berdampak pada daya konsentrasi dan produktifitas, serta daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Di samping itu, dari segi kesehatan mental, penggunaan medsos yang berlebihan akan berdampak pada pola pikir dan gaya hidup. Karena apa yang ditampilkan seseorang di media sosial hanyalah persentase kecil dari seluruh kehidupannya. Tak sepenuhnya mereka melihatkan apapun yang dirasakan dan dipikirkan, apa yang telah dilalui, maupun apa saja yang sebenarnya dimiliki.

Keinginan untuk berpenampilan dan berperilaku seperti panutannya di dunia maya juga akan membuat seseorang tak menjadi diri sendiri dan lama-kelamaan akan kehilangan jati diri. Perlu diingat, tak semua hal yang dilakukan oleh panutan di medsos baik untuk dicontoh. Belum lagi komentar-komentar negatif yang diunggah di dunia medsos, tentu saja hal ini akan berdampak terhadap mental. Komentar negatif yang bahkan mengarah ke cyberbullying (perundungan di dunia maya) akan membuat sedih, tersakiti, depresi, bahkan memutuskan bunuh diri.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!