Ayah & Ibu Berbeda Pola Asuh

for her
Hispanic girl with hostile parents

Tak jarang ayah dan ibu berbeda pendapat dalam cara menunjukkan kasih sayang pada anak. Perbedaan ini juga terjadi dalam pola asuh dan cara mendidik buah hatinya. Jika tak bisa menyiasati perbedaan ini, bisa berujung perdebatan dan pertengkaran. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Pola asuh adalah interaksi antara anak dan orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis, serta pengenalan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Psikolog Yeni Sukarini, S. Psi mengatakan wajar ayah dan ibu berbeda dalam pola asuh, tetapi jika perbedaan tersebut tak terlalu jauh. Adanya perbedaan bisa menjadi variasi, pembanding, dan penguat. Perbedaan yang ada dapat membuat pemahaman anak lebih luas.

Namun, jika terlalu signifikan, perbedaan ini menjadi masalah. Bahkan, bisa menjadi bumerang bagi buah hati tercinta.

“Apabila orang tua tetap bersikukuh dengan perbedaan pola asuh ini, bukan tidak mungkin anak menjadi bingung harus mengikuti pola asuh siapa,” kata Yeni.

Menurut Yeni, cara penerapan pola asuh bisa dibicarakan sebelum atau setelah menikah.

Keduanya wajib saling memberikan pandangan sehingga akan diketahui berbeda atau tidak. Jika berbeda, bisa mencari jalan tengah dan menyepakati keputusan terbaik.

Yeni menyatakan jika terlanjur berbeda pola asuh, bisa berdiskusi. Utarakan kelemahan dan kelebihan. Jika ada kelemahan dari pola asuh tersebut, cari solusi bersama.

“Utarakan apa yang membuat aturan itu muncul. Mengapa harus demikian. Ayah dan ibu harus saling memberikan alasan dalam penerapan pola asuh pilihannya,” ujarnya.

Psikolog di Biro Psikologi Phenomenon ini menuturkan jika tak ada titik temu, bisa melibatkan kakek dan nenek. Mereka pasti berpengalaman dalam menangani masalah tersebut dan memiliki solusi terbaik. Jika tidak mendapatkan hasil terbaik, ayah dan ibu bisa berkonsultasi dengan ahlinya (psikolog anak).

“Saya percaya setiap orang tua pasti ingin mengarahkan anaknya menjadi pribadi yang baik. Hanya saja pola asuhnya yang berbeda,” tutur Yeni.

Kendati demikian, masih saja ada orang tua yang tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Yeni menyarankan kepada ayah dan ibu untuk memiliki komitmen dan kesapakatan terhadap pola asuh yang ada.

Jika anak bisa berpikir secara matang, perbedaan yang ada membuat wawasannya luas dan empatinya lebih tinggi. Dirinya bisa menempatkan kapan harus menggunakan aturan ibu, dan kapan harus menggunakan aturan ayah. Tetapi, jika perbedaan terlalu signifikan, anak merasa bingung dan  tidak akan melakukan aturan yang diterapkan di rumah. Dia lebih memilih mencari aturan baru di luar yang belum tentu menjadikan suatu kebaikan bagi dirinya. .

“Penting bagi orang tua untuk memikirkan kembali jika ingin menerapkan pola asuh berbeda sesuai dengan keinginan masing-masing. Karena yang rugi adalah anak,” pesan Yeni.