Ayo Hilangkan Ego

badminton
Hafiz Faizal - Gloria E. Widjaja

Ganda Campuran Perbaiki Komunikasi

JAKARTA–Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faizal/Gloria E. Widjaja belum bisa memenuhi ekspektasi sebagai ganda campuran terbaik Indonesia. Penampilan mereka tidak konsisten. Kadang bagus sekali, kadang hancur sekali. Padahal, sebagai pasangan nomor 7 dan 10 dunia, teknik dan fisik mereka sudah sangat baik.
Menurut pelatih kepala ganda campuran pelatnas Richard Mainaky, masalah mereka ada pada soliditas.

Seringkali kekalahan yang dialami oleh Praveen/Melati atau Hafiz/Gloria disebabkan oleh tidak adanya komunikasi yang baik di lapangan. Contohnya, jika salah seorang pemain mulai sering membuat kesalahan. Bukannya mencari solusi, mereka malah saling adu emosi.

Hal itu tampak jelas ketika Praveen/Melati bikin kejutan (buruk) dengan kalah straight game di babak pertama Indonesia Open Juli lalu. Padahal level mereka jauh di atas sang lawan, Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich asal Jerman. Namun, mereka takluk 20-22, 14-21. Kecewa berat pastinya.

”Saya lihat ego mereka masih sama-sama tinggi. Kalau latihan misalnya patner lagi nggak enak di program pertama, lalu program selanjutnya nggak mau patneran lagi. Soalnya nggak mood. Itu salah. Masa pas pertandingan mau ganti patner,” papar Richard gemas. ”Nah, seharunya cari solusi. Efeknya itu kelihatan banget di pertandingan,” lanjut pelatih 54 tahun tersebut.

Hal-hal non-teknis seperti itu coba diredam oleh Richard selama latihan. Dalam dua minggu persiapan menuju China Open, Praveen/Melati dan Hafiz/Gloria dipaksa memperbaiki komunikasi. Hasilnya mulai terasa dalam sepekan terakhir.

”Bahasa tubuh mereka kalau lagi nggak enak itu sudah saling menunjukkan dukungan,” ungkap Richard. ”Selama ini, kalau dapat tekanan lawan sepertinya mereka jadi sulit, terus main terlalu hati-hati dan panik. Semua itu dari kebiasaan di latihan. Itu yang kami benahi,” imbuh dia.

badminton
Praveen Jordan – Melati Daeva Oktavianti

Selain komunikasi, faktor teknik dan fisik tetap digenjot. Apalagi drawing China Open sudah keluar. Di babak pertama, Praveen/Melati bakal menghadapi India Satwiksairaj Rankireddy/Ashwini Ponnappa, sementara Hafiz/Gloria langsung bertemu unggulan keempat Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai.

Melati, ditemui setelah latihan kemarin, mengaku punya motivasi kuat bermain di China Open. Apalagi mengingat hasil buruk dia dan Praveen di Kejuaraan Dunia 2019. Mereka kalah di babak ketiga oleh pasangan Belanda Robin Tabeling/Selena Piek.

”Jujur saja, sempat kecewa dan menyesal. Mungkin ini ujian juga kalau kami tidak boleh lengah,” tutur Melati. ”Saya tidak pernah meremehkan lawan. Tapi apa pun bisa terjadi di lapangan. Di China Open ini, kans ada tapi pasti ada juga ujiannya,” papar pemain 24 tahun itu.

Berada di pul atas sebagai unggulan keenam, Praveen/Melati berpeluang menghadapi ganda campuran nomor satu dunia Zheng Siwei/Huang Yaqiong di perempat final. Hafiz/Gloria bisa juga bertemu dengan pasangan nomor dua dunia Wang Yilyu/Huang Dongping di semifinal.

Kendati dua pasangan Tiongkok itu masih jadi momok, skuad Merah Putih memilih untuk tidak terlalu fokus ke sana. Mereka fokus di tiap pertandingan. Masih ada celah untuk mengalahkan dominasi keduanya. Buktinya, Hafiz/Gloria pernah mengalahkan Zheng/Huang di Japan Open lalu.

”Sebagai pelatih, saya selalu bilang kalau peluang selalu ada, mau siapa pun lawannya,” tegas Richard. ”Yang penting bagaimana atlet siap dari segi fisik, teknik, dan mental. Fokus itu dulu saja,” tandas pelatih yang hobi olahraga menembak itu. (feb/na)

loading...