Ayo Saling Menjaga Jarak Fisik Antar Kita

OLEH LEO SUTRISNO 

Covid-19 dalam waktu sangat singkat menyebar ke seluruh dunia. Hampir tidak ada satu pun negara yang terbebas, termasuk Indonesia. Kita semua ‘diperintahkan’ agar melakukan ‘social distancing’ – ayo saling menjaga jarak fisik antar kita. WHO menyarankan jarak yang standar dua meter (6 ft).

Penyebaran Covid-19 antar manusia melalui percikan air, maaf, ludah seseorang. Dalam situasi normal, jarak rerata terjauh percikan air tsb pada saat brbicara, batuk, atau bersin kurang lebih satu meter (1m). Karena itu, kita diminta tidak berada dalam kerumunan banyak orang. Akan lebih baik jika kita tinggal di rumah.

Apakah cara ini efektif menghambat penyebaran Covid-19? Jawabnya, semoga ‘ya’, menghambat. Mengapa masih semoga? Karena, kita belum punya data resmi yang dikeluarkan dari megara mana pun.

Kegiatan semacam untuk menghambat penyebaran virus influensa telah dilakukan di banyak negara. Pada tahun 2017, James A.G.Crispo, Lindsey Sikora, dan Daniel Krewski, membuat rangkuman sistematis dan meta-analisis 16 penelitian tentang pengaruh ‘proteksi diri’ untuk melawan pandemi infeksi influensa-2009 (H1N1). Ditemukan bahwa menjaga tangan yang heiginik (misal: membasuh dengan air mengalir dan bersabun) secara signifikan (23%) berhasil melawan penyebaran penyakit influensa-2009. Demikian juga penggunaan masker tutup muka (22%). Sayang, rangkuman ini tidak ditemukan data yang cukup dampak dari etika batuk atau bersin. Demikian juga dengan dampak dari jaga jarak antar manusia.

Syukurlah, Faruque Ahmed, Nicole Zviedrite, dan Amra Uzicanin, 2018, memetaanalisis 15 penelitian yang terbit antara 1 Jan 2000 dan Mei 2017 tentang pengaruh jaga jarak pada penurunan penyebaran influensa-2009 (H1N1). Ditemukan bahwa jaga jarak dapat mengurangi risiko terkena penyakit ini sebesar 23%. Dampaknya akan lebih besar jika digabungkan dengan usaha yang lain baik secara medis (mengkonsumsi vitamin) maupun non-medis (misal: mindfulness).

Jadi, jaga jarak antar manusia dapat menurunkan kemungkinan penyebaran cirus influensa-2009 (H1N1) yang juga pandemik. Sekarang ini, banyak negara, termasuk di Indonesia, mengadopsi cara ini untuk menghambat penyebaran virus Covid-19 yang juga pandemik bahkan di seluruh dunia.

Walau kebijakan ini oleh guru besar pandemiologi, John P.A. Ionnidis (2020) disebut sebagai ‘A fiasco in the making’, ‘the show must go on’. Kita semua mesti mematuhi kebijakan ini. Di antaranya: kerja dirumah, belajar di rumah, bersosialisasi dari rumah, berekreasi di rumah masing-masing. Intinya, kita mengisolasi diri sekaligus meningkatkan perilaku hidup sehat.

Dampaknya, bagi banyak orang, selain mengganggu penghasilan juga menimbulkan rasa ‘kesepian’. Dikabarkan, pemerintah sudah membuat kebijakan untuk membantu masyarakat yang lemah. Demikian juga, sejumlah filantopis juga telah melakukan aksinya. Semoga dapat membantu meringankan secara ekonomi mereka yang terdampak secara ekonomi.

Bagi mereka yang mengalami ‘penderitaan’ kejiwaan, misalkan kesepian, dan sejumlah saran untuk itu. Misalnya, Amanda Ripley (18 Maret 2020) menyarakan empat cara mengusir rasa kesepian, sehingga betah di rumah. Di antaranya adalah: lebih rajin ber-olah raga dan mengembangkan ‘social closening’ (tanam dalam pikiran bahwa silahtirahmi sama baiknya dengan isolasi diri untuk meningkatkan imunitas tubuh), serta melakukan sesuatu, walau kecil, untuk orang lain.

Saran yang keempat adalah melakukan ‘mindfulness’-kesadaran diri bahwa aku ada di sini di saat ini. Bagi pemula, kegiatan ini tentu tidak mudah. Intinya, kita berefleksi bahwa ‘saat ini kita berada di sini’. Tetapi bukan karena pilihan kita. Namun, kita harus tetap hidup selamat dalam keadaan ini saat ini. Untuk membantu, pembaca dapat mencari program-program ‘mindfulness’ di youtube. Dengan cara ini kita dapat hidup damai dengan keadaan saat ini.

Kegiatan ‘mindfulness’ juga saya (LS) terapkan pada awal perkuliahan. Selama empat pertemuan pertama tiap semester beberapa kelas saya ajak untuk memakai waktu 10 menit lebih dahulu untuk melakukan mindfulness. Hasilnya, para mahasiswa lebih mudah memfokuskan perhatiannya pada kuliah saat itu.

Kita semua berharap waktu mendatang akan kembali seperti tahun 2018, kehidupan yang ‘normal’ dan ‘landai’. Semoga!**

Read Previous

Cegah Penyebaran Covid-19, PLN Hitung Pemakaian Listrik Rata-Rata 3 Bulan Terakhir

Read Next

MUI Kalbar Serukan Tiadakan Shalat Jumat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *