Tokimin, Pembuat Kaki Palsu Penderita Kusta
Bahagia Bisa Membuat Orang Lain Bahagia

PEMBUAT KAKI PALSU: Tokimin (kanan) berada di ruang kerjanya di Panti Lepra Alverno di Singkawang, Kalimantan Barat. Tokimin merupakan penyandang disabilitas yang ahli membuat kaki palsu bagi penderita kusta.

Belasan tahun Tokimin mengabdikan diri sebagai pembuat kaki palsu bagi para penderita kusta. Senyum para pengguna kaki palsu buatannya adalah kebahagiaan tersendiri bagi pria 45 tahun itu.

HERIYANTO, Singkawang

NAMANYA Tokimin. Pria kelahiran Desa Ampar, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, ini layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Setidaknya bagi para penderita kusta yang tinggal di Panti Lepra Alverno, Singkawang, Kalimantan Barat. Berkat tangan Tokimin, puluhan orang yang kehilangan kaki karena kusta kini meraih asa, melengkapi raga yang hilang akibat infeksi bakteri Mycobacterium leprae.

Saat ini Tokimin telah membuat lebih dari 20 kaki palsu bagi penderita kusta. Pemesan kaki palsunya selain dari Panti Lepra Alverno juga dari luar daerah. Misalnya, Roban, Palimanan, dan Sambas.

Selain bagi penderita kusta, Tokimin juga membuatkan kaki palsu bagi mereka yang kakinya diamputasi karena kecelakaan, sakit diabetes, atau hal lain.

MANUAL: Kaki palsu buatan Tokimin diletakkan di sebuah meja di ruang kerja pria 45 tahun itu. kaki palsu itu dikerjakan secara manual.

Panti Lepra Alverno beralamat di Jalan Gunung Sari, Singkawang. Sebelumnya, panti ini merupakan rumah sakit khusus bagi penderita kusta, yakni RS Kusta Alverno. Perubahan rumah sakit menjadi panti ini sejak 1 Maret 2021.

Panti Lepra Alverno menempati bangunan yang asri bergaya klasik di kaki sebuah bukit. Di salah satu ruangan di panti inilah, Tokimin sehari-hari bergelut dengan pembuatan kaki palsu. “Sudah puluhan kaki palsu yang saya buat,” ujar Tokimin kepada Pontianak Post, pekan lalu.

Pembuatan kaki palsu bagi penderita kusta sedikit berbeda dari kaki palsu pada umumnya. Terutama dari sisi bentuk serta ukuran kakinya. Bisa saja, bentuk dan ukuran kaki kanan berbeda dari kaki kiri atau sebaliknya. “Sebelum kaki palsunya dibuat, saya harus mengukur dulu kakinya. Bisa saja antara kaki kanan dan kirinya berbeda ukuran dan bentuknya,” ujar pria dua anak itu.

Setelah bentuk dan ukurannya ditentukan, Tokimin lalu merancang polanya. Dia kemudian menggambar kaki palsu yang akan diproduksi. Pembuatan satu kaki palsu bisa memakan waktu dua minggu. Setelah kaki palsu itu jadi, baru kemudian dicoba lagi pada kaki si penderita kusta.

Semua dikerjakan secara manual. Butuh ketelitian memang. Kalau tidak, bisa-bisa sepatunya tak bisa digunakan.

Gambar desain kaki palsu bagi penderita kusta yang akan dikerjakan Tokimin.

Selain membuat kaki palsu, Tokimin juga membuat sepatu dan sendal khusus bagi para penderita kusta. Di masa lalu, banyak penderita kusta yang kehilangan kakinya karena digerogoti bakteri Mycobacterium leprae.  Telapak kaki bekas penyakit kusta ini tentu tak bisa mengenakan sepatu atau sendal seperti yang dipakai masyarakat kebanyakan. Karena itulah perlu ada sepatu khusus bagi mereka.

“Itulah mengapa saya juga berinisiatif membuat sepatu dan sendal khusus bagi penderita kusta,” ujarnya.

Tokimin menyebutnya: pengabdian. Semuanya tentu bukan demi uang. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa membuat orang lain bahagia. Itulah alasan Tokimin bergelut dengan pembuatan kaki palsu selama belasan tahun ini.

Tokimin pria yang ramah. Sekilas tidak ada yang luar biasa dari penampilannya. Pria itu mengenakan kaos berkerah, bercelana panjang, dan bersepatu santai saat kami menyambanginya siang itu. Saat itu Tokimin baru saja  menyelesaikan sepasang  kaki palsu. Dia memajang karyanya itu di sebuah meja. Kaki palsu itu diperuntukkan bagi seorang penderita kusta di Panti Lepra, tempatnya mengabdi selama ini.

“Saya merasa bahagia, ketika melihat orang yang saat datang pakai tongkat, lalu dia mencoba kaki palsu buatan saya, dan menggunakannya. Senang sekali melihat senyum di wajahnya,” ujar Tokimin tentang perasaannya saat kaki palsu buatannya bermanfaat bagi orang lain.

Seorang Pengguna Kaki Palsu

Tokimin, pria kelahiran 11 Januari 1976 ini merupakan seorang pengguna kaki palsu. Kaki kirinya menggunakan kaki palsu yang dibuat oleh Yayasan Sabatu di Pontianak.

Saat lahir hingga remaja, Tokimin punya kaki yang lengkap dan normal. Namun kejadian pada 1994 itu tidak akan dilupakannya. Saat itu Tokimin merantau ke Malaysia. Di sana dia bekerja sebagai buruh penebang kayu hutan sejak 1993.

“Suatu hari saat bekerja, saya mengalami kecelakaan. Sebatang kayu besar menimpa kaki saya. Saya dilarikan ke rumah sakit. Tapi luka parah, kaki saya harus diamputasi,” ujarnya.

Setelah itu Tokimin hidup tanpa kaki kiri.  Setelah kecelakaan itu dia pulang ke kampung halamannya di Bengkayang. “Sampai tahun 1999 saya tidak bekerja, hanya membantu orang tua saja. Menoreh karet atau menanam padi,” cerita lulusan Paket C itu.

Saat itu dia belum menggunakan kaki palsu dan hanya menggunakan tongkat. Pada 1999, Tokimin bertemu seorang Bruder bernama Samuel. Kepada Samuel, Tokimin minta bantuan dicarikan kaki palsu. Dengan hanya mengenakan tongkat aktivitasnya tidak begitu leluasa.

Bruder Samuel lalu menghubungi Bruder Ryan, seorang Kapusin asal Belanda di Pontianak. Samuel menyampaikan keinginan Tokimin tersebut pada Ryan. Bruder Ryan lalu menyarankan Tokimin untuk datang ke Pontianak. Dia akan dibuatkan kaki palsu di Yayasan Sabatu.

Pada pertengahan tahun 1998 Tokimin mulai dibuatkan kaki palsu. Kakinya diukur oleh Pegawai Yayasan Sebatu. “Akhirnya saya bisa menggunakan kaki palsu. Itu awal 1999. Saya bersyukur sekali,” ungkapnya.

Setelah menggunakan kaki palsu, muncul niat Tokimin untuk memiliki keahlian membuat kaki palsu. Sebagai seorang difabel dia merasakan sendiri betapa pentingnya keberadaan kaki palsu.

Keinginan itu diutarakan pada seorang bruder. Bruder tersebut lalu mencarikan jalan agar Tokimin bisa belajar membuat sepatu. Keinginan itu pun terwujud.  Sebuah yayasan di Jogjakarta  menawarkan pelatihan membuat kaki palsu. Bruder lalu mengirim Tokimin ke sana pada Maret 1999.

Di Jogja, Tokimin mendapatkan pelatihan pembuatan kaki palsu di Pusat Rehabilitasi Yakum, Kaliurang, Jogjakarta. Pelatihan berlangsung selama satu tahun. “Kesempatan ini tak sia-siakan. Saya belajar sungguh-sungguh agar setelah pulang bisa memproduksi kaki palsu,” ujarnya.

Usai dari Jogkakarta Tokimin bekerja di Yayasan Sabatu. Keahlian yang dia terima selama pelatihan di Jogja diterapkan di sini. Aktivitas itu dilakoninya dari tahun 2000 hingga 2007.

Pada 2007 dia mengundurkan diri dan pulang ke kampung halaman. Pada 2011, Tokimin dihubungi Suster Angelina di RS Alverno. Saat itu dibutuhkan tenaga yang bisa membuat kaki palsu bagi para penderita kusta di rumah sakit itu.

Mengikis Stigma Penderita Kusta

Mantan Direktur Rumah Sakit Alverno, Dokter Barita P Ompusunggu mengatakan, menangani pasien kusta adalah bentuk pelayanan pada kemanusiaan. Tidak sedikit pasien kusta yang ditolak keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. “Penderita kusta masih mendapat stigma negatif,” ujar Dokter Barita yang kini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Singkawang itu.

Penyakit kusta atau lepra, kata Barita, masih dianggap menjijikkan serta menular sehingga siapa pun yang mengidapnya harus diasingkan dan dijauhi. “Penderita kusta sering merasa tidak percaya diri, malu, takut, terasing, terbuang, hingga memandang rendah diri sendiri,” lanjut Barita. “Stigma inilah yang coba dikikis di Rumah Sakit Alverno.”

Seorang penderita kusta kehilangan jari tangannya karena digerogoti bakteri penyebab penyakit kusta, Mycobacterium leprae.

Dulu, para penderita kusta harus diisolasi ke suatu tempat yang jauh dari permukiman hingga mereka meninggal dunia.  Saat itu, penyakit kusta dianggap sebagai kutukan. Pengidapnya dianggap kotor. Banyak yang dibuang ke hutan atau diisolasi di suatu tempat. Mereka dilarang pulang hingga akhirnya banyak yang meninggal di tempat pembuangan.

Meski tak lagi ekstrem seperti dulu, penolakan terhadap pengidap kusta masih terjadi. Walaupun sudah dinyatakan sembuh, mereka tetap dijauhi. Tidak hanya oleh masyarakat sekitar, tetapi juga kalangan keluarga.

Ada sebagian yang takut jika berdekatan dengan pengidap kusta. Kondisi seperti ini dialami Tjiu Kan Hua (79).  Tjiu sudah belasan tahun tinggal di bangsal Rumah Sakit Alverno. Sehari-hari kehidupannya dihabiskan di sekeliling rumah sakit. Kamar, selasar, kamar, selasar. Dia duduk di sebuah kursi roda. Kaki kanannya memang sudah cacat. Telapak kakinya buntung digerogoti penyakit lepra atau lebih dikenal kusta. Ditemani beberapa teman sebangsal, Tjiu biasa bersantai di selasar.

Persisnya di depan kamar tidur yang juga ditinggali penghuni lain. Seperti siang itu, Tjiu ditemani Tjut Can War. Pria 41 tahun itu sudah 20 tahun menghuni bangsal di RS Alverno. Mereka bicara santai. Saling menyapa jika ada yang lewat. Kadang-kadang mereka juga lebih banyak diam. Bergelut dengan pikiran masing-masing. “Di sini kami saling bantu. Teman merawat teman,” kata Tjut Can War.

BERBINCANG: Para penghuni RS Kusta Alverno (sekarang Panti Lepra Alverno) berbincang-bincang di depan bangsal tempat mereka menghabiskan waktu sehari-sehari-sehari.

Bangsal mereka dihuni delapan orang. Tubuh mereka cacat akibat kusta. Walaupun sudah sembuh, mereka tak mau pulang ke rumah keluarga karena malu. Mereka merasa hanya akan menjadi beban jika pulang. Jadi, mereka memilih tinggal di rumah sakit.

Ada pula yang tidak pulang karena memang ditolak oleh keluarganya. Kusta dianggap penyakit mengerikan dan dikhawatirkan dapat menjangkiti keluarga.

Ernani adalah contohnya.  Perempuan berusia 29 tahun itu sudah berada di rumah sakit ini sejak usianya sembilan tahun. Hatinya sedih karena tidak bisa pulang ke rumah. Namun, Ernani merasa lebih baik tinggal di rumah sakit karena di sini ada yang merawatnya. Kakinya telah digerogoti kusta.

Dia terkena kusta sejak kecil saat masih kelas I sekolah dasar.Saat itu orang tuanya tak menyadari. Akhirnya penyakit itu terus menyebar tanpa diobati dan menjalar ke kakinya. Ernani dibawa ke Rumah Sakit Alverno dalam kondisi kaki yang sudah parah. Kakinya lalu diamputasi.

Saat ditemui siang itu, Rona kesedihan terpancar di raut wajahnya. Dia sebenarnya hanya ingin bisa berkumpul bersama keluarga. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!