Bahas Rebranding Logo, Metamorfosis BKKBN, Isu Milenial dan Buruh Migran

DISKUSI: Perwakilan IPKB Kalbar tengah berdiskusi dengan Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo. MIRZA AHMAD MUIN/PONTIANAKPOST

Dari Diskusi IPKB Kalbar Bersama Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo

Perwakilan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Kalimantan Barat, Senin (13/1) berkesempatan bertemu Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo. Beragam persoalan kependudukan dan keluarga berencana dibahas bersama mantan Bupati Kulonprogo itu. Diskusi pun berlangsung hangat dan melahirkan satu keputusan buat ditindaklanjuti.

Mirza Ahmad Muin, Jakarta

RUANG Rapat Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah disiapkan untuk perwakilan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Provinsi Kalbar, mendekati pukul sebelas siang. Tujuan rombongan IPKB ke sana adalah untuk bertemu Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo.  Selain bersilaturahmi, IPKB Kalbar ingin menyampaikan segala persoalan seputar Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Kalbar.

Didampingi Kepala BKKBN Kalbar, Kusmana dan perwakilan humasnya, tak lama kami menunggu. Lima menit duduk di ruang tersebut, kepala BKKBN Hasto Wardoyo pun tiba.  Sambutan sederhana Ketua IPKB Kalbar, Teguh Imam Wibowo membuka jalannya diskusi. Topik diskusi  antara lain tentang rebranding logo BKKBN, penanganan KKBPK dengan sasaran milenial dan penanganan program untuk TKI atau buruh migran di Malaysia.

“IPKB ini harus bangkit kembali. Karena IPKB bisa menjadi kendaraan bagi BKKBN buat menyampaikan segala program, sehingga masyarakat bisa memahami dan menjadi bagian dari terealisasinya seluruh target yang dilakukan,” ucap Hasto Wardoyo.

Menurutnya, peran media sangat diperlukan untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat. Di tahun ini, logo BKKBN akan di-rebranding. Tampilannya lebih segar dengan membawa semangat milenial. Menurutnya, BKKBN harus memiliki cara baru dalam menghadapi era baru ini. Dia memandang selama ini kampanye BKKBN masih dengan modalitas lama. Inilah salah satu pertimbangan mengapa rebranding logo BKKBN dinilai perlu. Selain rebranding, tagline baru pun dimunculkan. “Salah satunya kalimat terencana itu keren,” katanya.

Sebelum melakukan rebranding, BKKBN terlebih dahulu melakukan jajak pendapat. Sasarannya anak milenial Indonesia. Jumlahnya sekitar 1200 responden mulai dari Aceh hingga Papua. Jajak pendapat tersebut dilakukan menggunakan hitungan cepat. Berdasarkan jajak pendapat itu, disimpulkan bahwa anak milenial sudah tidak menyukai doktrinasi.

Menurut Hasto, anak muda tidak menyukai bahasa program yang serius. Maka dari itu, program BKKBN kini harus mengena di hati milenial.  Soal rebranding ini, BKKBN harus bermetamorfosis supaya bisa masuk ke kalangan milenial. Logo BKKBN kini miliki makna cinta kasih tulus. Angka delapan pada logo memiliki makna bersambung. Artinya program BKKBN berkesinambungan dan tidak tercerai berai.

Kemudian lambang kupu-kupu juga bermakna metamorfosis. Keluarga adalah unit terendah penduduk yang dianalogikan seperti kupu-kupu yang tidak terbang tinggi. Sebagai bagian terendah dari penduduk, keluarga harus bermetamorfosis sehingga lebih berkualitas.

Selain soal rebranding logo dan jangkauan program milenial, Hasto juga menjawab pertanyaan IPKB Kalbar soal belum tersentuhnya KKBPK pada buruh migran atau TKI di perkebunan sawit Malaysia. Lebih dari 45 ribu warga Indonesia yang bekerja di Malaysia belum tersentuh program KKBPK, jadi perhatian. Menurutnya, isu yang disampaikan media ini akan menjadi bahan masukan untuk ditindaklanjuti.

Hasto bahkan langsung mengintruksikan Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar agar melaksanakan program KKBPK yang bisa menjangkau para TKI di Malaysia. “Jika layanan KKBPK tak didapat dari pihak  Malaysia, lalu kita (Indonesia) juga tidak menjangkaunya, sama saja mereka ditelantarkan. Tentunya harus ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Sekembalinya perwakilan BKKBN dan IPKB Kalbar, menurutnya persoalan ini akan dibahas lebih detail. Dia bahkan berencana untuk melihat langsung bagaimana pelayanan KKBPK benar-benar bisa sampai ke TKI yang bekerja di Malaysia.(*)