Bahkan Masjid dan Gereja Dibangun Berdampingan

BERDAMPINGAN: Potret dua rumah ibadah, yakni Masjid Al-Muhajirin dan Gereja Methodist Indonesia Sekadau yang dibangun berdampingan. SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

Melirik Nilai Toleransi di Bumi Lawang Kuari

Di Jalan Merdeka Barat, Kecamatan Sekadau Hilir, terdapat dua bangunan rumah ibadah yang didirikan berdampingan, yakni Masjid Al-Muhajirin dan Gereja Methodist Indonesia Sekadau. Hal tersebut seakan menggambarkan sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat Sekadau paham betul akan apa yang disebut dengan toleransi antarumat beragama. Bahkan tak jarang, ketika ada kegiatan keagamaan di salah satu rumah ibadah tersebut, masyarakat sekitar, baik yang muslim maupun yang kristiani, kerap berkoordinasi.

 

SIGIT ADRIYANTO, Sekadau

BERDASARKAN penjelasan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sekadau, Paulus Lion, berdirinya kedua rumah ibadah tersebut secara berdampingan merupakan kesepakatan bersama dari seluruh pihak, khususnya masyarakat sekitar. Saat ditemui, ia pun menceritakan detail mulai dari izin pendirian bangunan kedua rumah ibadah tersebut yang melalui proses yang cukup panjang.

Menurutnya, mulai dari perencanaan, awal pembangunan, hingga bangunan rumah ibadah selesai dikerjakan tak ada masalah dan tak pernah ada kegaduhan di lokasi dua rumah ibadah tersebut. Dirinya pun menilai bahwa hal tersebut menandakan masyarakat sekitar paham dan sudah terbiasa untuk saling menghargai.

“Seperti saat azan berkumandang, masyarakat sudah paham. Termasuk jika ada kegiatan di gereja, yang berdekatan dengan masjid, juga tidak ada hal-hal yang dapat dipermasalahkan,” ujar Lion.

Tak hanya sampai di situ, Lion pun menggambarkan contoh lain, seperti letak rumah tempat ia tinggal sehari-hari yang berhadapan langsung dengan surau. Dalam hal ini, kumandang suara azan merupakan hal yang biasa dalam kehidupannya, meskipun ia bukan muslim. “Justru dengan adanya suara azan dari surau, khususnya waktu subuh, saya jadi terbiasa bangun pagi,” sambungnya.

Menurutnya, hidup dalam perbedaan tidak dapat dijadikan alasan untuk saling bermusuhan. Di sisi lain, Lion juga menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya masing-masing. Tentunya, dia menambahkan, bagi agama yang diakui secara sah oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lion juga berpesan kepada masyarakat Sekadau, bahwa saling menghormati adalah hal mutlak dalam bidang apapun, termasuk antarumat beragama.

“Ambil contoh ketika saya suka baju warna hitam, saya tidak bisa memaksa kamu untuk pakai warna hitam. Begitu juga ketika kamu tidak bisa memaksa saya menyukai apa yang kamu suka, kira-kira seperti itulah filosofinya,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sekadau, Tengku Indra Kusuma menyebut bahwa keberadaan Masjid Al-Muhajirin dan Gereja Methodist Indonesia Sekadau yang berdampingan adalah bentuk toleransi umat beragama di Sekadau. Tengku menyebut, sejak berdirinya Gereja Methodist Indonesia di samping Masjid Al-Muhajirin, masyarakat tidak pernah saling mengganggu dan masih rukun hingga saat ini.

“Alhamdulillah kita lihat ada kerukunan, toleransi umat beragama sudah sangat tinggi di Sekadau ini. Buktinya dengan adanya masjid dan gereja yang berdiri berdampingan sampai saat ini tidak ada permasalahan,” paparnya.

Tengku menyebut, kerukunan umat beragama itu juga terjalin baik di setiap instansi dan lembaga baik di pemerintahan dan di masyarakat .

“Karena ada yang namanya bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Jadi kita tidak pernah mempermasalahkan soal agama. Tidak ada yang namanya saling mengganggu jika tentang peribadatan,” kata dia.

Ia pun berharap agar ke depannya semakin banyak organisasi kepemudaan maupun keagamaan yang saling membantu dalam pembangunan di Sekadau. “Bagi generasi muda, kita bersama-sama membangun Sekadau, jangan justru saling memecah belah, karena tidak ada agama manapun yang mengajarkan tentang permusuhan,” tutupnya. (*)

error: Content is protected !!