Bajakah dan Kelestarian Lingkungan Hidup

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: P Adrianus Asisi

GEGARA penelitian tiga peserta didik SMA Negeri 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Rafi Akbar, Aysa Maharani dan Anggina Rafitri) hingga viral viadumay. Tiga peserta didik tersebut menjadi juara 1 pada lomba karya tulis ilmiah (World Invention Creativity Olympic)di Seoul, Korea Selatankerenbo’, amazing, pantastik luar biasa.

Tiga Siswa SMA Negeri 2 tersebut menemukan khasiat tumbuhan yang oleh masyarakat setempat dinamakan Bajakah, tanaman suku Dayak tersebut dapat menyembuhkan kanker. Riset tersebut didukung riset lanjutan pada Laboratorium Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, bahwa tanaman Bajakah berkhasiat melumpuhkan sel-sel kanker payudara. Hasilnya “secara kuantitatif untuk mencari konsetrat dan kandungan senyawa tanaman Bajakah. Pak Eko pun menyarankan untuk memantenkan penemuan mereka (Situs Kompas Regional 13/8, diakses 31/8/2019)”.

Meski sempat diperdebatkan, namum pihak pemerintah mengapresiasi riset mereka. Kemenkes mengatakan bahwa tanaman Bajakah memiliki khasiat obat. LIPI melalui Peneliti Ahmad Fathoni di Laboratorium Kimia Bahan Alam Pusat Penelitian Biologi, bahwa obat kanker dari tanaman Bajakah mengandung banyak senyawa aktif antioksidan. “Kandungan senyawa pada tanaman Bajakah adalah fenolik, steroid, tannin, alkaloid, saponin, terpenoid, hingga alkaloid. Senyawa aktif antioksidan yang berlimpah membuatnya mampu menjadi penawar radikal bebas. Agar diakui sebagai obat perlu uji praklinis dan uji klinis, sehingga gradenya meningkat menjadi fitofarmaka (Tempo.co, 14/8/2019, akses 24/8/2019, pk. 15.01)”.

Perlu kehati-hatian. Salah petik, bukan tanaman Bajakah yang dipanen, tapi karena ada tanaman akar-akaran yang mirip Bajakah yang beracun. Bajakah dikenal pula “Akar Bingke (Subsuku Dayak Kanayatn)”. Sependek pengetahuan penulis ketika masa kecil sering pergi ke hutan, tanaman itu sering diambil airnya untuk menghapus dahaga karena mengandung air bening. Ketika menonton film Tarzan versi luar maupun produksi Indonesia, Bajakah tersebut digunakan untuk berayun atau bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain. Namun, penulis tak bisa membedakan antara Bajakah untuk obat dan akar beracun.

Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman hayatinya tinggi dan juga memiliki jumlah hutan yang luas. Indonesia adalah negara berkembang yang paling banyak hutannya setelah negara Brasil, sehingga menjadi paru-paru dunia. Bersama Pulau Kalimantan, Pulau Irian Jaya, dan Papua Barat merupakan pulau yang masih lebat hutannya. Masihkah sampai kini? Di kota-kota besar dunia hampir sulit mendapati pohon dalam taman kota, karena pohon tersebut sudah berubah menjadi ‘pohon beton’.

Di Kota Jakarta, lahan terbuka hijau masih sedikit. Bagaimana dengan Kota Pontianak?

Penduduk dunia makin meningkat berkorelasi positif dengan kebutuhan hidup. Hal ini diperparah lagi dengan liberalisasi ekonomi dan perdagangan yang menyebabkan masyarakat menjadi konsumtif. Berkembangnya teknologi memudahkan akses manusia untuk mengolah alam, karena alam dimaknai sebagai sumber daya alam yang harus dimaksimalkan pemanfaatannya.

Hutan beserta hasilnya diambil untuk pemuas batin manusia, konsumtif. Jo Kumala Dewi kepala bidang edukasi, Asisten Deputi Menteri Lingkungan Hidup, Bidang Edukasi dan Komunikasi Lingkungan, ketika berkunjung ke Pontianak Nopember beberapa tahun lalu dalam seminar Adiwiyata memaparkan bahwa 65 juta hektar hutan lenyap di negara-negara berkembang antara 1990-1995 akibat overharvesting, di antaranya konversi tanah untuk pertanian dan kebakaran hutan.

Di dunia saat ini sekitar 2 miliar hektar tanah rusak akibat degradasi lahan, mengancam kehidupan 1 milyar lebih penduduk dunia. Provinsi Jambi sekitar 100.000 hektar hutan rusak pertahun. Pada tahun 1990 luas hutan di Jambi 2,4 juta hektar (49,96 % luas wilayah Jambi) dan pada tahun 2000 luas hutan berubah menjadi 1,4 juta hektar (29,14 % luas wilayah Jambi). Kerusakan hutan di Indonesia seluas 6 kali luas lapangan sepak bola/menit dengan kerugian Rp83 miliar/hari setara dengan Rp30 triliun/tahun.

Diperlukan kearifan dalam mengelola hutan, ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam mengelola hutan dan keragaman hayati di dalamnya. Tumbuhan dan Hewannya dapat dilakukan pola pelestarian in-situ, reboisasi, cagar alam, bahkan taman nasional. Pelestarian in-situ dilakukan untuk memertahankan spesies unik dan endemik pada habitat aslinya. Cagar alam dan taman nasional termasuk pelestarian in-situ.

Hutan dalam lingkungan hidupnya, di jantung borneo harus dipelihara dan dijaga kelestariannya, jangan dihabiskan untuk hutan tanaman industri atau hutan produksi. Memilih pengelolaannya melalui hutan lindung atau hutan adat dirasa cukup bijaksana dalam memertahankan populasi dari spesies pulau borneo ini. Kini tinggal 30% saja yang masih alami.

Situs Kompasiana.com (akses 1/9/2019) menginformasikan tulisan Atep yang mengutip LSMSave Our Borneomengungkapkan“berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan (deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau 2,16%. Kerusakan paling luas terjadi di Kalimantan Tengah, yaitu mencapai 256 ribu hektar per tahun, atau sekitar 2,2 persen per tahun”. Rasanya, pulau borneo telah hilang julukan sebagai paru-paru dunia”.

Hutan industri dan produksi akan menghilangkan spesies hewan dan tumbuhan endemik Kalbar seperti kupu-kupu dan palma di antaranya enau (Arange pinnata). Enau memiliki sejuta manfaat seperti saudara dekatnya, Kelapa (Cocos nucifera) berada dalam satu familia Aracaceae, tentu Bajakah banyak manfaat.
Bajakah atau Akar Bingke ini, dalam bahasa latin untuk kategori spesies dinamaik Spatholobus Littoralis,Hassk. Bajakah dalam kategori genus dinamai Spatholobus,“termasuk tumbuhan merambat di pohon kayu dari suku Phaseoleae”. Situs kaltimkece (akses 31/8/2019) menambahkan, “bahwa genus tersebut ditemukan pada 1842 oleh ahli Botani asal Jerman bernama Justus Karl Hasskarl. Ada 29 spesies dari genus Spatholobus Hassk yang sebagian besar tersebar di hutan tropis Indonesia (The Genus Spatholobus Hassk in Thailand, Jurnal Tropical Natural History, 2014, hlm 87)”.

Dalam tradisi orang Dayak, ketika akan mengambil obat, kita perlu pamit dengan tanaman, karena bagian tubuh seperti daun, akar, batang, atau bunga untuk diracik menjadi obat, ada pitua-pitua yang disampaikan pada tumbuhan termasuk akar bingke ini. Kearifan dalam mengelola hutan akan menjaga kelestarian hutan dan isinya, agar tetap ada dan bisa diwariskan ke generasi berikut. Semoga.

Penulis: Biolog SMP/SMA Asisi Pontianak

Read Previous

Menuju CR700

Read Next

Create Content with Journalism Skills

Tinggalkan Balasan

Most Popular