Bakar Lahan Wajib Lapor ke Kepala Desa dengan Ketentuan

KEBAKARAN LAHAN: Kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu di Kecamatan Ketungau Hulu diabadikan oleh petugas patroli yang saat itu sedang berada di lapangan.POLRES SINTANG FOR PONTIANAK POST

Karhutla di Kecamatan Ketungau Tengah Enam Orang Diamankan

Sering sosialisasi ke masyarakat mengenai Pasal 4 ayat 1, Permen LH 10 Tahun 2010 yang berisikan masyarakat hukum adapt, yang melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan. Maksimum dua hektar per kepala keluarga untuk ditanami jenis varietas lokal. Hal ini wajib memberitahukan kepada Kepala Desa.

Firdaus, SINTANG

NAMUN, pembakaran lahan ini tidak berlaku pada kondisi curah hujan di bawah normal, kemarau panjang, dan/atau iklim

Hingga kini, pihak kepolisian sudah mengamankan warga yang diduga melakukan pembakaran lahan, AKP Indra Asrianto menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan semua tahapan terkait dengan sosialisasi untuk tidak boleh membakar lahan di musim kemarau panjang melalui jajaran Polsek yang ada di Kabupaten Sintang.

Dan ia juga menanggapi mengenai warga yang membakar lahan untuk membuka ladang, pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai Pasal 4 ayat 1, Permen LH 10 Tahun 2010 yang berisikan masyarakat hukum adat yang melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimum 2 hektar per kepala keluarga untuk ditanami jenis varietas lokal wajib memberitahukan kepada kepala desa. Namun, pembakaran lahan ini tidak berlaku pada kondisi curah hujan di bawah normal, kemarau panjang, dan/atau iklim kering.

“Namun memang setelah kami telusuri di lapangan, ada beberapa hal yang memang belum dipahami oleh masyarakat, yakni bukan soal berapa luas membakarnya, kemudian melakukan pelaporan kepada pejabat wewenang. Tetapi membuka lahan dengan cara membakar tidak boleh dilakukan pada musim kemarau yang panjang, oleh karena itu harus dipatuhi,” jelasnya.

AKP Indra Asrianto juga menambahkan bahwa saat ini yang bersangkutan telah ditingkatkan statusnya menjadi penyidikan, dengan penerapan pasal 108, Undang-Undang 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dimana ancaman hukumannya minimal 3 tahun maksimal 10 tahun.

“Yang bersangkutan sedang diproses, dan kita segera koreksi bersama ahli dan diserahkan ke pihak kejaksaan untuk proses penuntutan atau peradilan umum,” paparnya.

Polres Sintang mengungkapkan beberapa kasus Karhutla yang sedang ditangani. Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Indra Asrianto menjelaskan bahwa saat ini Polres Sintang sedang menangani empat perkara dan sedang memproses 6 tersangka yang diduga menyebabkan adanya kebakaran hutan dan lahan di beberapa tempat di Kabupaten Sintang.

“Tugas Polres Sintang dalam hal ini adalah melakukan penanggulangan karhutla dan penegakkan hukum. Saat ini kami sedang menangani empat perkara, kemudian untuk tersangka yang sudah diproses ada 6 orang. Dimana yang bersangkutan setelah dilakukan proses penyelidikan kemudian diperoleh informasi dengan alat bukti yang ada,” jelas Kasat Reskrim saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Ia juga membeberkan beberapa lokasi yang dijadikan TKP dan penangkapan tersangka di antara lain, Kecamatan Sungai Tebelian ditangkap satu tersangka, Kecamatan Binjai Hulu ada satu tersangka, Kecamatan Kelam Permai juga satu tersangka dan Kecamatan Ketungau Tengah ada tiga tersangka.

“Enam tersangka ini merupakan warga setempat yang membuka ladang dengan cara membakar. Dan untuk Kecamatan Ketungau Tengah, petugas kita kala itu sedang melakukan patroli dan menemukan tiga orang yang tertangkap tangan sedang membakar lahan dan kami segera amankan,” tambahnya.

Kendati pihaknya sudah mengamankan warga yang diduga melakukan pembakaran lahan, AKP Indra Asrianto menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan semua tahapan terkait dengan sosialisasi untuk tidak boleh membakar lahan di musim kemarau panjang melalui jajaran Polsek yang ada di Kabupaten Sintang.(*)

Read Previous

Gabus Gurih Kaya Khasiat

Read Next

PLTU Parit Baru Site Bengkayang Beroperasi Penuh 100 MW

Tinggalkan Balasan

Most Popular