Bandara Supadio Mesti jadi Embarkasi Haji

DIBANTU PETUGAS: Jamaah haji asal Kabupaten Ketapang yang mengalami sakit dibantu petugas saat tiba di Asrama Haji Pontianak, Kamis (29/8). HUMPRO KALBAR/HARYADI/PONTIANAKPOST

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji berharap Bandara Supadio menjadi embarkasi haji. Menurut Sutarmidji, tahun ini landasan Bandara Supadio yang sudah ada akan ditambah sebanyak 350 meter, walaupun dengan penambahan tersebut hanya menambah menjadi 2.600 meter.

“Kalau sudah 3.000 meter, pesawat berbadan lebar bisa langsung berangkat ke Jedah atau Madinah,” ujarnya saat menyambut kedatangan Jemaah Haji Kalbar.

Status saat ini, Asrama Haji Pontianak merupakan asrama haji transit. Selama ini, jemaah haji Kalbar melewati embarkasi Batam menuju Tanah Suci. Menurut Ridwansyah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama untuk menjadi daerah embarkasi dan debarkasi ada berbagai persyaratan yang harus dilewati. Selain bandar udara, juga memiliki asrama haji yang representatif.

Saat ini, Asrama Haji Pontianak dalam proses rencana revitalisasi atau perbaikan. Bangunan Asrama Haji yang akan menampung ribuan jemaah haji saat ini dinilai sudah lama. Sudah semestinya dilakukan renovasi untuk memberikan pelayanan maksimal kepada jemaah. Terutama untuk jemaah haji yang rata-rata usianya tidak lagi muda.

“Asrama haji sudah lama, dan sudah layak direnovasi, tempat tidur masih menggunakan ranjang susun. Kasihan untuk jemaah haji yang sudah tua,” kata Ridwansyah, belum lama ini.

Dia berharap, pembangunan Asrama Haji yang baru serta didukung dengan perluasan Landasan Bandara Supadio, Kalbar tidak lagi menjadi asrama haji transit, tetapi bisa menjadi asrama haji Embarkasi. “Tetapi untuk menjadi asrama haji embarkasi harus memenuhi banyak persyaratan,” kata dia.
Ridwansyah mengatakan, jika belum menjadi Asrama Haji Embarkasi, paling tidak dapat menjadi Asrama Haji Antara. Sehingga jemaah calon haji tidak perlu bermalam di Embarkasi Batam. Datang ke Batam langsung berangkat ke Arab Saudi.

“Nanti karantinanya itu bisa dilakukan di Asrama Haji Pontianak. Seluruh Jemaah dikumpulkan satu asrama haji. Di Batam itu langsung naik pesawat, tidak lagi masuk asrama. Selama ini kan, bermalam dulu di Batam baru besok paginya ke Arab Saudi,” kata dia.

Keuntungan lain yang didapat jika menjadi Daerah Embarkasi, kata dia jemaah Kalbar tidak lagi dibebankan biaya lokal, yakni biaya dari Pontianak menuju Batam. Menurut Ridwansyah, biaya yang ditanggung dalam Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) hanya dari Embarkasi Batam ke Arab Saudi. Artinya, dari Kalbar ke Batam ditanggung daerah masing-masing. Kalau jemaah Batam itu, tidak perlu lagi bayar. “Dia langsung dari Embarkasi ke Arab Saudi,” pungkasnya.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan menyambut kedatangan jemaah haji asal Kabupaten Kapuas Hulu, Ketapang dan Bengkayang dari tanah suci. Mereka yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 12 ini ditemui di Asrama Haji Batam, Kamis (28/8).

Seperti diketahui, pada kloter 12 ini ada satu jemaah haji asal Kabupaten Kapuas Hulu yang meninggal dunia di tanah suci. Dengan demikian jumlah jemaah yang kembali ada sebanyak 447 orang.
Norsan mengajak semuanya untuk bersyukur atas kepulangan para jemaah haji ke tanah air. Mereka yang kembali artinya telah dapat menyelesaikan seluruh rangkaian wajib haji. Semua sudah berjalan dengan aman, baik, lancar dan dapat berkumpul kembali bersama-sama keluarga di tanah air.

“Atas nama Pemprov Kalbar saya mengucapkan selamat datang kepada jemaah haji Kalbar di tanah air. Semogga menjadi haji dan hajah yang mabrur,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan ucapan duka cita paling dalam atas meninggalnya jemaah haji Kalbar selama menjalankan ibadah di tanah suci. Semua ikut mendoakan agar yang wafat mendapatkan tempat yang paling baik di sisi Allah SWT.

Sementara bagi yang akan segera kembali berkumpul bersama sanak keluarga, Norsan berpesan, hendaknya dapat menambah dan meningkatkan ketakwaan. Serta melipat gandakan amal baik dan meningkatkan keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT.

Begitu juga dengan tindak tanduk dan tingkah laku, diharapkan terus membaik baik. Para haji dan hajah tentunya akan dijadikan barometer, sebagai ukuran dan panutan oleh keluarga serta masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Bapak dan ibu harus dapat memberikan kedamaian untuk orang-orang di sekeliling. Santun dalam berbicara, memiliki kepedulian sosial dan bisa menghindari hal-hal maksiat atau dalam kata lain, membersihkan pikiran, perkataan dan perbuatan,” pesannya.(mrd/bar/r)

Read Previous

Menanti Duel Tim Inggris (Lagi)

Read Next

Dua Pelukis Mengiring 21 Pengiat Seni Membaca Rendra

Tinggalkan Balasan

Most Popular