Bangun Kepercayaan Diri Setelah PHK

Terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) memang menyakitkan. Kondisi ini membuat emosi jadi tertekan. Kepercayaan diri perlu dipulihkan agar tidak khawatir menatap masa depan.

Oleh : Siti Sulbiyah

Pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif bagi sektor ketenagakerjaan. Berbagai tindakan dilakukan perusahaan untuk mempertahankan kondisi keuangan mereka, salah satunya dengan memangkas biaya yang terkait dengan sumber daya manusia.

Tidak sedikit karyawan yang harus menerima dampak pandemi Covid-19, mulai dari pemotongan gaji, dirumahkan sementara, pengurangan jam kerja, hingga pemutusan hubungan kerja atau PHK. Dari seluruh dampak tersebut, tindakan PHK adalah keputusan yang paling sulit diterima oleh pekerja. Sebab, hal itu membuat mereka harus melepas pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan utama.

Riskiyana Adi Putra, M.Psi., Psikolog, mengakui kondisi Covid-19 memang membuat perusahaan terpaksa mengambil langkah PHK untuk sebagian karyawan. Kondisi ini tentu berat diterima oleh karyawan yang dikenakan PHK.

“Sebagai karyawan pasti akan merasa kaget, sedih, kecewa, bahkan marah. Karena kenyataan tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Menurutnya, kekecewaan akan semakin dalam apabila pekerjaan itu merupakan sumber pendapatan utama. Terlebih bagi mereka yang telah merencanakan masa depan atau yang masih memiliki beban biaya bulanan yang harus dibayarkan.

“Bagi orang yang punya rencana masa depan, tentu akan sangat kecewa. Ada yang sudah ambil cicilan rumah. Lalu kena PHK, dan ini tentu menganggu kondisi finansial. Mereka pasti akan kebingungan bagaimana cara mengatasinya,” tuturnya.

Dengan beban tersebut, kehilangan pekerjaan dapat menyebabkan kekacauan dalam kehidupan pribadi. Stres karena menyandang status pengangguran juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan fisik hingga mental.

Riskiyana Adi Putra, M.Psi., Psikolog,

Namun, begitu dalam kondisi ini, kata Riskiyana, penting untuk tidak menyalahkan diri sendiri, terutama jika itu terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Karena bisa jadi tindakan PHK ini bukanlah cerminan sebenarnya dari kinerja dalam perusahaan.

“Meyakini diri bahwa tindakan PHK dilakukan karena memang terpaksa atau dalam istilah lainnya sedang apes. Kita harus tetap meyakini diri sendiri bahwa kita punya kemampuan yang dibutuhkan orang lain,” tegasnya.

Riskiyana mengatakan ada beberapa fase yang dilewati seseorang ketika menerima kabar buruk seperti di PHK. Semula mereka akan melewati satu fase, yakni fase penolakan. “Lalu mereka akan masuk ke fase marah,” paparnya.

Setelah melewati fase tersebut, lanjutnya, seseorang akan melewati fase kesedihan yang mendalam. Fase ini terjadi pada orang yang menerima kabar buruk. Namun, rasa sedih ini sebaiknya tidak ditahan dan harus disalurkan supaya emosi negatif menjadi hal positif.

Riskiyana menyatakan tidak boleh berlarut-larut dalam kekecewaan dan kesedihan, mengingat hidup harus terus berjalan. Oleh karenanya, setelah melewati masa kesedihan mendalam, seseorang biasanya mulai menerima kenyataan dengan ikhlas terhadap apa yang menimpanya. Pada masa ini, mereka harus berpikir positif dan mencari solusi konkrit terkait masalah yang dihadapi.

“Kalau fase tersebut berjalan normal, kekecewaan tidak akan berlarut-larut. Mereka akan bisa berpikir lebih positif. Biasanya orang yang sudah mebangun konsep diri yang positif akan lebih mudah bangkit,” katanya.

Fase menerima kenyataan ini menjadi fase yang tepat untuk memulihkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri bisa dibangun kembali dengan membuat perencanaan jangka pendek untuk mengatasi masalah yang ada saat ini. Salah satunya mencari pekerjaan baru atau pekerjaan sementara yang bisa menjadi sumber pendapatan.

“Buat rencana yang nyata dalam jangka pendek. Misalnya besok apa yang akan dilakukan. Tanya ke siapa saja yang mungkin bisa memberikan solusi. Di list akan menghubungi siapa saja. Perencanaan yang lebih dekat dan lebih konkrit, paling tidak membuat kondisi tidak dalam mode menganggur atau bikin stagnan,” ucapnya.

Di sisi lain, dengan kondisi finansial yang tidak pasti, maka segala bentuk pengeluaran hendaknya dapat ditinjau ulang. Lakukan evaluasi ulang apa yang harus dibelanjakan dengan memprioritaskan hal-hal penting. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!