Bawang Putih Terkena Dampak Virus Corona

opini pontianak post

Oleh: Dini Rianti

SUDAH beberapa hari ini bawang putih di pasaran Kota Pontianak mengalami kenaikan harga yang relatif signifikan. Alhasil, konsumen terutama ibu rumah tangga mulai mengeluh atas lonjakan harga bumbu masakan berbau khas ini ini. Tak hanya ibu rumah tangga sebagai konsumen akhir yang mengeluh, para pedagang juga mengeluhkan jumlah stok yang semakin menipis dan kenaikan harga modal di distributor bawang putih yang ada di kota ini.

Kenaikan harga bawang putih ini juga dikeluhkan oleh pengusaha penyediaan makanan dan minuman/restoran. Pasalnya bawang putih merupakan bahan dasar utama dalam meracik bumbu masakannya. Penggunaan bawang putih untuk pengusaha restoran, relatif cukup banyak dan digunakan setiap hari.

Harga bawang putih di pasar tradisonal yang sebelumnya berkisar di harga 30-35 ribu rupiah, sekarang dijual pada kisaran harga 55-70 ribu rupiah per kilogram. Saking hebohnya dengan kenaikan harga bawang putih, pedagang malah memprediksi harga komoditas ini bisa mencapai 100 ribu rupiah per kilonya.

Sebagai konsumen kita tentu bertanya apa sih penyebab naiknya harga bumbu dapur utama ini. Menurut keterangan sejumlah pedagang yang ditemui di beberapa pasar yang ada di Kota Pontianak, kenaikan harga bawang putih ini terkait dengan kebijakan pembatasan impor dari China yang akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Hewan, buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan beberapa komoditas yang akan terkena aturan pembatasan impor tersebut. Kebijakan pembatasan impor yang akan diambil pemerintah ini erat kaitannya dengan sedang mewabahnya virus corona di negeri tirai bambu tersebut.

Mengutip pernyataan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman pada Bisnis.com, Senin (4 Februari 2020), sejumlah bahan baku seperti biji-bijian, cabai, bawang putih, kentang, dan zat pangan olahan merupakan segelintir produk yang dipasok oleh China, dan kebutuhan bahan baku impor asal China terbilang cukup besar.

Nah, terjawab lah sudah apa yang menyebabkan harga bawang putih merangkak naik. Bawang putih ini ternyata diimpor dari negeri China, sehingga pasokan menjadi sedikit terganggu ketika kebijakan pembatasan impor tersebut dilaksanakan.

Tetapi benarkah kenaikan bawang putih ini murni disebabkan oleh pembatasan impor tersebut? Atau adakah hal lain yang menyebabkan harga bawang putih ini tambah melonjak. Semoga tidak ada oknum yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan demi mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

Salah satu tindakan antisipatif yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) antara lain dengan melakukan pengecekan kecukupan stok bawang putih baik di tingkat pengecer maupun distributor. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan operasi pasar untuk menjaga kestabilan harga bawang putih di masyarakat.

Jika kenaikan harga bawang putih ini terus dibiarkan, dapat menjadi komoditas pendorong inflasi di Kota Pontianak. Akibatnya angka inflasi akan tinggi. Bukankah sebaik-baiknya inflasi adalah inflasi yang terkendali.

Pembatasan impor ini tentu merupakan salah satu bentuk perlindungan pemerintah Indonesia pada rakyatnya agar virus mematikan tersebut tidak masuk ke Indonesia. Walaupun pembatasan ini sedikit banyak akan berpengaruh pada pasokan bahan pangan di tanah air, dan pada akhirnya akan berpengaruh pada perekonomian. (*)

*) Penulis, Statistisi Pertama BPS Provinsi Kalimantan Barat

Read Previous

Ganti Rugi Lahan Cuma Formalitas

Read Next

BRI Rayakan Imlek Bersama Nasabah Prioritas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *