Bebas dari Rasa Takut Berlebihan

PANDEMI Covid-19 masih terjadi saat ini dan belum diketahui kapan pastinya akan berakhir. Meski begitu, berdamai dengan pandemi Covid-19 marak digaungkan dalam menghadapi situasi tersebut. Tentu  saja hal ini membuat sebagian masyarakat, termasuk remaja mempertanyakan seperti apa maksud berdamai dengan pandemi Covid-19? Terlebih pasien yang dinyatakan positif di Indonesia mengalami peningkatan setiap harinya. Bagaimana jika dilihat dari sisi psikologi?

Psikolog Klinis Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., CHt menjelaskan kata berdamai sendiri memiliki filosofi yang dalam. Dari sudut pandang psikologis, seseorang yang ‘damai’ itu artinya tenang dalam menghadapi situasi, penuh kehati-hatian, waspada, menyadari situasi dan apa yang dia lakukan saat ini. Orang yang ‘damai’ dapat berpikir dengan baik ketika berhadapan dengan masalah, tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Lantas, apa yang dimaksud berdamai dengan pandemi Covid-19?

Menurut perempuan yang akrab disapa Olla ini secara pribadi berdamai dengan pandemi Covid-19 ialah bebas dari rasa takut dan cemas yang berlebihan, misalnya sampai terngiang-ngiang di telinga bahwa banyak korban jiwa di beberapa negara sehingga seseorang yang mendengar tidak dapat tidur nyenyak. Khawatir virus ini akan menimpa keluarganya dan keluarga akan meninggal. Hingga akhirnya, ia akan menjadi sebatang kara, menderita dan lainnya.

“Ini membuatnya memandang masa depan sebagai sesuatu yang suram. Bahkan masa depan buatnya tidak ada lagi,” lanjut Olla.

Tentu kekhawatiran yang seperti ini akan berbahaya bagi mental. Alangkah baiknya coba berdamai dengan kondisi yang ada. Artinya, mau mencari tahu dan mempelajari tentang virus Covid-19 ini. Tidak ada salahnya selalu meng-update berita yang penting dan perlu, menaati aturan yang dicanangkan oleh pemerintah, yakni social dan physical distancing, memakai masker bila harus keluar rumah. Tidak lupa untuk selalu menjaga kebersihan tangan.

Selain itu, berdamai juga artinya tidak marah dengan situasi. Tidak marah-marah sampai mengarah kepada rasisme, misalnya menyalahkan pihak tertentu yang memunculkan virus ini. Berdamai juga berarti siap menerima aturan-aturan yang diberlakukan saat ini. Jika diri masih marah dan melanggar aturan, sama saja belum bisa berdamai dengan situasi, misalnya ‘Ah, bodo amat deh.. pokoknya aku mau nongkrong di warung. Bosan di rumah. Nggak mungkin kena Corona.’

“Contoh seperti diatas bisa dikatakan dia belum berdamai dengan situasi,” ujar Olla.

Psikolog yang bertugas di RS Anugerah Bunda Khatulistiwa Pontianak dan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak ini mengatakan berdamai dengan pandemi Covid-19 dapat membuat mental tetap sehat, tetap positif, tetap optimis serta bersabar dalam menjalani hari-hari yang tidak mengenakkan ini. Olla menambahkan berdamai di sini juga berarti mengupayakan kekuatan mental diri untuk selalu siap dengan konsekuensi apa yang akan terjadi ke depannya. (ghe)