Bebaskan Sanggau dari Rabies 2024

sanggau
VARMAS. Vaksinasi rabies secara masal dilakukan dalam rangka mengurangi kasus yang terjadi di Kalimantan Barat. KOMINFO FOR PONTIANAKPOST

SANGGAU – Gerakan vaksinasi rabies massal (Varmas) tahun 2019 dipusatkan di Area PLBN Entikong pada Selasa (24/9) kemarin. Gerakan Varmas tahun 2019 secara resmi dicanangkan oleh Gubernur Kalimantan Barat bar dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalbar, Selasa (24/9).
Ketua Tim Koordinasi Pengendalian Rabies, Munsin mengatakan maksud dari kegiatan pencanangan gerakan vaksinasi rabies massal ini untuk mengekspresikan komitmen dari pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota dalam upaya penanggulangan dan pembebasan negara atau daerah bebas rabies.

“Hari ini dicanangkan dalam rangka membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap wabah ancaman rabies yang menakutkan karena penyebaran secara cepat,” ujarnya.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi mengucapkan terima kasih atas ditunjuknya Kabupaten Sanggau sebagai lokasi Peringatan Hari Rabies Sedunia Tingkat Provinsi Kalbar.

“Perlu diketahui bahwa Kabupaten Sanggau dengan jumlah penduduk 485 ribu jiwa merupakan salah satu daerah Provinsi Kalbar yang masih terdapat serangan penyakit rabies, bahkan dengan jumlah yang cukup tinggi di Provinsi Kalbar pada tahun 2019, yang mana telah jatuh lima korban meninggal akibat serangan penyakit rabies ini, dari jumlah gigitan hewan penular rabies (HPR) sebanyak 915 kasus,” ungkapnya.

Penanganan dan pemberantasan rabies ini menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten Sanggau untuk lima tahun kedepan dengan menargetkan daerah Sanggau bebas penyakit rabies di tahun 2024.

“Kami menyusun konsep pemberantasan rabies secara terpadu, massif dan serentak yang diberi nama ” Saber 24″, yang merupakan singkatan dari Sanggau bebas rabies Tahun 2024,” tegasnya.

Guna mewujudkan bebas penyakit rabies dibutuhkan dukungan semua unsur baik itu masyarakat, komunitas penyayang binatang, aparatur pemerintah disemua tingkatan, TNI dan Polri, sektor swasta dan terutama dari bapak Gubernur.

“Melalui momentum peringatan Rabies Day mudah-mudahan bisa berfungsi sebagai sosialisasi yang efektif dan betapa pentingnya kita semua harus peduli terhadap pemberantasan penyakit rabies ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda Provinsi Kalbar, A.L. Leysandri menyampaikan terkait rabies atau yang dikenal sebagai penyakit anjing gila merupakan salah satu wabah penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang mendapat prioritas Pemprov Kalbar untuk dikendalikan dan dibebaskan.

“Karena apabila tidak dikendalikan dengan baik akan mengancam upaya kita bersama mewujudkan masyarakat dan lingkungan di Kalbar yang sehat, cerdas dan produktif, bahkan berdampak serius terhadap ketahanan sosial dan ekonomi daerah kita karena besarnya konsekuensi beban biaya untuk upaya pengendalian setiap tahunnya hingga upaya untuk pembebasannya,” jelasnya.

Rabies berjangkit pertama kali di Pulau Kalimantan tahun 1974 di wilayah Kaltim selanjutnya menyebar ke Kalsel dan Kalteng serta pada September 2014 menyeberang ke Kalbar. Sampai saat ini rabies dilaporkan sudah menyebar ke 13 dari 14 kabupaten/kota atau 70 dari 141 wilayah kecamatan se-Kalbar, kecuali Kota Pontianak yang masih dinyatakan bebas rabies.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) pada manusia dan korban meninggal menunjukkan kecenderungan terus meningkat. Namun demikian sejak awal Januari 2019 hingga hari ini kecenderungan penyebarannya semakin terkendali dan jumlah kasus GHPR dan korban meninggal dilaporkan cenderung menurun.

“Hasil tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan pengendalian dan pemberantasan wabah rabies melalui program vaksinasi rabies massal sebagai upaya pencegahan maupun pengendalian untuk membangun kekebalan pada populasi HPR terutama di daerah endemis ataupun daerah bebas terancam yang dilakukan setiap tahun adalah kebijakan yang sudah tepat,” ujarnya. (sgg)

loading...