Belajar Keuangan Syariah dari Republik Islam Iran

GELAR SEMINAR: Para pembicara dalam kegiatan Seminar Internasional bertajuk ‘Islamic Financials Inclusion Challenges’, yang digelar oleh FEBI IAIN Pontianak, Sabtu (24/8). SITI/PONTIANAK POST

Embargo Dunia pun tak Mampu Menumbangkannya

Seminar Internasional, bertajuk ‘Islamic Financials Inclusion Challenges’ digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak, di Aula IAIN Pontianak, Sabtu (24/8). Sejumlah pembicara nasional dan internasional dihadirkan dalam kegiatan tersebut, guna mengupas tantangan inklusi keuangan syariah di tanah air.

SALAH satu pembicara yang hadir, Mehrdad Rakhsandeh Yazdi dari Islamic Cultural Conselor Iran-Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan tentang negara Iran yang berhasil pengoptimalkan sistem ekonomi dan keuangan berbasis syariah di tengah embargo yang dilakukan oleh berbagai negara.

“Tahun 1995 Iran mengubah total semua tataran kehidupan, mulai dari sosial, pendidikan, hingga ekonominya, dengan menganut sistem Islam,” ungkap dia.

Meski awalnya, dikatakan dia, Iran menghadapi tantangan yang luar biasa, namun negara tersebut mampu keluar dari berbagai tekanan ekonomi, bahkan embargo dari negara-negara lainnya. Hal ini menurutnya tidak terlepas dari peran Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Khamenei, yang memberikan semangat kapada rakyat Iran untuk percaya bahwa kemenangan akan diraih, ketika meyakini dan menerapkan ajaran Islam pada semua lini. Termasuklah, sebut dia, ekonomi dan politik tidak dapat dipisahkan dengan Islam. “Terbukti di tahun kedelapan, perubahan tersebut mulai terasa. Kepada seluruh dunia, Iran bisa membuktikan bisa bertahan dengan sistem ekonomi Islam,” kata dia.

Lantas apa yang dilakukan oleh Iran saat diembargao secara ekonomi? Mehrdad menjawab, negara yang terletak di Timur Tengah tersebut, mengoptimalisasikan aset yang dimiliki, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Iran menurutnya memiliki keunggulan berupa sumber daya minyak dan emas yang melimpah. “Iran bisa menyampaikan ke dunia, bahwa dapat menerapkan sistem ekonomi tanpa campur tangan negara-negara lainnya,” pungkas dia.

Pembicara lainnya, Rifki Ismal, selaku Deputi Direktorat Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Pusat, memparkan potensi keuangan syariah di tanah air. Dia bilang, saat ini Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan telah memiliki sejumlah program dalam meningkatkan inklusi keuangan syariah, di antaranya melalui instrument zakat, infak, dan sedekah. “Dengan memberikan zakat, maka akan memberikan kekuatan ekonomi kepada masyarakat kurang mampu, sehingga mereka punya penghasilan yang layak,” kata Rifki.

Di samping itu, program lainnya dalam rangka mengembangkan inklusi keuangan syariah dan terus didorong realisasinya itu, lanjut dia, adalah pengembangan pesantren, desa berdikari, serta integrasi keuangan sosial dan komersial.

Sementara itu, Wakil Dekan I FEBI IAIN Pontianak, mengatakan, lembaga pendidikan memiliki peran untuk melakukan edukasi dan literasi keuangan syariah di masyarakat. Terlebih saat ini, lanjut dia, pangsa pasar keuangan syariah masih terbuka lebar, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang bermayoritas muslim, di samping market share keuangan syariah yang masih sangat kecil, bila dibandingkan dengan konvensional.

“Market share perbankan syariah saat ini stagnan di lima persen jika dibandingkan dengan konvensional. Inilah tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan keuangan syariah di tanah air,” kata dia. (sti)

Read Previous

Pakai Kantong Plastik Bekas Pisang, agar tidak Basah Kuyup

Read Next

Kreatif-Inovatif dengan Teknologi Digital

Tinggalkan Balasan

Most Popular