Belajar Matematika Dengan Model Pembelajaran Problem Posing

Oleh : Budhi Setyono, S.Pd.

Proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan merupakan suatu sistem yang menumbuhkan kemauan seorang pengajar untuk melakukan pengelolaan pengajaran secara keseluruhan. Dalam proses belajar mengajar guru menempati kedudukan sangat sentral, sebab peranannya sangat menentukan. Guru harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan isi yang terdapat dalam kurikulum, kemudian mentransformasikan isi tersebut kepada siswa melalui proses belajar mengajar.

Lepas dari hal tersebut, peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan selalu diharapkan. Oleh karena itu, cara peningkatan dan pengembangannya pun merupakan masalah bagi kita semua. Baik pemerintah, masyarakat, maupun masing-masing individu harus merasa berkewajiban menanggungnya.

Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks. Peristiwa tersebut merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia, sehingga manusia itu tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Manusia tumbuh melalui belajar. Mengajar dan belajar merupakan proses kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Proses kegiatan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa.

Dalam belajar, ilmu pengetahuan dan teknologi besar sekali peranannya untuk memajukan suatu negara. Untuk menjadi negara yang maju, maka bangsa itu harus cerdik, pandai dan banyak pengetahuannya, baik ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, matematika dan ilmu pengetahuan lain yang sifatnya keterampilan. Tanpa mengesampingkan pengetahuan yang lain, peranan matematika kiranya sangat penting dan perlu penanganan yang serius.

Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas dibandingkan dengan disiplin ilmu-ilmunya. Oleh karena itu, kegiatan belajar dan mengajar matematika diperlukan suatu metode, mengingat siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuannya.

Matematika diajarkan sejak dibangku sekolah dasar sangatlah tepat, sebab paling tidak jika seseorang belajar matematika maka orang tersebut mampu melakukan perhitungan-perhitungan sederhana, memiliki persyaratan untuk belajar ilmu-ilmu yang lain, mampu melakukan perhitungan secara mudah dan praktis serta diharapkan pula orang mempelajari matematika dapat menjadi orang yang tekun, kritis, berpikir logis, bertanggung jawab dan mampu menyelesaikan masalah.

Meski tidak semua, banyak diantara murid sekolah, terutama pada siswa SD/MI yang merupakan tingkat dasar dari seluruh pendidikan yang pasti akan dijalani anak, mengeluhkan soal pelajaran matematika. Mereka menganggap matematika sebagai pelajaran sulit. Terlebih lagi bila mereka mendapat

nilai dibawah rata-rata, yang malas hilang semangat dan yang punya niat akan lebih tekun mempelajari.

Celakanya, kalau keadaan ini terus berlanjut hingga ke jenjang pendidikan berikutnya. Sepanjang masa pendidikan, mereka menganggap matematika menjadi pelajaran paling menyeramkan. Padahal, matematika sebenarnya pelajaran mengasyikkan.

Matematika sendiri merupakan ilmu struktur, urutan (order) dan hubungan yang meliputi dasar-dasar penghitungan, pengukuran, dan penggambaran bentuk objek. Ilmu ini melibatkan logika dan kalkulasi kuantitatif serta pengembangannya telah meningkatkan derajad idealisasi dan abstraksi subjeknya.

Pada tingkatan lebih tinggi pun matematika tak perlu jadi momok. Pengajaran matematika dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan memahami dan menguasai konsep-konsep matematika serta terampilmenggunakan konsep-konsep tersebut untuk menyelesaikan suatu soal matematika. Namun dengan demikian cara berpikir manusia tidaklah sama dan cara berpikir manusia juga tidak dapat dipercepat seperti layaknya laju sebuah pesawat terbang.

Mempelajari matematika haruslah secara bertahap dan berurutan. Oleh karena itu, pemerintah telah mengaturnya disesuaikan dengan perkembangan berpikir manusia. Pengajaran matematika di sekolah dibedakan dengan pengajaran matematika di perguruan tinggi. Materinya pun diatur sedemikian rupa sehingga siswa yang mempelajari diharapkan mampu, jika mungkin melebihinya sesuai dengan tingkat perkembangan berpikirnya.

Materi matematika di sekolah mempelajari matematika yang sifatnya masih elementer tetapi merupakan konsep esensialsebagai dasar untuk prasyarat konsep yang lebih tinggi, banyak aplikasinya dalam kehidupan di masyarakat. Sedangkan matematika di perguruan tinggi adalah matematika yang mempelajari konsep-konsep di sekolah yang akhirnya matematika itu dapat berupa matematika terapan dapat juga berupa matematika murni.

Fungsi pengajaran matematika di sekolah adalah :1. Sebagai alat dalam melakukan perhitungan-perhitungan atau pertimbangan pemikiran.2. Sebagai pola berpikir, sistem dan struktur merupakan abstraksi idealisasi atau generalisasi dari sistem kehidupan dan sistem alamiah, sehingga segala kegiatan dalam kehidupan akan berkaitan dengan matematika.

Pola berpikir matematis lebih jelas, objektif dan efektif serta kontekstual jika diajarkan di sekolah.3.Sebagai ilmu pengetahuan untuk dikembangkan lebih lanjut.Penguasaan konsep dalam pengajaran matematika di sekolah walaupun sudah disesuaikan dengan perkembangan berpikir siswa namun pengajaran mata pelajaran matematika dirasakan kurang berhasil. Banyak siswa yang mengeluh tidak dapat menguasai ilmu ini.

Mereka mengeluh mengapa matematika begitu sukar tidak seperti ilmu yang lain. Seharusnya siswa tersebut merasa tertantang dengan matematika tetapi malah membencinya bahkan ada yang takut dengan ilmu ini.Ilmu matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir. Oleh karena itu, logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika. Matematika dapat dikatakan bahasa, yaitu bahasa khusus matematika yang disebut bahasa matematika atau sarana berpikir secara logis.

Keberhasilan proses belajar mengajar matematika di kelas dapat dilihat dari hasil perolehan nilai siswa pada mata pelajaran matematika yang sesuai dengan standar sekolah. Apabila nilai yang diperoleh siswa tidak sesuai atau kurang dari standar maka dikatakan proses belajar mengajar kurang berhasil.

Berkaitan dengan keadaan tersebut, salah satu solusinya adalah dengan penerapan model pembelajaran problem posing. Problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris sebagai padanan katanya digunakan istilah “pembentukan soal atau pengajuan masalah”. Model pembelajaran ini bersifat pengajuan masalah, jadi diharapkan siswa dapat mengajukan masalah sekaligus dituntut untuk mencari solusi dari masalah itu sendiri.

Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai berikut :

1.Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk memperjelas konsep sangat disarankan.

2.Guru memberikan latihan soal secukupnya.

3.Siswa diminta mengajukan satu atau duabuah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara berkelompok.

4.Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.

5.Guru memberikan tugas rumah secara individual.Problem posing diaplikasikan dalam tiga bentuk aktivitas kognitif matematika sebagai berikut:

1.Pre solution posing, yaitu jika seorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan. Guru memberikan suatu pernyataan, siswa diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan tersebut.

2.Within solution posing, yaitu jika seorang siswa mampu merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya.  Jadi, diharapkan siswa mampu membuat sub-sub pertanyaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada pada soal yang bersangkutan.

3.Post solution posing, yaitu jika seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru dan sejenis.

Berdasarkan hasil dari suatu penelitian diperoleh simpulan bahwa aktivitas belajar siswa yang cukup tinggi dan didukung dengan penggunaan model pembelajaran problem posing telah membuktikan bahwa prestasi belajar siswa dapat meningkat.**

*) Penulis adalah Guru Olimpiade Matematika SMPN 1 Sungai Raya –Kubu Raya

loading...