Belajarlah dari Nabi Ibrahim dan Keluarganya

opini pontianak post

Oleh : Heriansyah, S.Pd.I

HariRaya Iduladha atau hari raya kurban tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim dan hikmah atas perintah berkurban. Perjalanan hidupnya yang begitu mengagumkan. Nabi Ibrahim sudah memberikan contoh yang baik bagaimana menjadi seorang hamba maupun ayah yang baik. Nabi Ibrahim mencontohkan betapa Allah menjadi tempat pengabdian yang sebenarnya.

Oleh karena itu, sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW, kita patut mencontohkan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan apa yang disunnahkan oleh Rasulullah. Diantara hal yang penting untuk kita ambil hikmah dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keturunannya ada 2 point besar. Di tengah-tengah New Normal, kiranya bisa menerapkan kedua point besar ini dalam rangkat memutus mata rantai penularan Covid-19.

Pertama, melaksanakan Doa. Banyak doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Alquran. Boleh jadi ini cara Allah mengajar kita berdoa pada-Nya. Karena Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat gigih dalam berdoa. Bahkan, disebutkan berpuluh-puluh tahun berliau berdoa, “Ya Tuhanku, anugrahkan kepadaku keturunan yang saleh.” (Q.S assafat ayat 100).

Pada sebuah ceramah Ustadz Abdul Somad menyebutkan kurang lebih 86 tahun Nabi Ibrahim berdoa (robbi habli minashsholihin), barulah Allah kabulkan dengan hadirnya Nabi Ismail. Doa ini makbulnya tidak hanya sampai dengan hadirnya nabi Ismail kecil saja, melainkan berlanjut ke Nabi Muhammad SAW. Ini artinya sekalipun ia seorang Nabi, doa tetap menjadi senjata utamanya yang tidak pernah ialepaskan.

Kira-kira adakah kita baik untuk diri sendiri dan anak keturunan tiap waktu melantunkan doa untuk kebaikan anak? Oleh karena itu, kita yang hanya manusia biasa tentu doa menjadi bekal dan senjata utama kita, terlepas kita berbekal dengan keimanan dan ketakwaan yang luar biasa. Karena memang Allah berfirman dalam Alquran surah Al Gaafir/ Al Mumin ayat 60 yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” Itu artinya kita perlu berdoa dan memantapkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dalam riwayat disebutkan yang artinya, “Berdoalah kepada Allah dan kalian meyakini akan dikabulkan. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa hambanya yang hatinya lengah dan lalai.”(HR at Tirmidzi).

Berdoa menjadi penting bagi orang yang beriman, disamping senjata orang beriman, penolak bala’ dan pengubah takdir serta ruhnya ibadah. Hal ini juga mempertegas posisi Allah sebagai sang Khalik dan manusia sebagai hamba. Maka, berdoa tentu dilaksanakan seperti yang dituntun nabi Muhammad SAW. Tidak kalah penting adalah hati yang senantiasa ingat kepada Allah.

Ada kisah menarik, tentang gambaran hebatnya sebuah doa. Suatu ketika seorang kyai berceramah di depan orang banyak. Saking hebatnya ceramah itu membuat para jamaah menangis karena merasa begitu banyak dosa yang telah ia lakukan. Ternyata di jamaah itu, ada santrinya yang menyimak dan merekam semua yang kyai itu ucapkan. Suatu hari sang murid mempraktikkan ceramah yang disampaikan oleh kyainya tanpa mengurangi kalimat dan intonasi sang kyai sedikit pun. Artinya ia meniru persis apa yang kyainya sampaikan. Anehnya, tidak satu pun jemaah yang menangis mendengar ceramahnya itu, padahal di jemaah yang berbeda. Lalu murid pun bertanya ke kyai. “Wahai kyai, kenapa saat saya berceramah dengan judul yang sama persis yang engkau sampaikan saat itu di depan jemaah yang berbeda, tidak ada satupun dari jamaah yang menangis?”

Lalu kyai tersenyum dan menjawab, “Sesungguhnya sebelum aku menyampaikan ceramahku, di malam harinya aku berdoa dan menangis di hadapan Allah SWT, agar yang aku sampaikan membuat perubahan bagi diriku dan yang mendengarnya.”

Kondisi New Normal ini, disamping menuntut perubahan gaya hidup, juga dianjurkan oleh para ulama untuk perbanyak berdoa untuk terhindar dari  segala bala’. Karena orang beriman meyakini akan kekuatan doa. Jangankan doa dari bahaya, segala aktivitas kebaikan pun Islam sudah menuntun masing-masing dengan doa yang berbeda bahkan dari mulai ingin tidur dan bangun tidur.

Mungkin, kita sebagai orang tua belum serius dalam berdoa untuk kebaikan keturunan kita. Akan tetapi, melalui Hari Raya Iduladha ini, kita diingatkan kembali dan dimotivasi lagi agar berdoa maksimal untuk kebaikan generasi-generasi setelah kita. Karena sesungguhnya orang yang sukses itu adalah orang yang berhasil mendidik generasi setelahnya menjadi yang terbaik.

Kedua, usaha. Kita lihat bagaimana kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil. Di tengah lembah tandus tanpa tanaman itulah Siti Hajar dan Nabi Ismail berada. Seorang wanita dan bayi tidak berdaya membutuhkan air. Apakah Allah langsungmenurunkan air kepada mereka ? Tidak.

Siti Hajar bukan wanita lemah. Ia perempuan yang tegar. Beliau tidak mengeluh kepada Allah SWT dengan hanya mengangkat tangan dan berdoa tanpa usaha. Siti Hajar tidak pula menghujat dan mencela di mana air berada? Namun, Siti Hajar berusaha dengan berjalan kaki dari bukit Shafa menuju Bukit Marwa sebanyak tujuh kali. Tumit perempuan yang lemah itu menginjak pasir gurun panas di bawah terik matahari.

Setelah ia lelah dan tetap tidak mendapatkan air, ia kembali ke tempat Nabi Ismail berbaring. Ternyata, air tidak ditemukan di tempat yang dicari. Tetapi,  air datang dari tumit Ismail yang belum pandai melangkah. Inilah teladan penting arti sebuah usaha maksimal.

Dari kisah usaha ini, kita diingatkan, bahwa tiap diri harus berusaha untuk menjadi yang lebih baik, yakni dengan cara baik pula. Berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaannya, memperdalam ilmu agama, dan berusaha mencari rezeki yang halal lagi baik. Boleh jadi, yang Allah memberikan lebih dari usaha kita. Karena Allah melihat kesungguhan, niat dan ketulusan hati ketika berusaha.

Bahkan, ditengah wabah seperti ini, tentu kita dituntut berusaha keras dalam menjaga kebersihan, sekalipun dalam pekerjaan, tentu tidak lain guna memutus mata rantai penyebaran penyakit yang mencemaskan ini.

Semoga kita menjadi pribadi hebat. Bisa belajar dari Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba yang sukses dan ayah yang sukses pula, dengan melahirkan generasi terbaik lagi. Tidak hanya mengandalkan doa, tetapi juga usaha. Doa yang tidak disertai usaha maka boleh jadi hanya omong kosong belaka. Demikian usaha yang tidak diikuti dengan doa, takutnya masuk katagori orang yang sombong. Wallahu’alam bishshawab.**

Penulis adalah Tenaga Kontrak IAIN Pontianak.

loading...