Belanja Lewat Jastip

jastip

Jasa titipan (jastip) merupakan salah satu opsi bagi kaum hawa yang gemar membeli barang berkualitas dengan harga miring. Harga dianggap lebih murah. Barang yang diperoleh sesuai keinginan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri/jpc

Belanja via jastip kian diminati. Sebab, selisih harga yang ‘lumayan’ dan tanpa harus menguras kantong dalam. Salah satunya Aurellia Anarcha. Perempuan yang berprofesi sebagai make up artist (MuA) ini memilih belanja via jastip karena bisa memiliki beberapa produk yang diinginkan.

“Khususnya yang tidak ada di Pontianak dan Indonesia. Mulai dari make up, skincare, obat-obatan, hingga yang berkaitan dengan fashion style seperti baju dan aksesories,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Aura ini cukup sering berbelanja lewat jastip. Jika sudah dihitung sudah lebih dari 10 kali dirinya menggunakan jasa ini. Biasanya dia berbelanja melalui akun jastip yang ada di akun Instagram maupun E-Commerce lainnya, seperti Shopee. Mahasiswi Fakultas Hukum Untan ini menuturkan keuntungan membeli jastip adalah harga jauh lebih murah.

“Selain harga jauh lebih murah jika dibandingkan beli di Indonesia, aksesories dan barang lainnya juga tidak pasaran,” tutur Aura.

Hingga kini Aura belum pernah memiliki pengalaman buruk berbelanja dengan cara jastip. Perempuan berkulit putih ini mengaku seluruh barang belanjaan yang datang sesuai dengan keinginannya. Kekurangannya, waktu menerima barang cukup lama dan ada beberapa jastip yang mematok tarif cukup mahal. Jika sudah begitu, Aura akan mulai mencari jastip lainnya.

Tetapi, jika barang yang diperlukan hanya di situ dan ingin menggunakan cepat, mau tidak mau berdamai dengan tarif yang ada. Agar tidak mudah atau takut tertipu, Aura menyarankan sebelum memilih jastip sebaiknya searching apa yang akan dibeli terlebih dahulu. Kemudian, mencari tahu akun jastip dan jangan lupa melihat rekomendasi dan testimoni yang diberikan untuk jastip tersebut.

Meski baru berjalan selama satu bulan, pelaku bisnis jasa titipan (jastip) di media sosial, @saladmertua asal Pontianak ini cukup berbangga dengan antusias masyarakat yang menggunakan jasanya. Awalnya, pemilik akun, Nurul Riezky Octavia hanya aji mumpung karena melihat banyaknya pengikut (follower) akun saladnya.

Ketika mengunjungi pusat perbelanjaan dan membeli beberapa barang yang biasa dikenakannya, perempuan yang lebih dikenal dengan sebutan Mamak Salad ini mencoba mengunggah foto belanjaannya. Tidak disangka pengikut Instagram langsung mengomentari dan memesan dengan jumlah yang cukup banyak.

Ibu satu anak ini mengaku lebih senang membeli barang berupa sandal, masker, sampo, dan eyeliner dibandingkan membeli makanan, khususnya kue. Mak Salad ini mengaku jastip kue terasa lebih ribet, dibandingkan membeli barang lainnya. Barang-barang ini termasuk perintilan kecil dan ringan sehingga tidak berat dibawa dan memakan banyak tempat saat dibawa.

Mak Salad mengaku keuntungan yang didapatkan berbeda-beda. Untuk masker tentunya tidak banyak, karena ada yang modal Rp10 ribu, Rp15 ribu, dan Rp25 ribu. Kebanyakan keuntungan yang diambil rata-rata hanya berkisar sebesar 5ribu. Kalau sandal lain lagi.

“Intinya, keuntungan yang diambil tidak terlalu banyak. Total barang yang dibelanjakan beragam, untuk sendal sekitar 120 pasang, masker 200 buah, sampo 50 buah, dan eyeliner 40 buah,” katanya.

Mak Salad tidak akan membelikan orang yang tidak mengirim uang (transfer) terlebih dulu. Pengikut akunnya tidak perlu takut tidak kebagian. Terkadang Mak Salad juga membeli barang jastip yang diunggah di Instagram berlebih. Terkadang dirinya juga menjual barang pesanan yang sudah dijagakan (keep), tapi tidak diambil.

“Jadi,saya memberikan waktu dua hari. Jika tidak datang mengambil, barang langsung saya jual,” ujar Mak Salad.

Pakar Perencana Keuangan dari Universitas Indonesia (UI), Zaafri Husodo mengungkapkan sebetulnya fenomena bisnis jastip sudah lama dikenal di masyarakat. Awalnya muncul karena keisengan individu untuk membelikan beberapa barang titipan teman-temannya. Kebetulan misalnya sedang pergi ke luar negeri negara tertentu, maka individu itu membelikan barang sesuai permintaan teman-temannya.

“Bisnis jastip sudah cukup lama ya. 5 tahun terakhir sudah dikenal. Dan mulai banyak 2-3 tahun belakangan, seiring banyaknya di media sosial,” kata Zaafri.

Zaafri menambahkan prosesnya dulu lebih sederhana. Masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri melayani dan membantu teman-teman untuk membelikan barang titipan. Atau, niat awalnya berkembang dari membantu para ekspatriat yang tinggal di Indonesia.

“Misalnya dulu membantu para ekspat di Indonesia yang butuh barang tetapi enggak bisa dikirimkan. Maka melalui jastip bisa. Dulu sih lewat website ya, dan dalam 2-3 tahun terakhir barulah menjamur lewat media sosial,” katanya.

Ternyata bisnis jastip bisa menguntungkan tak hanya bagi pelaku bisnis maupun pembeli. Menurut Zaafri, ketika seseorang membeli barang-barang luar negeri di situs penyedia seperti Amazon misalnya, belum termasuk pajak dan ongkos kirim. Maka ketika sampai ke tangan pembeli bisa lebih mahal hampir 2 kali lipat.

“Akan lebih hemat cost pakai jastip. Misalnya kalau beli di Amazon barang 100 dolar, sampai ke tangan konsumen bisa Rp 180 dolar. Kalau pakai jastip bisa menghemat 30 dolar misalnya,” ujar Zaafri.
Dia menambahkan biaya atau keuntungan yang bisa diperoleh pelaku jastip rata-rata bisa mencapai 20-25 persen. Itu sudah di luar ongkos kirim dan servis. **

Read Previous

Ahsan/Hendra Mundur Dari Korea Open

Read Next

Dekranasda Kota Latih 20 Pengrajin Sulam Kalengkang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *