Bentuk Organisasi Pemuda Peduli Lingkungan Tingkat Asia Pasifik

FITHRIYYAH FOUNDER & PROJECT LEADER ASIA PACIFIC CLIMATE PROJECT

NAMA Fithriyyah tak asing lagi. Pernah menjabat sebagai Initiator and President Seangle Indonesia Chapter Pontianak 2019-2020, yakni komunitas yang berfokus pada isu sampah lautan dan manajemen sampah. Kini, ia membuat gebrakan baru. Bersama empat pemuda lainnya dari negara Myanmar, Bangladesh dan Fiji, Fithriyyah membentuk organisasi Asia Pasific Climate Project (APCP), organisasi pemuda peduli lingkungan tingkat Asia Pasifik.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Fithriyyah sudah lama mencintai lingkungan. Sejak tahun 2015, ia mulai aktif dan berpartisipasi dalam komunitas-komunitas lingkungan lokal di Pontianak. Keseriusan Fithriyyah menjaga dan mencintai lingkungan membuatnya mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia di beberapa forum internasional.

Hingga akhirnya Fithriyyah bertemu dengan anak-anak muda internasional yang mempunyai kesamaan minat. Dari situlah timbul ide membuat gerakan bersama. Ia sempat bertindak sebagai Initiator and President Seangle Indonesia Chapter Pontianak 2019-2020, yakni komunitas yang berfokus pada isu sampah lautan dan manajemen sampah.

Pada Agustus 2020 Fithriyyah bersama empat pemuda lainnya dari Negara Myanmar, Bangladesh dan Fiji membentuk organisasi Asia Pasific Climate Project (APCP).

“APCP sendiri merupakan organisasi pemuda peduli lingkungan tingkat Asia Pasifik,” kata Fitriyyah.

Fithriyyah sendiri bertindak sebagai founder dan project leader. Berbicara mengenai Lingkungan aktivitas kerja, APCP berbasis SDG, dengan fokus utamanya SDG 13 tentang Climate Action. Di samping itu APCP juga fokus ke SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land). Tapi, tak menutup kemungkinan untuk kolaborasi SDG di luar itu asalkan tetap terkait lingkungan.

“Sasarannya pemuda di regional Asia Pasifik,” ucapnya.

Sejak kurang lebih lima bulan terbentuk, APCP sudah memiliki 15 member dan lima Founder, serta Co founder dari delapan negara di Asia Pasifik.

Mengenai program kerja, saat ini APCP masih berbasis aktivitas virtual seperti edukasi dan kampanye. Fithriyyah dan rekannya sudah menyiapkan beberapa program yang akan dihadirkan (launching) bulan depan, yakni Youth Green Space, Live Session, dan Webinar. Program live session seperti halnya live di laman Instagram, YouTube dan di Facebook. Seperti diskusi terbuka di media sosial.

Youth Green Space seperti halnya forum diskusi khusus membahas tentang isu lingkungan dan output yang didapatkan adalah rekomendasi atau janji bersama terkait isu lingkungan yang dibahas.

Serta, webinar seperti dimana ada pembicara, moderator dan banyak audiens. Speaker yang dihadirkan bermacam-macam asalnya, yang pasti anak-anak muda yang sudah tergabung di organisasi lingkungan Asia Pasifik.

“Kemarin sempat ada dari Fiji, Indonesia, Thailand dan Myanmar,” ungkap Fithriyyah.

Perempuan yang pernah menjadi Delegate ASEAN Youth Forum 2019, Malaysia ini menuturkan tujuan APCP sendiri menyediakan platform bagi pemuda di Asia Pasifik yang ingin menyalurkan suara, pemikiran, serta keresahan tentang lingkungan ke masyarakat luas dan instansi terkait di regional Asia Pasifik seperti PBB.

Fithriyyah dan rekan lainnya sepakat menonjolkan tentang keterlibatan pemuda dalam perubahan iklim. Jadi, bergeraknya memang selain kampanye dan edukasi, APCP juga secara tidak langsung bergerak untuk memengaruhi kebijakan lingkungan di Asia Pasifik, tentunya melalui organisasi-organisasi besar seperti UNESCAP, atau di pemerintah lokal di setiap negara.

Seperti halnya member asal Fiji, kebetulan yang bersangkutan memiliki koneksi ke pemerintah pusat di sana. Sehingga, mudah untuk membawa misi APCP, karena pemerintah disana juga mendukung setiap kegiatan pemuda tentang lingkungan.

APCP juga didukung oleh Youth Voice for Climate Action (YV4CA), sebuah gerakan kampanye di bawah United Nation on Social Economic Commision in Asia-Pacific (UNESCAP).

“Jadi, APCP ada akses untuk menyalurkan aspirasi,” jelas perempuan yang pernah menjadi Project Coordinator SEAYouth Festival 2020 by ASEAN Youth Forum.

Project ini juga mendapatkan dukungan dari Environment, Health and Safety (EHS) Myanmar, We Can Bangladesh, dan Youth for Climate Project (Y4CAP).

Berbicara tentang efektivitas, Fithriyyah mengaku sulit untuk diukur, karena bentuk partisipasi pemuda saat ini yang diikutkan dalam forum-forum kebijakan internasional masih bersifat rekomendasi atau saran, ada yang dapat dieksekusi, ada yang tidak.

Fithriyyah mengaku atas nama APCP juga belum sampai diundang dalam forum perumusan kebijakan, hanya diundang sebagai partisipan di forum Konsultasi Kebijakan Republic of Korea (ROK) 2020, untuk menyampaikan apa yang pemuda dapat lakukan untuk mendukung Green Recovery pasca pandemi Covid-19.

Namun, Fithriyyah yakin partisipasi seperti ini yang sebenarnya penting, dan forum-forum seperti itu saat ini memang sudah mulai memasukkan pemuda sebagai salah satu pembicara di dalam forum tersebut.

Tentu saja mengampanyekan untuk mencintai dan menjaga lingkungan tidak mudah. Fithriyyah juga merasakan hal itu. Menurutnya, anak muda seusianya biasanya cenderung kurang didengar oleh petinggi negara. Di sinilah, ia mencoba untuk membuat ‘keributan’ positif tentunya, agar suaranya dan organisasi ini bisa didengar. Selain itu memang tetap meningkatkan kesadaran masyarakat yang jadi tantangan utama.

Tapi, karena APCP geraknya kolektif, tidak hanya di satu negara, diharapkan dari teman-teman negara lain bisa jadi agen edukator yang memengaruhi circle terdekatnya dulu, agar impact bisa lebih luas jika dihitung dari skala partisipasi beberapa negara.

Di samping itu, tantangan yang dihadapi Fithriyyah saat ini juga bagaimana ia dan rekannya membuat acara virtual yang menarik agar diikuti orang. Karena saat ini memang lagi tren kegiatan virtual, ini yang jadi kekuatan APCP buat engaged dengan audiens.

“Justru lebih enak untuk mengadakan aktivitas online daripada offline,” jelas Fitriyyah.

Ke depannya, APCP berkeinginan membuat local activity di beberapa negara, yaitu kegiatan offline yang akan dilakukan oleh anggota.

“Masih dalam tahap rencana, karena kita juga belum ada funding dan masih mencari,” ujar Fithriyyah yang pernah menjadi Country Director of Indonesia Southeast Asia Young Peacebuilders Organization 2020 ini.

Akan tetapi, untuk sekarang ini opsional dari APCP pusat hanya bisa mendukung hal-hal di luar finansial apabila ada anggota yang mau melakukan local activity saat ini.

Fithriyyah berharap APCP bisa menjadi salah satu platform besar bagi pemuda di Asia Pasifik dan bisa diakui oleh institusi- institusi resmi di bawah naungan UNESCAP dan mendapat dukungan penuh.

Sehingga, APCP dapat menyalurkan aspirasi pemuda lebih baik dan lebih luas hingga memengaruhi kebijakan lingkungan tingkat regional. Di sisi lain, Fithriyyah juga memiliki impian agar audiens organisasi ini bisa seluas mungkin. Untuk itulah, ia dan rekannya mengusahakan ada perwakilan di setiap area, perwakilan Asia dan perwakilan Pasifik. Kedepannya akan lebih ditargetkan untuk area Pasifik. Hal ini dikarenakan regional Asia udah banyak perwakilannya (meskipun rata-rata datang dari negara ASEAN).**

error: Content is protected !!