Berada di Lingkungan Rekan Kerja Toxic

KEBERADAAN rekan kerja toxic menyebabkan suasana kerja menjadi tidak kondusif. Namun, kalau tidak sabar dalam menghadapi rekan kerja yang toxic, Anda akan menjadi semakin tidak nyaman dalam bekerja.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Menghadapi rekan kerja toxic atau toxic worker sempat dialami oleh Riana. Pegawai administrasi di salah satu kantor swasta ini mengaku rekan kerjanya kerap bergunjing atau menggosip.

Awalnya, ia tidak mempermasalahkan kebiasaan salah satu rekan kerjanya tersebut, tapi semakin lama Riana semakin tidak nyaman dengan perilaku rekan kerja toxic di lingkungannya.

Terkadang jika ada satu rekan yang kebetulan sedang tidak berada di kantor, rekan kerja toxic langsung mengajak rekan lain bergunjing. Contohnya, itu si A, kerjaan belum selesai tetap santai makan siang di luar.

Besoknya, rekan kerja toxic ini mengajak si A membicarakan rekan kerja yang lain. Dari situ Riana mulai berpikir bisa saja jika ia menjadi sasaran ketika sedang tidak berada di kantor.

Rekan kerja toxic ini juga selalu melimpahkan tugas kepada rekan lain. Jika tidak sesuai keinginan, ia akan memarahi rekan tersebut. Hingga akhirnya, yang bersangkutan mengerjakan sesuai dengan keinginannya.

“Lama-lama lelah juga menghadapi situasi ini. Salah satu rekan saya bahkan sempat berniat mengundurkan diri karena tidak tahan,” timpal Anna, biasa ia disapa.

Tentu saja, kehadiran rekan kerja toxic dalam suatu perusahaan cukup mengganggu kinerja orang di sekitarnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan melemahkan kinerja dan produktivitas rekan kerjanya.

Psikolog Yulia Ekawati Tasbita, S.Psi mengatakan rekan kerja toxic atau toxic worker pasti akan ditemui di setiap kantor. Biasanya sosok rekan kerja toxic ini akan mengajak rekan lain melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan di kantor.

“Misalnya, membicarakan orang lain atau hal-hal yang tidak baik saat bekerja,” katanya.

Alasan rekan kerja toxic melakukan hal tersebut bisa saja karena membutuhkan perhatian dan teman yang sepemikiran dengannya. Sosok rekan kerja toxic ini cenderung tidak fokus dan tidak pernah beres menyelesaikan pekerjaannya.

Tapi, bisa juga perilaku ini disebabkan karena rekan kerja toxic mempunyai masalah psikologis pada dirinya, misalnya persoalan pribadi, keluarga dan lainnya yang tidak terselesaikan.

Yulia yang juga merupakan psikolog di Biro Psikologi Persona Consulting Pontianak ini menuturkan toxic yang dilakukan ini erat kaitannya dengan persoalan perilaku.

Toxic people adalah orang yang ‘beracun’, dimana perilakunya memang suka menyusahkan dan merugikan orang lain secara fisik dan emosional,” kata Yulia.

Tentu saja kehadiran rekan kerja toxic ini menganggu proses kerja yang rekan lainnya lakukan. Rekan lain menjadi tidak fokus dan secara emosi juga terganggu. Selain itu, dapat menggangu perasaan (mood) rekan lain saat bekerja.

Karena rekan kerja toxic ini menghabiskan waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Yulia menambahkan secara tidak langsung, perilaku toxic yang ada di lingkungan kerja ini juga dapat merubah cara berpikir rekan lainnya menjadi negatif.

Psikologis diri rekan lain juga bisa sangat terganggu, jika ia bertemu dan berada dalam satu tempat dengan rekan kerja toxic ini setiap hari. Diri juga bisa terpengaruh dengan perilakunya.

“Tidak menutup kemungkinan kedepannya perilaku rekan kerja mungkin akan sama dengan rekan kerja toxic,” tutup Yulia.**

error: Content is protected !!