Cerita Erwin Sibarani Rawat 12 ODGJ di Rumahnya
Berawal dari Trauma, Sudah Dilakoni Selama 18 Tahun

DIRAWAT SEPERTI KELUARGA: Erwin (tengah) bersama para ODGJ yang dirawat di rumahnya, Jalan Kutisari Barat V/28, Surabaya. (Lugas Wicaksono/Jawa Pos)

Dua kali dipukul orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sempat membuat Erwin trauma. Namun ketika melihat mereka telantar dan tak terawat, dia pun iba. Dibantu gereja, dia membawa pulang ODGJ untuk dirawat di rumahnya. Kini, 18 tahun sudah Erwin melakoni kebaikan tersebut.

LUGAS WICAKSONO, Surabaya

KARENA sudah belasan tahun tinggal bersama para ODGJ di rumahnya, Jalan Kutisari Barat V/28, Erwin tak lagi merasa takut atau jijik. Bagi pria 38 tahun itu, ODGJ sama dengan manusia pada umumnya. Bedanya hanya mereka memiliki gangguan jiwa, manusia lain jiwanya belum terganggu.

’’Mereka tetap manusia dan mereka tetap mengerti ketika diajak berkomunikasi. Kami merawatnya dengan prinsip kekeluargaan. Sama seperti saudara sendiri. Tidak ada dikerangkeng,’’ ujar Erwin.

Pria yang berprofesi advokat itu menaruh perhatian pada ODGJ setelah dirinya pernah dua kali dipukul oleh mereka.

Pertama di kampung halamannya di Medan dan kedua ketika sudah merantau di Surabaya. Meski sempat trauma, dia ingin menolong mereka. Niatnya untuk merawat ODGJ mulai tumbuh pada 2012. Ketika itu, dia melihat seorang ODGJ telantar di depan sekolahnya. Erwin ingin merawatnya di sekolah asrama tersebut, tetapi belum diizinkan.

Sebab, sekolah itu digunakan untuk belajar, bukan untuk ODGJ. Dia lantas membawa orang bernama Joshua itu ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang. Karena dianggap berpengalaman, bapak dua anak tersebut lantas dipercaya Gereja Jemaat Kristen Indonesia (JKI) Bukit Zion Surabaya untuk merawat ODGJ.

Erwin mulai mencari ODGJ yang telantar di jalan. Setelah ketemu, mereka tidak langsung diajak pulang. Erwin mengamati hingga beberapa kali untuk memastikan orang tersebut tidak dijemput keluarganya. Setelah dipastikan benar-benar telantar, orang itu dibawa ke rumahnya untuk dirawat.

Tentu saja tidak mudah ketika pertama merawat ODGJ. ’’Mereka berontak. Mereka takut sama kita sama seperti kita takut sama mereka. Kami mandikan. Adaptasi sebulan. Berak sembarangan dan jorok. Istri awalnya tidak terima,’’ katanya. Perlahan keluarganya menerima kehadiran ODGJ di rumahnya. Kedua anaknya yang masih kecil juga tumbuh bersama mereka.

Bagi Erwin, merawat ODGJ bukan untuk mencari sensasi. Melainkan panggilan hati. ’’Mereka ini butuh ditolong. Gereja mendukung penuh. Yang biayai gereja,’’ ucapnya. Kini ada 12 ODGJ yang tinggal di rumah Gadara, tempat Erwin tinggal. Beberapa orang telah sembuh. Lima orang sudah dijemput keluarganya. Sebagian lain yang tidak diketahui asal-usul keluarganya tetap tinggal. Beberapa juga dipekerjakan di kantor advokatnya. ’’Kalau keluarga mereka mau terima, kami akan kembalikan,’’ tuturnya.

Rutinitas mereka sehari-hari dimulai dari berdoa di pagi hari. Dilanjutkan berolahraga. Mereka lantas beraktivitas sesuai kesenangannya. Ada yang melukis hingga berladang yang tidak jauh dari rumah. Mereka menanam sayur-sayuran. Mereka juga kerja bakti membersihkan lingkungan kampung dan merawat ODGJ lain di lingkungan pondok sosial (liponsos). ’’Kalau ada sedikit rezeki, kami ajak jalan-jalan ke mal beli baju. Refreshing di Batu,’’ katanya.

Hanya, yang menjadi masalah adalah sebagian dari mereka tidak memiliki identitas. Kartu tanda penduduk (KTP) tidak punya. Kondisi itu menyulitkan mereka untuk mendapatkan fasilitas dari negara seperti warga negara lainnya. Ketika pandemi seperti ini, hanya empat orang yang sudah divaksin. Empat orang itu memiliki KTP. Sedangkan yang lain tidak.

”Identitas penduduk sama sekali tidak ada. Puskesmas datang ke sini, hanya yang punya identitas yang bisa divaksin. Ini yang jadi problem. Mereka juga sama seperti kita, rentan terhadap penyakit,’’ ungkapnya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!