Berdamai dengan Suicidal Thoughts

zetizen

IT’S okay to be sad, kalimat yang cukup bisa menenangkan ketika kesedihan melanda. Entah itu karena masalah di sekolah, tidak sepaham dengan orang tua, punya teman yang tidak supportive atau bahkan cekcok sama doi, hal-hal kayak gitu bakal berpotensi mengganggu produktivitas. Parahnya lagi, bisa menimbulkan suicidal thoughts yang berarti suatu keinginan mengakhiri hidup atau bunuh diri. Seperti pada kabar duka yang sempat mengguncang dunia beberapa waktu lalu, datang dari Sulli mantan anggota girlband f(x) yang ditemukan tak bernyawa di kediamannya. Setelah diusut, Sulli dipastikan telah melakukan aksi bunuh diri.

Menurut Verty Sari Pusparini, M.Psi, suicidal thoughts terbagi dalam dua macam yaitu ide pasif, adanya keinginan untuk mengakhiri hidup tapi nggak ada rencana atau upaya yang dilakukan dan ide aktif yang meliputi adanya komitmen atau rencana yang dilakukan. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa hal itu banyak terjadi pada usia 15 tahun ke atas. Sedangkan penelitian di Amerika Serikat menyatakan usia 18 – 25 tahun yang rentan, kisaran usia remaja sampai dewasa awal ya, guys.

“Rentan di usia remaja karena individu dihadapkan dengan banyak gejolak. Suicidal thoughts ini sebagai salah satu simptom atau gejala dari gangguan depresi, bipolar disorder dan bisa muncul pada individu dengan atau tanpa mental illness sekalipun. Berarti bisa muncul pada siapapun dalam berbagai kondisi mental. Namun kemunculannya lebih besar pada individu dengan gangguan mental,” ujar psikolog yang bertugas di Sekolah Pelita Cemerlang ini.

Suicidal thoughts hadir karena beberapa faktor, lebih sering muncul pada individu yang merasa putus asa, kesulitan mengontrol diri atau situasi hidup dan kehilangan tujuan hidup. Beberapa situasi seperti adanya masalah dalam hubungan, trauma, penyalahgunaan obat-obatan, tekanan pekerjaan, masalah kesehatan atau finansial menjadi faktor langganan.

“Hal ini muncul pada indivu dengan beberapa faktor risiko seperti ada riwayat ingin bunuh diri sebelumnya, ada anggota keluarga yang meninggal bunuh diri, memiliki gangguan mental, merasa hopeless atau lonely, disorientasi seksual, memiliki gangguan kesehatan, cedera otak, trauma masa kecil, korban bullying atau lingkungan yang bermasalah,” tambah Bu Verty.

Sobat Z bisa, loh, mengidentifikasi orang-orang terdekat yang memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Ciri-cirinya seperti ia mulai mengisolasi diri dari hubungan sosial, merasa putus asa, berbicara mengenai kematian atau keinginan untuk mengakhiri hidup, penyalahgunaan obat-obatan, adanya perubahan mood atau emosi yg drastis, bermasalah dengan seksual, cemas berlebihan dan perilaku seakan-akan ingin berpisah atau pergi. Tapi tetap berpatokan pada arahan profesional, ya.

Pesan Bu Verty, jika menemukan seseorang dengan suicidal thoughts ini Sobat Z bisa membantu dengan cara menunjukkan empati, jangan menyepelekan atau menjadikannya bahan bercandaan, coba untuk mendengar keluhan dan cerita mereka, pelan-pelan arahkan untuk meminta bantuan profesional, sampaikan pula kepada orang terdekat yang care dengan mereka, tetap awasi lingkungan seperti jauhi dari benda berbahaya dan selalu menemani agar dia tidak sendirian.

Treatment bagi individu dengan suicidal thoughts meliputi pemeriksaan dokter atau psikolog. Adapun penanganan yang dilakukan bagi korban meliputi psikoedukasi, psikoterapi, family therapy, merubah gaya hidup, dan jika diperlukan akan mendapatkan obat-obatan,” tutup Bu Verty. (mya)

Read Previous

Milenial Bertani, Mengapa Tidak

Read Next

Bupati: Pemuda Tak Boleh Cengeng

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *